DAFTAR ISI

Editorial

Surat Pembaca

Dari Kami

Bahasan Utama

Dunia Tumbuhan

Seri Keruntuhan Evolusi

Iptek Anak

Tafakur

Kisah Al Qur'an

Keajaiban di Alam

Editorial
Air Selokan Rasa Es Krim

Di mana pun kita berada, di dalam rumah, di lapangan, di dalam mobil atau di tepi pantai, aroma dan rasa buah pisang ranum nan manis tidak pernah berubah: harum, sedap dan manis. Aroma ini pun tidak berbeda ketika kita berada di kota mana pun di Indonesia, bahkan di negara dan belaham bumi mana pun jua. Hal yang biasa, benarkah demikian?

Sekarang coba pikirkan, seandainya buah pisang ini hanya beraroma dan berasa pisang ketika berada di kebun pisang, apa yang bakal terjadi? Bayangkan jika saja ketajaman aroma buah pisang sebanding dengan jarak dari pohon induknya. Dengan kata lain, seandainya aroma dan rasa manis buah pisang yang baru dipetik akan semakin berkurang jika semakin dijauhkan dari pohon induknya? Yang jelas sebagian besar manusia tidak akan menikmati kelezatan buah pisang. Apalagi orang-orang yang berada di negara-negara sub-tropis, di mana pohon pisang tidak dapat tumbuh. Demikian pula dengan buah-buahan lainnya.

Ini baru berkurangnya aroma dan rasa, bagaimana jika tiba-tiba saja, entah karena peristiwa alam tertentu, semua ribuan aneka rasa dan aroma hilang sama sekali dalam kehidupan kita. Apa yang akan terjadi? Atau, jika secara mendadak beragam rasa dan bau saling bertukar satu sama lain, akankah hidup Anda senikmat sekarang? Misalnya, rasa buah jeruk berubah menjadi rasa sop ayam; air selokan kotor berganti rasa dan aroma selezat es krim rasa coklat; air minum yang biasanya tawar berubah sehingga berasa asam cuka; bau badan manusia, yang telah maupun yang belum mandi, berubah menjadi sesemerbak bau ikan amis; dan sebagainya. Yang pasti, semua ini akan memunculkan masalah besar dalam kehidupan kita; kita tidak akan menikmati hidup ini.

Dengan berpikir sebagaimana di atas, kini jelaslah bahwa aroma dan rasa bukanlah persoalan sederhana. Karenanya, tidak sepatutnya kita hanya memandang sebelah mata terhadap masalah ini tanpa sedikit pun keinginan untuk merenungkannya. Yang jelas, tak seorang manusia pun pernah mengaku sebagai pihak yang telah memunculkan aneka rasa dan aroma di dunia ini. Tak satu pun manusia yang mampu menciptakan indera perasa dan pembau yang dimilikinya. Dan tak seorang pun mampu menjelaskan asal usul keberadaan rasa, bau, dan mekanisme yang menjadikannya ada, tanpa mengacu pada kecerdasan mahahebat di balik ini semua. Dialah Allah, Pencipta segala sesuatu secara sempurna. Semua ciptaan Allah dari yang terbesar hingga yang terkecil, dari yang tampak hingga yang tidak kasat mata, memiliki rancangan yang rumit dan sempurna. Kesempurnaan ini hanya akan dipahami oleh mereka yang menggunakan akal dan nuraninya; yang berpikir dan bekerja keras meneliti alam ciptaan-Nya ini. (cs)

Surat Pembaca

Letter 1

Assalamu'alaikum wr. wb.

Buat redaksi insight, alhamdulillah saya bias mendapatkan majalah yang lebih concern pada masalah sains karena banyak sekali ayat-ayat Allah yang selama ini belum saya ketahui, tapi bisa saya dapatkan di sini. Oh ya, saya ada usul nih. Gimana kalo dibuat rubrik konsultasi seputar sains dan teknologi bagi kita-kita yang mau nanya? Syukron sebelumnya.

Wassalaamu'alaikum

Asep Setiaji
Kp. Gunung Sodong RT 03/01, Ds. Karehkel,
Kec. Leuwiliang, Bogor - 16640

Redaksi: Terima kasih atas usulan yang sangat bagus sekali. Insya Allah menjadi bahan pertimbangan bagi kami untuk perbaikan insight di masa-masa mendatang.

Letter 2

Assalamualaikum

Dari sekian banyaknya majalah atau tabloid Islam yang beredar, saya rasa hanya insight yang menjadikan iptek sebagai bahasan utama, saya punya usul bagaimana jika insight membuat web page sendiri, sehingga iptek yang lebih mendekatkan kita dengan Allah SWT dan merubah cara pandang kita terhadap kehidupan dapat dipahami oleh masyarakat yang lebih luas lagi. Semoga Allah SWT meridhoi langkah kita untuk mendekatkan diri pada-Nya.

Wassalamualaikum

rizki_adiono@yahoo.com

Redaksi: Terima kasih atas tanggapan positif dan usulannya untuk insight. Dalam waktu dekat insight memang belum akan membuat web page tersendiri. Mudah-mudahan pada waktu mendatang bisa direalisasikan. Untuk sementara, Saudara Rizki bisa membuka website www.harunyahya.com, terdapat versi bahasa Indonesianya.

Letter 3

Assalamu'alaikum wr. wb.

Teruntuk buletin sains populer "INSIGHT" yang saya cintai. Ada beberapa usulan dari saya :

1. INSIGHT sebaiknya menambah rubrik kolom para ilmuwan muslim kontemporer (tidak harus yang terkenal) yang dilengkapi dengan apa sumbangsihnya kepada umat Islam sesuai dengan bidang yang ditekuninya.

2. Sebaiknya INSIGHT melakukan kunjungan khususnya ke sekolah-sekolah ataupun lembaga-lembaga riset dan melakukan 'training'. Hal ini perlu dikarenakan baru sedikit sekolah-sekolah yang sudah mengajarkan kepada para siswanya untuk lebih mengenal Alloh SWT melalui apa yang dipelajarinya di sekolah-sekolah. Lebih baik lagi jika "kurikulum INSIGHT" dapat dimasukkan ke dalam "kurikulum mata ajaran" secara legal formal.

3. INSIGHT harus terus memperbaiki kualitas tulisannya dengan menyajikan lebih banyak data penunjang sehingga tulisannya menjadi "benar secara ilmiah dan tetap enak dibaca oleh tidak hanya para ilmuwan dan kalangan akademisi saja".

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Andi Agus Istiyanto
Babakan Gunung Gede No. 40 RT 1 RW 1, Kel. Babakan
Bogor Tengah, Bogor, Jawa Barat
Kode Pos 16151

Redaksi: Saudara Andi Yth, terima kasih atas usulan-usulannya yang sangat menarik. Kami tawarkan, apabila ada sekolah, lembaga pendidikan, atau rekan-rekan Saudara yang ingin dikunjungi oleh insight, maka kami akan sangat senang menerimanya.

Dari Kami
Mahal yang Menggembirakan

Assalamu’alaikum wr. wb.

