Editorial
Durian yang jatuh ke atas...

Isaac Newton (1642-1727) |
Isaac Newton adalah ilmuwan terkemuka asal Inggris.
Teori gravitasinya yang terkenal seringkali dikaitkan dengan “the
falling apple”, yakni kisah buah apel yang jatuh menimpa kepalanya.
Konon kabarnya, peristiwa inilah yang mengilhami hukum gravitasi
itu. Menurut kisah yang dianggap legenda oleh sebagian orang ini,
suatu ketika Newton sedang membaca buku sembari duduk di bawah pohon
apel. Tanpa diduga, buah apel jatuh dari pohon dan mengenai kepalanya.
Ia pun bertanya pada diri sendiri, “Mengapa apel ini tidak
jatuh ke atas atau ke samping, tetapi malah ke bawah?”
Sejenak tampaknya tak ada yang aneh dari peristiwa
tersebut. Di negara tropis seperti Indonesia, jatuhnya buah-buahan
dari ranting pohonnya adalah pemandangan yang biasa saja. Bahkan,
terdapat pohon yang batang dan buahnya lebih tinggi dan lebih besar
dari apel, misalnya durian dan nangka. Ketika jatuh dari ketinggian
yang sama, buah nangka dan durian akan lebih menyakitkan kepala
orang yang ditimpanya ketimbang apel. Apalagi kulit durian dipenuhi
duri-duri tajam. Tapi mengapa sebagian besar kita memandang peristiwa
jatuhnya buah-buahan tropis ini sebagai hal yang biasa saja, tidak
seperti Newton. Yang jelas, ini bukan karena orang yang tertimpa
buah durian atau nangka merasa kesakitan dan kapok sehingga tak
mau berpikir tentang fenomena alam tersebut. Lalu apa pasalnya?
Di zaman Newton, apel adalah buah yang akrab didengar
dan umum dimakan masyarakat Inggris, bahkan hingga hari ini oleh
hampir semua orang di dunia. Beberapa mereka mungkin pernah pula
kejatuhan apel seperti yang dialami Newton. Tapi yang membedakan
di sini adalah perbuatan Newton: “mempertanyakan mengapa apel
jatuh ke arah bawah”. Di sinilah kuncinya. Newton melakukan
sesuatu yang selalu diabaikan kebanyakan orang: mengkaji sesuatu
yang tampak ‘biasa saja’. Ketertarikan pada fenomena
alam yang ‘biasa saja’ inilah yang menjadikan Newton
yang awalnya hanya sebuah nama bagi dirinya, menjadi Newton sebagai
julukan hukum gravitasi temuannya.

Di zaman Newton, apel adalah buah yang akrab didengar dan umum
dimakan masyarakat Inggris, bahkan hingga hari ini oleh hampir
semua orang di dunia. Beberapa mereka mungkin pernah pula kejatuhan
apel seperti yang dialami Newton. Tapi yang membedakan di sini
adalah perbuatan Newton: “mempertanyakan mengapa apel
jatuh ke arah bawah”. Di sinilah kuncinya. |
Begitulah, ketertarikan mendalam terhadap peristiwa
alam merupakan pintu gerbang menuju perkembangan ilmu pengetahuan.
Para ilmuwan terkemuka perintis ilmu pengetahuan dari Timur Tengah
maupun Barat adalah mereka yang memiliki ketertarikan terhadap gejala
alam di sekitar mereka. Lebih dari itu, kegiatan ilmiah mereka ternyat
a didorong oleh sesuatu yang jauh di atas tujuan duniawi dan kesenangan
sesaat semata. Para ilmuwan ini beriman kepada Tuhan dan mengabdi
kepada ilmu pengetahuan dengan niat menyingkap rahasia alam ciptaan-Nya.
Newton berkata, “Kita mengenal-Nya hanya melalui perancangan-Nya
yang paling bijak dan luar biasa atas segala sesuatu... [Kita] memuji
dan mengagungkan-Nya sebagai hamba-Nya...” (Sir Isaac
Newton, Mathematical Principles of Natural Philosophy, Great Books
of the Western World 34, William Benton, Chicago, 1952:273-74)
Demikianlah, manusia hendaknya menyaksikan peristiwa
alam di hadapannya tidak dengan kaca mata “biasa saja”.
Sebab Allah menciptakan segala sesuatu di alam dengan perancangan
sempurna dan perhitungan cermat. Bukti keagungan Pencipta hanya
dapat dipahami oleh mereka yang terbiasa memikirkan secara mendalam
atas segala yang mereka saksikan, tanpa menunggu hal yang ‘luar
biasa’ seperti jatuhnya buah durian ke atas!
Surat Pembaca
1. PENEMUAN TERBARU
Assalamualaikum, Wr. Wb.
Saya turut bergembira dengan terbitnya insight karena
isinya memuat tentang pengetahuan ilmiah populer. Sebagai mahasiswa
saya sedikit ada saran buat insight yaitu:
1.Tolong dalam edisi berikutnya ditulis tentang penemuan
terbaru (terutama dalam tokoh Islam)
2.Tolong dimuat tentang riwayat hidup ilmuwan Muslim yang telah
memiliki jasa besar terhadap ilmu pengetahuan.
Atas perhatian yang di berikan saya ucapkan terimakasih.
Wassalam.
Omer Dhanny <umar…xxx@xxx.com>
Redaksi: Terima kasih,semoga
Allah merahmati Anda. Masukan yang baik dari Anda ini akan kami
pertimbangkan.
2. RUBRIK ILMUWAN MUSLIM
Assalammu'alaikum wr wb!
Alhamdulillah, saya sangat antusias akan terbitnya buletin sains.
Saya langsung tertarik ketika melihat publikasi "Insight"
edisi perdana yang terbit Maret 2003. Tetapi setelah saya tunggu-tunggu
tak kunjung datang juga sampai saya melihat publikasi akan terbit
edisi April. Tadinya saya berpikir adanya penundaan terbitnya edisi
perdana, dengan penantian yg cukup lama karena saya baru mendapatkan
edisi april pada pertengahan Mei, saya mengetahui bahwa saya ketinggalan
edisi perdana.
Apakah edisi perdana hanya diedarkan di Jabotabek saja? Karena
saya tidak mendapatkannya di Yogya. Bisakah saya mendapatkan edisi
perdana? Bagaimana caranya?
Oh iya usul, bagaimana kalau diadakan rubrik profil ilmuwan Muslim
agar kita tidak hanya mengetahui Einstein, Newton, Galileo, Archimedes
dkk saja.
Tolong mengenai distribusi lebih ditingkatkan, agar yg di luar
Jabotabek bisa mendapatkan "Insight" tepat waktu.
Keep the spirit!
Jazakumullah khairan katsir.
Wassalam,
Uli < x_zero…xxx@xxx.com >
Pogung Kidul SIA XVI/VI/No.1 Yogyakarta 55284
Dari Kami
Perubahan
Assalamu’alaikum wr. wb.
Pembaca budiman, tanpa disadari, kini kita sedang meninggalkan
paruh pertama tahun 2003. Tidak ada yang aneh memang. Seringkali
waktu yang berlalu terasa begitu cepat. Mungkin yang aneh adalah
kelengahan kita untuk memperhatikan dan memikirkan secara mendalam
apa-apa yang terjadi di sekeliling kita dalam waktu yang singkat
ini.

Pembaca budiman, kami yakin Anda bukanlah termasuk golongan yang
lengah ini. Paling tidak, Anda memperhatikan perubahan yang terjadi
pada buletin yang tengah Anda baca sekarang. Setiap perubahan pastilah
terjadi dengan tujuan dan maksud tertentu. Begitu pula dengan buletin
kesayangan Anda ini, yang tentunya berubah agar semakin lekat di
hati pembacanya.
Sejak edisi bulan lalu, kami telah menambah kolom iptek untuk Anak.