Alhamdulillah, kebahagiaan kami semoga menjadi kebahagiaan Anda semua, pembaca budiman. Sebagaimana yang telah Anda ketahui dari Insight edisi lalu, buletin kesayangan Anda ini kini tampil sedikit berbeda. Mulai edisi September 2003, Insight empat halaman lebih tebal dan lebih berwarna. Sekilas perubahan ini mungkin tampak tak terlalu mencolok memang. Tapi untuk buletin seukuran Insight, ini adalah perkembangan yang cukup menggembirakan. Ini karena penambahan halaman ini berarti membuka peluang lebih banyak bagi dimuatnya tulisan Anda. Kabar baik lagi adalah biaya produksi yang semakin meningkat, sehingga kami pun dengan bersuka cita mengumumkan kenaikan harga buletin ini.

Pembaca budiman, seringkali kenaikan harga tidak ditanggapi secara baik oleh masyarakat. Padahal tidak selalu kenaikan harga berarti sesuatu yang buruk. Kenaikan harga yang sebanding dengan penampilan yang semakin baik, atau yang jauh lebih baik, tentunya adalah hal yang membahagiakan. Dan dengan segala masukan, doa dan sumbangsih Anda semua, kami ingin menampilkan yang terbaik, insya Allah.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Redaksi

Bahasan Utama
HIDUNG dan LIDAH ELEKTRONIK

Dalam keseharian, kita temukan diri kita dikelilingi ribuan aneka rasa dan aroma yang menambah keindahan yang tak terkira dalam hidup kita. Bayangkanlah keharuman semerbak bunga, bau segar tanah yang terbasahi air hujan, bau wangi orang-orang yang kita cintai, serta rasa khas setiap makanan yang kita nikmati. Kini marilah kita berpikir untuk sesaat, akan seperti apa jika semua rasa dan bau tersebut sirna, atau tak pernah ada. Bahkan membayangkan ketiadaan semua itu untuk sesaat saja sudah cukup membuat kita mengakui betapa berharganya nikmat rasa dan bau tersebut bagi kita. Yang menyediakan segala kenikmatan ini adalah Allah, Pencipta semua makhluk hidup. Sebuah ayat dalam Al Qur’an menyatakan: Dan jika kamu menghitung-hitung ni'mat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An Nahl, 16: 18)

Meskipun rasa dan bau terdapat dalam ragam dan jumlah yang berlimpah, kita mampu membedakannya dengan mudah satu sama lain. Ini hanya mungkin jika Allah mencipta seluruh aneka kenikmatan ini beserta perangkat yang memungkinkan kita mengenali perbedaannya masing-masing. Perangkat pengindera rasa dan bau ini bekerja dengan sempurna sepanjang hidup kita.

Antara Hidung dan Hidung-Hidungan

Bukti kesempurnaan Allah dalam mencipta dua perangkat pengindera ini dapat ditemukan pada sejumlah alat elektronik buatan manusia yang meniru cara kerja keduanya. Banyak peralatan listrik telah dibuat di masa kini sebagai tindakan pencegahan terhadap bahaya semisal kebakaran atau kebocoran gas. Mekanisme penciuman pada hidung manusia digunakan sebagai contoh rancangan peralatan ini.

Detektor kebakaran adalah salah satunya. Saat mengetahui keberadaan asap di udara, detektor ini mengeluarkan bunyi peringatan. Perangkat penerima khusus dari detektor ini menyerupai sel penerima bau pada hidung kita, tapi dengan satu perbedaan: Sistem penerima bau makhluk hidup jauh lebih kompleks dibandingkan sistem mekanis pada detektor kebakaran.

Orang juga telah membuat ‘hidung elektronik’ dengan mencontoh sistem penciuman manusia. Dengan mengembangkannya berdasarkan rancangan hebat hidung mereka sendiri, mereka menyebut alat ini ‘hidung elekronik’. Hidung elektronik dipakai di sejumlah kegiatan ekonomi termasuk industri makanan dan parfum, serta obat dan bahan kimia. Meski merupakan kemajuan berteknologi tinggi, para ilmuwan dengan cepat menyatakan bahwa peralatan sepintar itu bukanlah setara apalagi tandingan bagi hidung pemberian Allah.

Lidah Kuno yang Berlubang

Struktur mengagumkan indera pengecap pun telah mengilhami banyak ilmuwan. Perangkat yang meniru fungsi lidah manusia telah dikembangkan, seperti lidah elektronik misalnya. Temuan ini membantu kita membedakan antara makanan segar dan lama, serta menemukan kebusukan pada makanan akibat pertumbuhan bakteri. Pada lidah buatan ini, sirkuit elektroniknya mempunyai 100 lubang teramat kecil, masing-masing dirancang menyerupai bintil pengecap pada lidah manusia. Tapi, dibandingkan dengan lidah manusia, lidah buatan ini merupakan alat pengecap yang sangat kuno. Lidah kita jauh lebih baik dibanding lidah elektronik, dan ini hanyalah menunjukkan betapa besar nikmat indera pengecap ini.

Perangkat penciuman dan pengecap pada manusia adalah bukti lain akan kesempurnaan Allah yang tiada banding dalam mencipta. Dialah yang mempunyai kasih sayang tak terhingga atas hamba-Nya. Ini adalah satu dari sekian banyak nikmat-Nya atas seluruh makhluk hidup. Kita akan mampu memahami nikmat ini dengan mengkaji seluk beluknya secara mendalam, lebih dari sekedar mencium bau dan menggoyang lidah. (hy)

TIDAK HANYA MENCIUM BAU

Apa yang kita sebut ‘bau’ sebenarnya adalah butiran-butiran kecil zat kimia bernama molekul yang menguap dari benda-benda. Misalnya, apa yang kita cerna sebagai aroma kopi bubuk segar sebenarnya adalah molekul dari kopi itu sendiri yang menguap dan tersebar di udara. Jadi, kuatnya bau sebanding dengan kuatnya tingkat penguapan molekul tersebut. Roti yang baru saja dikeluarkan dari kotak pemanggang (oven) mengeluarkan aroma lebih kuat daripada yang telah lama berada di luar. Ini karena molekul-molekul roti beterbangan sangat bebas di udara akibat panas pemanggangan. Molekul-molekul ini dapat meliputi wilayah yang sangat luas ketika teruapkan.

Banyak molekul mempunyai bau, tetapi air bersih tidak berbau. Sifat air yang tak berbau ini merupakan nikmat besar bagi kita, karena ini mencegah timbulnya banyak masalah. Misalnya, sekuntum mawar yang tak terbasahi air dengan mawar yang basah, beraroma persis sama.

Yang membedakan satu bau dengan yang lainnya adalah perbedaan susunan molekulnya. Perbedaan ini teramat tipis sehingga perubahan satu atom karbon saja pada sebuah molekul aroma dapat mengubah aroma sedap menjadi busuk. Aroma aneka makanan adalah hasil dari susunan khas pada ikatan antar-atom yang membentuk molekul aroma. Setiap molekul dirancang untuk tugas tertentu. Ini mengisyaratkan bahwa rancangan hebat ini pastilah diciptakan oleh Allah.