Hal ini dilakukan dengan harapan dapat menampilkan sesuatu yang
menjadikan anak-anak kagum terhadap makhluk Allah. Dari sini diharapkan
mereka nantinya menjadi tertarik untuk mengamati dan mempelajari
ciptaan Allah, sehingga semakin mengenal keagungan-Nya.
Disamping itu, kami juga memberikan kesempatan bagi siapa pun yang
ingin mengirimkan tulisan ilmiah populernya untuk dimuat di buletin
ini. Kami berharap ini akan menjadi sarana bagi Anda semua untuk
mengungkapkan kekaguman Anda pada ciptaan Allah yang pernah Anda
saksikan, ataupun dari ilmu pengetahuan yang Anda tekuni. Kami tunggu
tulisan-tulisan Anda yang insya Allah akan sangat bermanfaat bagi
para pembaca lainnya!
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Redaksi.
Bahasan Utama - 1
Tatkala Unta Mulai Dipikirkan...

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana
dia diciptakan?”
(QS. Al Ghaasyiyah, 88:17) |
Empat belas abad silam Allah
menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia.
Saat itu, masyarakat Arab benar-benar berada dalam kemunduran dan
kekacauan. Namun, cahaya yang dibawa Al Qur’an dengan sangat
luar biasa mampu merubahnya.
Arab pra-Islam adalah bangsa biadab penyembah berhala
buatan mereka sendiri. Selain meyakini perang dan pertumpahan darah
sebagai jalan kemuliaan, mereka pun tega membunuh anak sendiri.
Namun, dengan Islam mereka belajar nilai kemanusian, rasa hormat,
cinta kasih, keadilan dan peradaban. Bahkan tak hanya bangsa Arab,
semua masyarakat yang menerima Islam keluar dari gelapnya zaman
kebodohan (jahiliyah), dan tersinari hikmah Ilahiah yang dikandung
Al Qur’an. Di antara pencerahan Al Qur’an kepada manusia
adalah pola pikir ilmiah.
Dasar berpikir ilmiah adalah rasa keingintahuan. Karena
bertanya-tanya tentang bagaimana jagat raya dan alam kehidupan bekerja,
manusia menyelidiki dan menjadi tertarik pada ilmu pengetahuan.
Namun tidak banyak yang memiliki rasa ingin tahu ini. Bagi mereka,
yang penting bukanlah rahasia alam semesta dan kehidupan, tapi keuntungan
dan kenikmatan dunia yang sedikit.
Dalam masyarakat yang diperintah oleh para pemimpin
yang berpola pikir demikan, ilmu pengetahuan
tidak berkembang. Kejumudan dan kebodohan merajalela, sebagaimana
yang membelenggu masyarakat Arab sebelum turunnya Al Qur’an.
Namun ayat-ayat Al Qur’an menyeru mereka berpikir, meneliti,
menggunakan akal mereka; sesuatu yang barangkali baru pertama mereka
alami sepanjang hidup. Dalam salah satu ayat Al Qur’an yang
diturunkan di masa awal, Allah mengarahkan perhatian masyarakat
Arab kepada unta, hewan yang menjadi bagian kehidupan mereka sehari-hari:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana
dia diciptakan?” (QS. Al Ghaasyiyah, 88:17)

1. KEPALA YANG TERLINDUNGI DARI PASIR:
• Bulu mata unta memiliki sistem berpautan. Tatkala
ada bahaya, bulu-bulu mata ini secara otomatis menutup. Bulu-bulu
mata yang berpautan ini mencegah masuknya butiran-butiran
debu memasuki mata unta.
• Hidung dan telinga unta tertutupi oleh rambut-rambut
panjang untuk melindunginya dari pasir dan debu.
• Leher yang panjang memungkinkan unta mencapai dan
memakan dedaunan yang terletak beberapa meter di atas permukaan
tanah.
2. KAKI YANG SESUAI UNTUK SEGALA JENIS DARATAN:
• Kaki unta terdiri dari jari-jemari yang tersambungkan
dengan telapak yang lentur. Bentuk dan susunan ini, yang memungkinkannya
menapak kokoh pada permukaan tanah, terdiri dari empat gumpalan
berlemak. Ini benar-benar sesuai untuk segala jenis keadaan
tanah.
• Kuku-kuku kaki unta melindungi kaki dari kerusakan
yang mungkin terjadi akibat sandungan.
• Seluruh lutut unta tertutupi oleh risa (lapisan kulit
tebal), yang tersusun atas kulit setebal dan sekeras tanduk.
Ketika unta berbaring di atas permukaan pasir panas, lapisan
kulit tebal ini melindunginya dari luka akibat permukaan tanah
yang sangat panas.
3. PUNUK SEBAGAI SIMPANAN CADANGAN MAKANAN
Punuk unta, yang berupa timbunan lemak, menyediakan zat
makanan bagi unta secara berkala saat paceklik dan kelaparan.
Dengan perangkat ini, unta mampu bertahan hidup hingga tiga
minggu tanpa air, hingga kehilangan 33% bobot badannya.
Pada keadaan yang sama, manusia akan kehilangan 8% berat
tubuhnya dan mati dalam waktu 36 jam, tanpa sedikit pun
air tersisa dalam tubuhnya.
4. WOL PELINDUNG PANAS DAN DINGIN:
• Wol ini terdiri dari rambut lebat dan bertautan
yang tak hanya melindungi tubuh unta dari dingin yang membeku
atau panas yang membakar, tetapi juga mencegah hilangnya
air dari dalam tubuhnya. Unta Dromedary mampu memperlambat
proses berkeringat dengan menaikkan suhu tubuhnya hingga
41oC. Hal ini mencegah kehilangan air.
• Dengan wolnya yang tebal, unta di Asia mampu bertahan
hidup hingga suhu +50oC di musim panas dan hingga -50oC
di musim dingin.
|
Di banyak ayat Al Qur’an lainnya, manusia diseru
mengkaji alam dan belajar darinya, sebab manusia dapat mengenal
Pencipta hanya dengan meneliti ciptaan-Nya. Karenanya, dalam sebuah
ayat, kaum Muslimin disebut sebagai orang yang berpikir tentang
penciptaan langit dan bumi: “(yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring
dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
(QS. Ali ‘Imran, 3:191)
Alhasil, bagi seorang Muslim, melakukan pengkajian
ilmiah adalah sebentuk ibadah yang sangat penting. Di banyak ayat
Al Qur’an, Allah menyeru kaum Muslimin untuk meneliti langit,
bumi, makhluk hidup atau keberadaan diri mereka sendiri, dan memikirkannya.
Ketika mengkaji ayat-ayat tersebut, akan kita temukan petunjuk tentang
seluruh cabang utama ilmu pengetahuan dalam Al Qur’an. Misalnya,
dalam Al Qur’an, Allah menganjurkan mempelajari ilmu astronomi
sebagaimana berikut:
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.
Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah
sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah
kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (QS. Al Mulk, 67:3)
Di ayat lain, misalnya, Allah menyeru pengkajian terhadap ilmu
astronomi dan geologi (QS. Qaaf, 50:6-8), botani (QS. Al An’aam,
6:99), zoologi (QS. An Nahl, 16:66), arkeologi dan antropologi (QS.
Ar Ruum, 30:9), ilmu tentang manusia (QS. Adz Dzaariyaat, 51:20-21),
dan lain sebagainya.
Demikianlah, dalam Al Qur’an Allah menyeru kaum Muslimin
untuk mempelajari semua cabang ilmu pengetahuan. Tidak heran jika
dalam sejarah, perkembangan Islam secara bersamaan mendorong perkembangan
ilmu pengetahuan.