Mengenali 10.000 jenis bau

Setiap kali kita bernapas, udara yang tersusun atas campuran triliunan molekul gas mengalir ke dalam hidung kita. Di dalam campuran udara ini, terkandung pula molekul-molekul bau yang teramat kecil. Sebagian udara yang memasuki hidung kita dialirkan menuju sel-sel syaraf penerima bau oleh tulang hidung. Dengan cara inilah molekul-molekul bau mencapai sel-sel syaraf penerima bau pada bagian atas hidung. Sel-sel syaraf penerima di bagian ini lalu mengirimkan pesan yang mereka terima dari molekul bau ke otak. Pusat penciuman di otak selanjutnya mengumpulkan pesan-pesan dari beragam sel syaraf penerima dan memeriksa serta menafsirkannya secepat kilat. Inilah yang kemudian memunculkan apa yang kita rasakan sebagai “bau.” Singkatnya, hidung bekerja bagaikan laboratorium analisa kimia. Hidung teramat peka sehingga mampu mengenali hingga 10.000 bau yang berbeda. Yang sungguh menarik adalah kecepatan menakjubkan dari semua proses ini. Antara saat molekul kopi memasuki hidung kita hingga kita mengenali baunya hanya memerlukan waktu kurang dari sedetik.

Jelas bahwa sistem sempurna ini tak mungkin dihasilkan oleh serangkaian peristiwa alamiah biasa tanpa penciptaan sengaja, sebagaimana pernyataan kaum evolusionis. Sebagaimana seluruh sistem lain dalam tubuh manusia, indera penciuman juga merupakan rancangan yang teramat kompleks. Inilah kehebatan Allah dalam mencipta.

Mengoleksi aneka jenis bau

Ketika pertama kali kita memasuki rumah makan, kita akan segera mengenali aroma aneka hidangan dari piring-piring di sekitar kita maupun dari ruang masak. Namun setelah sesaat saja, kita secara sadar berhenti merasakan atau mencium aroma-aroma ini. Ini terjadi berkat mekanisme yang disebut adaptasi. Dengan sistem ini, bau yang kita cium sepanjang waktu tidak mengusik atau mengganggu kita. Sebaliknya, kita dapat mengenali bau berbeda yang lain dengan lebih mudah.

“Pengingatan bau” adalah sisi ajaib lain dari proses penciuman. Setiap bau yang pernah kita kenali disimpan dalam arsip di dalam otak kita menggunakan perangkat penyandian khusus. Jadi, kapan pun kita mencium bau lain, otak kita memeriksa dan membandingkannya dengan yang tersimpan di dalam arsip. Jika bau tersebut baru bagi kita dan tidak terdapat dalam ingatan, maka kita mencoba mengenalinya dengan membandingkan dengan bau lain yang lebih kita kenal. Menariknya, informasi penciuman jauh lebih tahan lama di dalam otak kita daripada informasi penglihatan atau pendengaran. Mencium sekilas aroma tertentu seringkali membangkitkan berbagai ingatan yang saling terkait.

Hanya 5% saja untuk mencium

Ketika mendengar kata “hidung”, secara alamiah kita akan berpikir tentang indera penciuman. Namun, penelitian menunjukkan bahwa sebenarnya hanya 5% dari hidung kita yang digunakan untuk mencium bau. Sisanya 95% melakukan dua tugas penting dari sistem pernapasan. Tugas pertama adalah menghangatkan dan melembabkan udara yang kita hirup setiap detik. Lapisan lendir yang menutupi bagian dalam hidung melembabkan udara dengan melepaskan uap air. Pembuluh kapiler yang terletak persis di bawah lapisan lendir ini membantu menghangatkan udara yang melalui saluran ini. Dengan cara ini, udara menjadi sesuai untuk paru-paru kita yang peka. Perangkat ini bekerja bagaikan alat pengatur udara sangat canggih yang mengatur suhu dan kelembaban udara.

Tugas kedua dari hidung adalah menjadi “penjaga gerbang” menghadapi kuman dan butiran debu yang terbawa oleh udara yang kita hirup. Butiran yang bisa membahayakan ini terperangkap oleh lapisan lendir dan kemudian oleh silia, organ yang mirip rambut. Lalu lendir yang dipenuhi bahan-bahan berbahaya ini didorong oleh silia ke arah tenggorokan. Kemudian, lendir ini dikeluarkan dari tubuh melalui batuk, atau, jika tidak, akan tertelan dan dihancurkan oleh asam di dalam lambung. Lapisan lendir, sel-sel penghasil lendir, dan silia bekerja layaknya sebuah pusat pembersihan kimiawi yang dibangun di dalam hidung kita.

Sampai di sini, Anda dapat memahami dengan jelas bahwa sistem di dalam hidung kita ini merupakan contoh rancang-bangun tanpa banding yang juga menjadi bukti lain ciptaan Allah yang sempurna.

TIDAK HANYA MENCIUM BAU

Apa yang kita sebut ‘bau’ sebenarnya adalah butiran-butiran kecil zat kimia bernama molekul yang menguap dari benda-benda. Misalnya, apa yang kita cerna sebagai aroma kopi bubuk segar sebenarnya adalah molekul dari kopi itu sendiri yang menguap dan tersebar di udara. Jadi, kuatnya bau sebanding dengan kuatnya tingkat penguapan molekul tersebut. Roti yang baru saja dikeluarkan dari kotak pemanggang (oven) mengeluarkan aroma lebih kuat daripada yang telah lama berada di luar. Ini karena molekul-molekul roti beterbangan sangat bebas di udara akibat panas pemanggangan. Molekul-molekul ini dapat meliputi wilayah yang sangat luas ketika teruapkan.

Banyak molekul mempunyai bau, tetapi air bersih tidak berbau. Sifat air yang tak berbau ini merupakan nikmat besar bagi kita, karena ini mencegah timbulnya banyak masalah. Misalnya, sekuntum mawar yang tak terbasahi air dengan mawar yang basah, beraroma persis sama.

Yang membedakan satu bau dengan yang lainnya adalah perbedaan susunan molekulnya. Perbedaan ini teramat tipis sehingga perubahan satu atom karbon saja pada sebuah molekul aroma dapat mengubah aroma sedap menjadi busuk. Aroma aneka makanan adalah hasil dari susunan khas pada ikatan antar-atom yang membentuk molekul aroma. Setiap molekul dirancang untuk tugas tertentu. Ini mengisyaratkan bahwa rancangan hebat ini pastilah diciptakan oleh Allah.

Mengenali 10.000 jenis bau

Setiap kali kita bernapas, udara yang tersusun atas campuran triliunan molekul gas mengalir ke dalam hidung kita. Di dalam campuran udara ini, terkandung pula molekul-molekul bau yang teramat kecil. Sebagian udara yang memasuki hidung kita dialirkan menuju sel-sel syaraf penerima bau oleh tulang hidung. Dengan cara inilah molekul-molekul bau mencapai sel-sel syaraf penerima bau pada bagian atas hidung. Sel-sel syaraf penerima di bagian ini lalu mengirimkan pesan yang mereka terima dari molekul bau ke otak. Pusat penciuman di otak selanjutnya mengumpulkan pesan-pesan dari beragam sel syaraf penerima dan memeriksa serta menafsirkannya secepat kilat. Inilah yang kemudian memunculkan apa yang kita rasakan sebagai “bau.” Singkatnya, hidung bekerja bagaikan laboratorium analisa kimia. Hidung teramat peka sehingga mampu mengenali hingga 10.000 bau yang berbeda. Yang sungguh menarik adalah kecepatan menakjubkan dari semua proses ini. Antara saat molekul kopi memasuki hidung kita hingga kita mengenali baunya hanya memerlukan waktu kurang dari sedetik.

Jelas bahwa sistem sempurna ini tak mungkin dihasilkan oleh serangkaian peristiwa alamiah biasa tanpa penciptaan sengaja, sebagaimana pernyataan kaum evolusionis. Sebagaimana seluruh sistem lain dalam tubuh manusia, indera penciuman juga merupakan rancangan yang teramat kompleks. Inilah kehebatan Allah dalam mencipta.

Mengoleksi aneka jenis bau

Ketika pertama kali kita memasuki rumah makan, kita akan segera mengenali aroma aneka hidangan dari piring-piring di sekitar kita maupun dari ruang masak. Namun setelah sesaat saja, kita secara sadar berhenti merasakan atau mencium aroma-aroma ini. Ini terjadi berkat mekanisme yang disebut adaptasi. Dengan sistem ini, bau yang kita cium sepanjang waktu tidak mengusik atau mengganggu kita. Sebaliknya, kita dapat mengenali bau berbeda yang lain dengan lebih mudah.

“Pengingatan bau” adalah sisi ajaib lain dari proses penciuman. Setiap bau yang pernah kita kenali disimpan dalam arsip di dalam otak kita menggunakan perangkat penyandian khusus. Jadi, kapan pun kita mencium bau lain, otak kita memeriksa dan membandingkannya dengan yang tersimpan di dalam arsip. Jika bau tersebut baru bagi kita dan tidak terdapat dalam ingatan, maka kita mencoba mengenalinya dengan membandingkan dengan bau lain yang lebih kita kenal. Menariknya, informasi penciuman jauh lebih tahan lama di dalam otak kita daripada informasi penglihatan atau pendengaran. Mencium sekilas aroma tertentu seringkali membangkitkan berbagai ingatan yang saling terkait.

Hanya 5% saja untuk mencium

Ketika mendengar kata “hidung”, secara alamiah kita akan berpikir tentang indera penciuman. Namun, penelitian menunjukkan bahwa sebenarnya hanya 5% dari hidung kita yang digunakan untuk mencium bau. Sisanya 95% melakukan dua tugas penting dari sistem pernapasan. Tugas pertama adalah menghangatkan dan melembabkan udara yang kita hirup setiap detik. Lapisan lendir yang menutupi bagian dalam hidung melembabkan udara dengan melepaskan uap air. Pembuluh kapiler yang terletak persis di bawah lapisan lendir ini membantu menghangatkan udara yang melalui saluran ini. Dengan cara ini, udara menjadi sesuai untuk paru-paru kita yang peka. Perangkat ini bekerja bagaikan alat pengatur udara sangat canggih yang mengatur suhu dan kelembaban udara.

Tugas kedua dari hidung adalah menjadi “penjaga gerbang” menghadapi kuman dan butiran debu yang terbawa oleh udara yang kita hirup. Butiran yang bisa membahayakan ini terperangkap oleh lapisan lendir dan kemudian oleh silia, organ yang mirip rambut. Lalu lendir yang dipenuhi bahan-bahan berbahaya ini didorong oleh silia ke arah tenggorokan. Kemudian, lendir ini dikeluarkan dari tubuh melalui batuk, atau, jika tidak, akan tertelan dan dihancurkan oleh asam di dalam lambung. Lapisan lendir, sel-sel penghasil lendir, dan silia bekerja layaknya sebuah pusat pembersihan kimiawi yang dibangun di dalam hidung kita.

Sampai di sini, Anda dapat memahami dengan jelas bahwa sistem di dalam hidung kita ini merupakan contoh rancang-bangun tanpa banding yang juga menjadi bukti lain ciptaan Allah yang sempurna.

Lebih Tajam Dari Manusia

Mencium bau narkoba

Semua binatang dilengkapi dengan jenis sistem penciuman yang paling sesuai bagi tempat hidup mereka. Indera penciuman anjing diperkirakan satu juta kali lebih tajam daripada indera penciuman manusia. Dengan hidungnya, anjing dengan mudah dapat mencium bau terlemah di udara, sehingga mereka dapat melakukan berbagai hal yang mustahil dilakukan manusia dan mesin. Anjing dapat mencium bau jejak narkoba, barang selundupan, penjahat, orang hilang, atau bahkan korban bencana alam yang nyawanya dalam bahaya.

Mudik Berbekal Penciuman Tajam

Ikan Salem adalah hewan lain dengan indera penciuman yang benar-benar penting bagi kelangsungan hidupnya. Anak salem menetas dari telurnya di sungai menjelang akhir musim dingin. Setelah menetas, mereka menghabiskan beberapa tahun di sungai ini sebelum berpindah ke lautan. Tapi, ada yang lebih menarik dari perpindahan ini, karena saat menginjak usia perkembangbiakan, ikan salem melakukan satu lagi perjalanan yang menakjubkan. Pada usia ini, salem berusaha keras kembali ke tempat dulunya mereka ditetaskan, yakni “tanah kelahiran mereka”. Namun kali ini mereka pergi ke sana sebagai induk untuk meletakkan telur mereka sendiri. Sang ikan tak memiliki perangkat pemandu arah untuk membantu mereka menentukan arah perjalanan panjang nan sulit ini. Tapi, mereka tetap mampu menemukan kampung halamannya dengan mudah. Selain itu, setiap kali dihadapkan pada percabangan sungai, tanpa keliru mereka mengambil jalur yang tepat yang akan membawa mereka ke tempat mereka dilahirkan. Tapi, bagaimana mereka mampu melakukan pencapaian yang mengesankan ini? Ini semua karena mereka dilengkapi indera penciuman luar biasa yang membantu mereka menemukan arah. Pendeknya, indera penciuman salem membantu ikan ini layaknya seorang pemandu andal di sepanjang perjalanannya yang dapat berjarak ribuan kilometer.

Mencari Sumber Darah

Dalam Al Qur’an, Allah juga mengarahkan perhatian kita kepada nyamuk. Nyamuk betina memerlukan darah untuk menghasilkan telur, dan menemukan sumber darah yang diperlukan ini dengan mencium bau udara. Nyamuk betina mempunyai indera penciuman yang sedemikian tajam sehingga dapat dengan mudah mengenali zat kimia tubuh manusia yang jauhnya berkilometer. Dalam ayat Al Qur’an berikut, Allah menyatakan bahwa nyamuk adalah bukti penciptaan, bukti yang mestinya kita renungi.

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik. (QS. Al Baqarah, 2:26)

Dunia Tumbuhan
Tatkala Tumbuhan Berkeringat...

Meski seringkali tidak dihiraukan, atau “dipandang sebagai sesuatu yang sudah biasa ada di kebun”, ternyata terdapat rancangan sempurna pada setiap milimeter persegi luasan yang membentuk helaian daun. Tanpa kehebatan dan kesempurnaan di setiap bagian terkecilnya, tumbuhan takkan mungkin hidup, apalagi melaksanakan peran teramat pentingnya dalam ekosistem di bumi.