Bahasan Utama - 2
Cahaya Penghancur Berhala
Ketika
Nabi Muhammad SAW mulai mendakwahkan Islam, Arab adalah sebuah masyarakat
jahiliyyah penganut takhayyul. Tapi, berkat cahaya Al Qur’an,
mereka kemudian terbebaskan dari takhayyul dan mulai menggunakan
akal mereka. Akibatnya, salah satu perkembangan mencengangkan dalam
sejarah dunia pun terjadi. Dalam beberapa puluh tahun saja, Islam,
yang muncul dari kota kecil bernama Madinah, tersebar dari Afrika
hingga Asia Tengah.
Masyarakat Arab, yang dulunya tak mampu
mengurus satu kota pun dengan rukun, menjadi penguasa imperium dunia.
Dalam bukunya The Straight Path, pakar Islam asal Amerika, Profesor
John Esposito, menjelaskan sisi menakjubkan tentang kemunculan Islam
sebagaimana berikut:
Yang paling mencengangkan tentang perluasan
wilayah kekuasaan Islam di masa awal adalah kecepatan dan keberhasilannya.
Para pakar Barat merasa takjub akan hal ini… Dalam satu dasawarsa,
pasukan Arab menaklukkan angkatan perang Bizantium dan Persia…dan
menguasai Irak, Suriah, Palestina, Persia dan Mesir… Pasukan
Muslim tampil sebagai penakluk yang sulit terkalahkan dan penguasa
yang berhasil, pembangun dan bukan perusak. (John L. Esposito, Islam:
The Straight Path, 1998, hlm. 33)
Ketika beragam bangsa, termasuk Turki,
menerima Islam atas kehendak mereka sendiri, imperium Islam tumbuh
semakin besar dan menjadi kekuatan terbesar di dunia pada masanya.
Salah satu sisi terpenting imperium ini adalah terbukanya babak
perkembangan ilmu pengetahuan yang tak tertandingi sebelumnya dalam
sejarah.

“Pasukan Muslim tampil sebagai penakluk yang sulit terkalahkan
dan penguasa yang berhasil, pembangun dan bukan perusak.”
(John L. Esposito, Islam: The Straight Path, 1998, hlm. 33) |
Di masa ketika Eropa tengah mengalami
Masa Kegelapan, dunia Islam telah membangun warisan terbesar ilmu
pengetahuan yang pernah disaksikan sejarah hingga saat itu. Ilmu
kedokteran, matematika, geometri, astronomi, dan bahkan sosiologi
dikembangkan secara sistematis untuk kali pertama.
Sejumlah pengulas berusaha mengaitkan
perkembangan ilmu pengetahuan Islam ini dengan pengaruh Yunani Kuno.
Namun, sumber sesungguhnya ilmu pengetahuan Islam adalah penelitian
dan pengamatan para ilmuwan Muslim itu sendiri. Dalam bukunya The
Middle East, Profesor Bernard Lewis, pakar sejarah Timur Tengah,
menjelaskannya sebagai berikut:
Pencapaian ilmu pengetahuan Islam abad
pertengahan tidaklah terbatas pada pelestarian warisan keilmuwan
Yunani, bukan pula penggabungan unsur-unsur warisan budaya Timur
yang lebih tua dan lebih jauh kepada bangunan ilmu pengetahuan tersebut.
Warisan ini, yang dilimpahkan para ilmuwan Islam abad pertengahan
kepada dunia modern, sungguh sangat diperkaya oleh daya upaya dan
sumbangsih mereka sendiri. Ilmu pengetahuan Yunani, secara keseluruhan,
lebih cenderung bersifat teoritis. Ilmu pengetahuan Timur Tengah
abad pertengahan lebih banyak bersifat praktis, dan dalam bidang-bidang
seperti kedokteran, kimia, astronomi, dan agronomi, warisan masa
lalu tersebut diperjelas dan diperkaya dengan penelitian dan pengamatan
para ilmuwan Timur Tengah abad pertengahan. (Bernard Lewis, The
Middle East, 1998, hlm. 266)
Rahasianya adalah disiplin ilmiah dan
pola pikir yang diajarkan Al Qur’an kepada para ilmuwan Muslim.