Tumbuhan, termasuk dedaunan di dahannya, dan sebongkah batu mencapai tingkat panas yang berbeda meskipun keduanya diterpa panas matahari dengan jumlah dan rentang waktu yang sama. Yang jelas, tumbuhan dan dedaunannya akan tetap lebih dingin ketimbang batu tersebut. Selain itu, setiap benda di alam ini mengalami pengaruh buruk jika terlalu lama terkena pancaran sinar mentari, termasuk tubuh manusia. Jadi apa yang menjadikan tumbuhan tidak terlalu terpengaruh oleh sengatan panas sang surya? Bagaimana tumbuhan mampu mengatasi hal ini? Mengapa dedaunan di dahan tumbuhan tidak terpanaskan dan layu mengering meski sepanjang hari diterpa panas di musim panas atau kemarau?

Tumbuhan yang terus-menerus diterpa sinar matahari secara alamiah memerlukan lebih banyak air dibanding makhluk lain. Tumbuhan pun terus-menerus kehilangan air akibat penguapan air melalui daunnya. Guna mencegah kehilangan air ini, permukaan luar bagian atas dedaunan, yang senantiasa mengarah ke matahari, umumnya tertutupi lapisan lilin kedap air yang dikenal sebagai kutikel. Dengan cara ini, penguapan air di permukaan atas daun dapat dicegah.

Tapi bagaimana halnya dengan permukaan bawah daun, yang merupakan tempat terjadinya penguapan air pada tumbuhan? Di permukaan ini terdapat pori-pori yang biasa disebut stoma (jamak: stomata), yang berfungsi sebagai pintu keluar masuknya gas-gas. Membuka dan menutupnya pori-pori mengatur keluarnya gas oksigen (O2) dan masuknya gas karbondioksida (CO2) dalam jumlah cukup oleh tumbuhan. Meski peristiwa ini juga menyebabkan penguapan air dari dalam tumbuhan, namun tidak sampai menyebabkan tumbuhan kehilangan air dalam jumlah besar. Tidak mengherankan jika dedaunan pun tetap basah dan tidak layu, apalagi menjadi kering. Proses penguapan air dari daun ke udara secara terkendali ini menyerap panas dari bagian tubuh tumbuhan, termasuk daun. Akibatnya tumbuhan pun mengalami proses pendinginan. Inilah yang disebut sebagai perspirasi (atau ‘berkeringat’) pada tumbuhan.

Letak pori-pori yang kebanyakan berada di permukaan bawah daun adalah hal menarik lainnya yang perlu dicermati. Keberadaannya di bagian bawah permukaan daun menjadikan pengaruh berbahaya sinar matahari dapat ditekan serendah mungkin. Jika pori-pori memenuhi permukaan bagian atas daun, maka pori-pori akan diterpa sinar matahari dalam waktu yang lama. Dalam keadaan ini, pori-pori akan terus-menerus mengeluarkan air dalam jumlah besar untuk mencegah tumbuhan mati karena panas. Akibatnya, karena terlalu banyak kehilangan air, tanaman justru akan layu dan mati. Allah, yang telah menciptakan segala sesuatu secara sempurna dan lengkap, menciptakan pori-pori dengan letak yang tepat dan rancangan yang khas bagi tanaman sehingga mencegahnya dari bahaya akibat kehilangan air.

Tapi ada satu pertanyaan lagi, meskipun pori-pori mengatur penguapan air secara terkendali dalam jumlah terbatas, lama-kelamaan air yang dikandung tumbuhan mestinya akan habis juga, tapi mengapa ini tidak terjadi? Mengapa tumbuhan, khususnya dedaunan, tetap mengandung air meskipun kehilangan air secara terus-menerus akibat penguapan pada daun? Ini berarti ada perangkat dan proses lain pada tumbuhan yang berfungsi menyediakan air sebagai ganti air yang hilang tersebut, selain air yang untuk digunakan dalam proses biokimiawi di dalam tumbuhan itu sendiri. Begitulah, hal ini pun telah diperhitungkan. Air dari dalam tanah diserap akar dan dialirkan oleh pembuluh kayu ke seluruh bagian tumbuhan, termasuk daun yang berada di bagian paling ujung atau pucuk ranting tanaman. Pepohonan di hutan seluas seribu meter persegi mampu melepaskan 7,5 ton air dalam bentuk uap air ke udara. Layaknya pompa air raksasa, pohon menyerap air dari dalam tanah, mengalirkan melalui akar, batang dan daunnya, lalu mengirimkannya ke atmosfer dalam bentuk uapan. Hal ini penting pula untuk menjaga keseimbangan kadar air di atmosfer.

Terdapat perincian sangat cermat hingga seluk-beluknya yang terkecil dalam struktur pori-pori ini, yang telah dirancang dengan mempertimbangkan semua dampak perubahan lingkungan luar. Kita semua tahu bahwa kondisi lingkungan luar berubah terus-menerus dalam hal kelembaban, suhu dan kualitas udara, dan sebagainya Tetapi pori-pori daun dapat melakukan penyesuaian terhadap semua pengaruh ini.

Sistem dalam tumbuh-tumbuhan ini, seperti juga berbagai sistem lainnya, dapat berfungsi hanya jika semua bagiannya ada sekaligus secara bersamaan. Karenanya, jelaslah tidak mungkin pori-pori tanaman muncul melalui peristiwa yang tak disengaja secara evolusi (atau berangsur-angsur, bagian demi bagian). Allah menciptakan pori-pori dengan strukturnya tersendiri, dan merancangnya secara khusus agar dapat menjalankan fungsinya bagi tumbuhan, maupun bagi keseimbangan kadar air di atmosfer.

Seri Keruntuhan Evolusi
Mungkinkah Bersayap Melalui Mutasi?

Dalam buku The Origin of Species, Darwin mengungkapkan sejumlah kesulitan yang menghadang teorinya. Dalam bab berjudul “Difficulties of the Theory (Kesulitan-Kesulitan Teori Evolusi)”, ia menulis:

Jika dapat dibuktikan bahwa terdapat organ rumit, yang tidak mungkin dapat terbentuk melalui serangkaian perubahan kecil yang banyak dan bertahap, maka teori saya akan sepenuhnya hancur berantakan. (Charles Darwin, The Origin of Species, edited with an introduction by J.W. Burrow, Penguin Books, 1970, hlm. 219)

Sudah lengkap sempurna sejak awal

Kekhawatiran Darwin terbukti benar sepeninggalnya. Hukum penurunan sifat genetis yang ditemukan ahli botani Austria, Gregor Mendel, telah mementahkan pendapat Lamarck dan Darwin itu. Ilmu genetika yang berkembang di awal abad ke-20 membuktikan bahwa yang diturunkan kepada generasi selanjutnya bukanlah sifat-sifat fisik yang didapatkan semasa hidup, akan tetapi hanya gen-gennya.

Penemuan ini jelas menunjukkan pendapat tentang sifat-sifat perolehan yang terkumpul dari satu keturunan ke turunan berikutnya, sehingga memunculkan spesies baru, tidaklah mungkin. Dengan kata lain, mekanisme seleksi alam rumusan Darwin tidak berkemampuan mendorong terjadinya evolusi. Jadi, teori evolusi Darwin sesungguhnya telah ambruk sejak awal di abad ke-20 dengan ditemukannya ilmu genetika.

Segala upaya lain dari para pendukung evolusi di abad ke-20 selalu gagal, bahkan hanya memperkuat kenyataan bahwa seleksi alam tidak mendorong terjadinya evolusi. Evolusionis terkenal, ahli paleontologi Inggris, Colin Patterson mengakui hal ini:

Tak seorang pun pernah memunculkan satu spesies melalui mekanisme seleksi alam. Tak seorang pun pernah hampir melakukannya, dan kebanyakan perdebatan dalam neo-Darwinisme sekarang adalah seputar masalah ini. (Colin Patterson, "Cladistics", BBC, Brian Leek ile Röportaj, Peter Franz, 4 March 1982)

Ilmu pengetahuan abad ke-20 juga menunjukkan adanya sistem dan organ dengan mekanisme sangat rumit pada makhluk hidup. Sistem dan organ ini takkan berfungsi kendatipun satu saja dari bagian penyusunnya hilang atau tidak bekerja sempurna. Kerumitan yang tak tersederhanakan pada tubuh makhluk hidup ini adalah bukti bahwa seluruh tubuh makhluk hidup tidak terbentuk bagian demi bagian secara bertahap. Dengan kata lain, semua bagian tubuh makhluk hidup pastilah telah muncul seketika secara bersamaan, dalam keadaan telah utuh, lengkap dan sempurna sejak awal kemunculan makhluk hidup itu. Fakta ini dengan telak menggugurkan pendapat evolusionis yang menyatakan makhluk hidup berevolusi secara berangsur-angsur, terbentuk sedikit demi sedikit dan bertahap melalui seleksi alam dalam waktu lama.

‘Mutasi’ Tidak Menghasilkan Jam

Setelah jelas bahwa mekanisme seleksi alam cetusan Darwin tidak memiliki kekuatan evolusi, para evolusionis dipaksa melakukan perubahan mendasar pada teori evolusi. Untuk melengkapi teori seleksi alam, mereka menambahkan mekanisme kedua yang disebut “mutasi”.

Mutasi adalah perubahan atau perusakan yang terjadi pada DNA makhluk hidup, sebagian besar akibat pengaruh luar seperti radiasi atau pengaruh kimiawi. Kini, teori evolusi mengatakan makhluk hidup mengalami perubahan dari satu spesies ke yang lain dan berkembang sebagai hasil dari mutasi.

Ini mustahil, sebab mutasi hanya merusak kode informasi pada DNA dan hanya membahayakan makhluk hidup. Mutasi munguntungkan belum pernah dijumpai di alam maupun di laboratorium, karena mutasi tidak menambahkan informasi genetis baru yang memperbaiki sifat makhluk hidup. Adalah mustahil bagi makhluk hidup untuk mendapatkan organ baru melalui mutasi. Tidak ada reptil yang pernah memperoleh sayap, atau makhluk tidak bermata tidak pernah akan memiliki mata melalui mutasi.

Selama puluhan tahun, evolusionis telah menggunakan pengaruh radiasi dan zat kimia terhadap beragam organisme dalam upaya mendapatkan mutasi menguntungkan. Namun mereka selalu mendapatkan organisme cacat, tidak normal atau mandul. Percobaan tak terhitung jumlahnya yang dilakukan pada lalat buah telah menunjukkan, akibat mutasi tidaklah menguntungkan, bahkan malah merusak atau mematikan. Mutasi merusak kode DNA sempurna dari suatu makhluk hidup dan menjadikannya makhluk cacat.

Kebenaran telah nampak jelas. Kehidupan memiliki susunan dan rancangan yang terlalu rumit dan sempurna sehingga mustahil terbentuk secara evolusi alamiah belaka tanpa disengaja. Jam tangan mekanik tidak dapat terbentuk dengan sendirinya karena kekuatan alam, atau akibat penyusunan roda-roda giginya secara acak atau asal-asalan, tanpa perancangan sengaja. Jam tangan ini pastilah membuktikan keberadaan pembuat jam tangan yang cerdas. Inilah fakta yang berusaha disembunyikan dari pandangan mata manusia oleh teori evolusi.

Iptek Anak
Jaring Laba-laba yang Menakjubkan!!

Teman-teman, apa yang terlintas di benak kamu ketika mendengar kata laba-laba? yup, jaring-jaringnya!.

Jaring laba-laba memiliki rancangan yang unik dengan perhitungan teknik yang menyertainya. Jika kita memperbesar laba-laba menjadi seukuran manusia, jaring yang dianyamnya itu akan memiliki tinggi sekitar 150 meter (waah, sama tingginya dengan gedung pencakar langit 50 lantai dong?!).

Lalu, bagaimana makhluk yang mungil ini membuat jaringnya ya?.

Pertama-tama, laba-laba melempar benang yang dipintalnya ke udara, lalu aliran udara membawanya ke tempat tertentu dimana benang menempel. Lalu pekerjaan konstruksi pun dimulai (wow, ternyata laba-laba seperti arsitek saja ya?). Nah, untuk menganyam sebuah jaring, si arsitek mungil ini memerlukan waktu sekitar satu jam.

Awalnya, laba-laba menarik benang jenis kuat dan tegang dari titik pusat ke arah luar guna mempersiapkan kerangka jaringnya. Ia lalu menggunakan benang jenis kendor dan lengket untuk membuat lingkaran dari arah luar ke dalam. Dan kini jaring-jaringnya yang berfungsi sebagai perangkap mangsa itu pun telah siap.

Tahukah teman-teman, kalau benang laba-laba itu lima kali lebih kuat dari serat baja dengan ketebalan yang sama?. Jika seutas tali berdiameter 30 cm terbuat dari benang laba-laba, maka ia akan mampu menahan berat 150 mobil. Padahal, benang ini lebih tipis dari rambut manusia lho!, ia pun lebih ringan dari kapas, tapi luar biasanya ia lebih kuat dari baja!.

Baja (yang merupakan bahan terkuat) saja didesain khusus agar berdaya tahan tinggi, digunakan pada konstruksi bentang lebar, bangunan tinggi, dan jembatan. Lalu bagaimana dengan laba-laba, sang makhluk mungil yang tak mampu berpikir, bagaimana ia bisa menghasilkan benang dalam tubuhnya yang bisa lebih kokoh daripada baja sekalipun?. Tak diragukan lagi, ini adalah bukti bahwa laba-laba diberi ilham agar dapat membuat jaring yang mengagumkan.

Dialah Allah, Tuhan Seluruh Alam, yang menciptakan makhluk-makhluk-Nya dengan perilaku mereka yang mengagumkan, dan mengilhami mereka tentang apa yang mereka kerjakan. Subhanallah..!!! Sungguh Mahabesar Allah, Sang Pencipta Maha Luar Biasa.

“Sesungguhnya, Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.” (Q.S. Thaahaa, 20:98)

Kisah Al Qur’an
Bersemangat Walaupun Sering 'Gagal'

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma‘ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran, 3:104).

Sebagaimana seruan ayat di atas, orang-orang beriman berikhlas diri dan berupaya menyampaikan kebaikan dan ajaran mulia yang terkandung dalam Al Qur’an. Mereka mengungkapkan kerusakan akhlak yang terjadi di masyarakat yang jauh dari agama. Seiring dengan itu, dengan kehendak Allah mereka pun membimbing manusia ke jalan yang benar. Karena telah merasakan sendiri kenikmatan hidup secara Islami, mereka pun berharap dan berusaha agar orang lain juga mengalami hal yang sama. Selain itu, karena mengetahui neraka benar-benar ada, mereka ingin menyelamatkan semua orang darinya, dengan anjuran menjalani kehidupan yang diridhai Allah. Bahkan keselamatan abadi bagi satu orang saja punya arti besar bagi orang-orang beriman. Inilah yang menyebabkan mereka punya keteguhan untuk mengorbankan apa saja dalam rangka menyelamatkan seseorang dari neraka dan membimbingnya menuju ampunan dan kasih sayang Allah. Mereka bahkan rela mencurahkan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun, siang dan malam, guna membimbing seseorang agar menerapkan nilai-nilai Islami yang baik. Demikian pula, mereka pun bersemangat mengeluarkan harta kekayaannya untuk tujuan yang satu ini. Semangat yang mereka rasakan memberikan kekuatan yang besar baik secara fisik maupun ruhani. Hingga akhir hayatnya mereka tidak pernah berhenti menyampaikan ajaran Allah dengan cara terbaik dan paling bijaksana.

Meski demikian, sekalipun semua upaya mereka pada akhirnya tidak mendatangkan hasil berupa turunnya hidayah kepada satu orang pun, mereka takkan pernah berputus asa. Sebab, kewajiban seorang mukmin hanyalah menyampaikan pesan Al Qur’an, sedangkan yang sesungguhnya memberikan hidayah kepada seseorang hanyalah Allah. Melalui Al Qur’an kita tahu bahwa banyak penyembah berhala di Mekkah yang tidak memeluk Islam, sekalipun Nabi Muhammad saw. telah melakukan berbagai upaya yang tulus dan sungguh-sungguh. Namun, segenap kerja keras yang telah beliau curahkan tetap mendapatkan ganjaran.

Di dalam Al Qur’an dinyatakan, semua nabi telah menunjukkan kebulatan tekad dan kegigihan yang sama dalam menyampaikan risalah dari Tuhan mereka. Berbagai kesukaran yang mereka hadapi tak pernah mematahkan semangat mereka. Sebaliknya, mereka senantiasa melakukan berbagai upaya untuk mengarahkan umat ke jalan yang benar. Kerja keras penuh semangat yang dilakukan Nabi Nuh a.s., misalnya, telah digambarkan sebagai berikut:

“Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah berdakwah kepada kaumku malam dan siang, namun dakwah itu hanya menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku berdakwah kepada mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. Kemudian sesungguhnya aku telah berdakwah kepada mereka (untuk beriman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (berdakwah kepada) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun’.” (QS. Nuh, 71:5-10).

Sebagaimana diungkapkan dalam sejumlah ayat di atas, Nabi Nuh a.s. telah menyampaikan risalah Allah dengan semangat yang tinggi untuk membukakan hati umatnya kepada jalan keselamatan dan kebahagiaan. Meskipun mereka selalu menolak, namun beliau tidak pernah patah semangat dalam menyampaikan keberadaan Allah beserta sifat-sifat-Nya. Kendati demikian, umatnya yang berkepala batu selalu saja berpaling setiap kali mendengarkan kebenaran. Karena semangat dan rasa suka cita yang dirasakannya dalam menjalankan perintah Allah untuk menyampaikan pesan-Nya, Nabi Nuh a.s. tidak mencela sikap mereka. Sebaliknya, beliau terus saja melanjutkan kewajibannya dengan keteguhan yang tiada surut. Meskipun umatnya menunjukkan keangkuhan, beliau berupaya mencari cara-cara lain yang memungkinkan guna melunakkan hati mereka. Niat beliau adalah untuk menyelamatkan mereka dari kerusakan masyarakat yang jauh dari ajaran Allah dengan cara mengingatkan kepada mereka mengenai kebesaran Allah, baik secara terang-terangan maupun diam-diam.

Perlu senantiasa kita ingat bahwa segenap upaya yang telah dikerahkan Nabi Nuh a.s. dan yang lainnya dalam menyampaikan risalah ini, dengan semangat yang tinggi dan keikhlasan, tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa ganjaran. Dengan izin Allah dan kemurahan-Nya, setiap kata yang disampaikan dan setiap saat yang dicurahkan di jalan-Nya akan diberi pahala berlipat ganda.

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (QS. At Taubah, 9:112).

Tafakur
Al Jabbar Maha Kuasa

Kesalahan terbesar manusia adalah merasa besar di hadapan Allah dan terperangkap dalam perasaan angkuh. Penyebabnya adalah manusia menganggap dirinya sebagai wujud yang tidak tergantung kepada Allah, Tuhan yang telah menciptakannya. Ia merasa yakin bahwa sejumlah kelebihannya berasal dari dirinya sendiri, dan karenanya merasa sebagai “sosok yang mampu berdiri sendiri”.

Ini benar-benar sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal. Dengan merenung sejenak, akan kita pahami dengan jelas bahwa kita hadir ke dunia bukan atas kehendak sendiri. Kita takkan pernah tahu kapan hidup kita berakhir, dan kita tak pernah menentukan sendiri sifat yang ada pada diri kita.

Berdasarkan semua fakta ini, sangatlah jelas betapa tidak tepat dan tidak beralasan bila manusia menyombongkan diri di hadapan Penciptanya sendiri. Manusia hendaknya memahami kebesaran Allah, dan menyadari bahwa Dia-lah yang telah menciptakannya dari ketiadaan. Allah-lah yang telah memberinya segala sifat dan kemampuan yang ada dalam dirinya.

Manusia juga tidak boleh lupa bahwa Allah dapat mengambil kembali seluruh nikmat pemberian-Nya kapan pun Dia menghendaki. Allah pasti akan mengambil nikmat hidup seluruh makhluk-Nya di dunia, sehingga semua yang hidup suatu saat pasti mati. Manusia harus menerima bahwa Allah-lah satu-satunya yang kekal, dan hanya kepada-Nya ia harus berserah diri. Sebab Allah berkuasa menjadikan semua mereka yang menyombongkan diri tanpa alasan yang benar, yang lalai akan kelemahan mereka, dan yang berpaling dari-Nya, untuk tunduk kepada-Nya kapan pun Dia menghendaki. Hal ini adalah mudah bagi Allah, sebab Dia-lah yang memiliki segala kesempurnaan dan kekuasaan di atas makhluknya, sebagaimana dinyatakan dalam Kitab-Nya:

Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Al Hasyr, 59:23)

Keajaiban di Alam
Bertani di Kota Bawah Tanah

Kota-kota modern terbentuk ketika jutaan manusia berkumpul bersama. Manusia selalu merasakan perlunya aturan dan hukum untuk menjamin ketentraman dan keamanan hidup mereka. Tanpanya, kedamaian hidup takkan mungkin terwujud.

Sisi lain tentang kehidupan masyarakat modern adalah sifat mementingkan diri sendiri. Setiap anggota masyarakat memiliki tujuan dan rencana hidup sendiri. Kebanyakan mereka mendahulukan kepentingan pribadi sebelum yang lain. Kepentingan masyarakat dan orang lain selalu dinomorduakan. Sifat tercela ini menimbulkan bencana kemiskinan, kelaparan dan tuna wisma di seluruh dunia.

Marilah kita bayangkan sebuah kota besar, dengan ratusan ribu penduduk yang hidup di dalamnya. Namun, tak satu pun yang mementingkan diri sendiri. Sebaliknya, mereka senantiasa mendahulukan kepentingan masyarakat dan pihak lain. Bayangkan, setiap orang bekerja dengan pengorbanan diri luar biasa, tanpa sedikit pun keinginan untuk didahulukan. Bayangkan, di tempat ini tak pernah ada perselisihan. Masyarakat seperti ini mungkin di luar bayangan manusia. Namun masyarakat semacam ini benar-benar ada di bumi. Bahkan, mereka ada di mana-mana. Makhluk hidup dengan tatanan masyarakat menakjubkan seperti ini adalah semut.

Semut hidup dalam koloni beranggotakan ratusan ribu, bahkan jutaan ekor. Setiap semut dalam koloni melaksanakan kewajiban masing-masing dengan sebaik-baiknya. Tak satu pun mempermasalahkan jabatan ataupun tugasnya. Yang utama adalah kelangsungan hidup keseluruhan koloni di mana mereka tinggal. Untuk tujuan ini, tiap-tiap mereka rela mengorbankan nyawa bila perlu. Tak ditemui seekor semut pun yang kelaparan atau tak memiliki tempat tinggal. Ini karena di antara mereka terdapat kerjasama, keakraban, dan rasa berbagi yang besar. Setetes air pun dinikmati bersama. Makanan dikumpulkan dan disimpan di dalam sarang untuk dibagi dan dinikmati bersama. Benar-benar tidak ada sifat mementingkan diri sendiri dalam masyarakat semut. Tak satu pun yang diterlantarkan. Masing-masing menjadi bagian dari sebuah tatanan raksasa. Masing-masing mencurahkan segenap pengabdiannya kepada bagian yang dibebankan kepadanya. Dengan kehidupan dan tatanan masyarakat yang jauh lebih baik dari manusia, semut adalah bukti kesempurnaan ciptaan Allah.

Teknologi budidaya jamur

Terdapat sejenis semut yang memiliki kebiasaan memotong dedaunan. Sarang semut pemotong daun ini dapat mencapai kedalaman 5 meter ke bawah tanah dengan lebar 7 meter. Mereka membangun ratusan lorong serta bilik di dalamnya, dan mengeruk serta mengangkut hingga sekitar 40 ton tanah. Arsitektur sarang mereka merupakan keajaiban tersendiri.

Semut tidak memakan dedaunan yang telah dipotongnya, karena mereka hanya memakan sejenis jamur tertentu. Lalu untuk apakah dedaunan tersebut jika bukan untuk dimakan? Jawabannya sungguh menarik. Mereka menggunakannya sebagai ‘bahan baku’ bercocok tanam. Mereka menumbuhkan jamur dengan ‘bahan baku’ daun tersebut.

Untuk tujuan ini, mereka menyiapkan ratusan lahan pertanian jamur di dalam sarang. Untuk menumbuhkan jamur, semut mengatur suhu, kelembaban dan ukuran lahan secara cermat. Ini layaknya rumah kaca yang kita gunakan untuk bercocok tanam sepanjang tahun.

Para semut pekerja menyerahkan dedaunan yang dipotongnya kepada semut lain yang bekerja di ladang jamur. Semut yang menerimanya lalu membersihkan dedaunan dari kuman penyakit sebelum digunakan. Ada alasan penting mengapa ini dilakukan. Masuknya jamur tak dikenal atau bakteri ke dalam sarang dapat berakibat mematikan. Hal ini dapat menyebarkan penyakit dalam koloni beranggotakan 500 ribu semut. Tapi Allah telah menciptakan perangkat istimewa yang melindungi mereka. Bahan bersifat anti-kuman (antibiotik) dihasilkan dari tubuh semut. Dengan cara ini, tak ada bakteri yang tertinggal pada daun.

Seperti halnya kita, semut ternyata juga membasmi bakteri. Obat antibiotik dibuat di laboratorium untuk keperluan ini. Namun antibiotik yang dihasilkan semut jauh lebih ampuh, dan semut telah menggunakannya selama jutaan tahun. Tentu saja makhluk kecil ini tidak tahu-menahu tentang bakteri dan zat antibiotik penghambat perberkembangbiakan bakteri. Allah-lah Pencipta perangkat sempurna ini; dengannya, tak satu bakteri pun dapat hidup dalam tubuh semut maupun di dalam sarangnya.

Seusai tahap pembersihan kuman, semut lalu memotong-motong daun beramai-ramai. Setelah pemotongan daun hingga ukuran yang lebih kecil, kini giliran semut paling mungil untuk memulai pekerjaannya. Semut ini hanya berukuran 2 milimeter, layaknya sebutir pasir. Mereka menghabiskan seluruh hidupnya di bilik kecil bawah tanah ini Mereka mengunyah dedaunan hingga menjadi bubur dan meratakannya ke lantai lahan pertanian, sebagai lahan subur tempat menumbuhkan jamur. Lalu mereka menyemai jamur di atasnya.

Memanen untuk saudaranya

Dalam 24 jam, dedaunan tersebut kehilangan seluruh warna hijaunya. Hingga keesokan hari, seluruh permukaannya telah tertutupi jamur putih. Panen pun langsung dimulai. Para semut yang memanen lebih mengutamakan rekan mereka daripada diri mereka sendiri. Mereka memberikan jamur yang mereka panen kepada semut pekerja. Semut pemanen memberikan cairan bergizi yang terkandung dalam jamur kepada semut pekerja yang bertugas di bagian lain sarang Dengan cara ini, kebutuhan pakan seluruh semut dapat terpenuhi, dari semut pemotong daun di luar sarang, hingga mereka yang membuat bubur daun.

Lima ratus ribu semut bekerja tanpa henti dengan keteraturan dan kerjasama sempurna. Setelah semua jamur habis dipanen, yang tertinggal hanyalah sisa dedaunan, dan ini perlu dibersihkan. Para pekerja membuang setiap serpihan kecil daun hingga tak tersisa lagi kotoran di bilik pertanian. Sisa-sisa daun dibuang cukup jauh dari sarang. Para pekerja keras ini tak mengenal istirahat ataupun keluh-kesah.

Inilah sekelumit fenomena nyata di dunia semut yang sepatutnya menjadi bahan renungan kita, manusia, yang seringkali lebih banyak berpikir untuk diri sendiri. Fenomena yang membuka mata hati kita akan kehebatan Pencipta semut, Allah Yang Mahaperkasa.

1. Di dalam sarangnya, para semut pekerja yang berukuran sedikit lebih kecil memotong dedaunan menjadi serpihan yang lebih kecil.

2. Semut kelompok lainnya lalu mengunyah serpihan-serpihan kecil daun ini menjadi bubur dan memupuknya dengan timbunan cairan tinja yang kaya enzim.

3. Semut-semut lain menghamparkan bubur daun yang subur tersebut di atas alas dedaunan kering yang terhampar di ruangan baru.

4. Semut-semut kelompok lain memindahkan butiran-butiran kecil jamur dari ruangan bekas pakai, dan menyemainya pada bubur daun. Serpihan jamur ini tumbuh merata di permukaan bubur daun layaknya butiran embun di hamparan rerumputan.

5. Kelompok semut kerdil berkerumun membersihkan dan menyiangi kebun jamur ini, dan akhirnya memanennya untuk disantap rekan-rekannya.