Baris-baris tulisan seorang ilmuwan Muslim masa itu dalam catatan
hariannya dengan sangat jelas menunjukkan betapa gagasan ilmu pengetahuan
berdasarkan Al Qur’an benar-benar diterapkan:

Ali Kushchu, ilmuwan abad ke-15th yang pertama kali membuat
peta bulan. Namanya dijadikan sebagai nama salah satu wilayah
di bulan. |
Kemudian, selama satu setengah tahun,
saya mencurahkan hidup saya untuk belajar....Selama masa ini, saya
tak pernah tidur semalaman penuh dan tak melakukan apa pun selain
belajar seharian penuh. Kapan pun saya menemukan kesulitan... Saya
akan pergi ke masjid, sholat, dan memohon kepada Pencipta Segala
Sesuatu untuk menunjukkan kepada saya apa yang tersembunyi dari
saya, dan menjadikannya mudah bagi saya sesuatu yang sebelumnya
sulit. Lalu di malam hari saya akan kembali ke rumah, meletakkan
pelita di depan saya, dan memulai membaca dan menulis... Saya terus
melakukan ini hingga saya memiliki dasar yang kuat di seluruh cabang
ilmu pengetahuan dan menguasainya sejauh mungkin. (John L. Esposito,
Islam: The Straight Path, 1998, hlm. 54)
Andalusia (sekarang Spanyol), tempat
kebanyakan ilmuwan Muslim dilahirkan dan dibesarkan, menjadi pusat
utama kemajuan dan perkembangan, khususnya di bidang kedokteran.
Para dokter Muslim sangat ahli di berbagai bidang seperti farmakologi,
ilmu bedah, optalmologi, ginekologi, fisiologi, bakteriologi, dan
ilmu kesehatan. Mereka juga membuat sejumlah penemuan penting yang
meletakkan landasan bagi ilmu pengetahuan modern. Sebagian kecil
dari mereka adalah:
Ibn Juljul (Tanaman obat-obatan), Abu
Ja'far Ibn al-Jazzar (Kedokteran), Abd al-Latif al-Baghdadi (Anatomi),
Ibn Sina (Anatomi), Zakariya Qazwini (Jantung dan otak), Hamdullah
al-Mustaufi al-Qazwini (Anatomi), Ibn al-Nafis (Anatomi), Ali bin
Isa (Anatomi mata), Biruni (Astronomi), Ali Kushchu (Astronomi),
Thabit ibn Qurrah (Matematika), Battani (Matematika), Ibn al-Haitsam
(Optik), Al-Kindi (Fisika).
Budaya ilmiah yang maju di dunia Islam
ini membuka jalan bagi abad Kebangkitan Barat. Para ilmuwan Muslim
bertindak atas pemahaman bahwa penelitian mereka terhadap ciptaan
Allah adalah jalan yang dengannya mereka dapat mengenal Allah. Dengan
berpindahnya cara berpikir ini ke dunia Barat, kemajuan Barat pun
dimulai.
Bahasan Utama - 3
Mentari pun Bersinar di Barat
Eropa
Abad pertengahan diperintah oleh penguasa dogmatis Gereja Katolik.
Gereja melarang kebebasan berpikir dan mengekang para ilmuwan. Orang-orang
dapat dihukum hanya karena menganut keyakinan atau pemikiran yang
berbeda. Buku-buku karya mereka dibakar dan mereka sendiri dihukum
mati.
Pengekangan terhadap kegiatan penelitian
di Abad Pertengahan seringkali disinggung dalam buku-buku sejarah.
Namun sebagian kalangan menafsirkan keadaan tersebut secara keliru
dan menyatakan bahwa para ilmuwan yang berselisih dengan Gereja
adalah penentang agama. Namun, yang sesungguhnya terjadi justru
sebaliknya – para ilmuwan yang menentang fanatisme Gereja
adalah kaum beriman yang taat beragama. Mereka tidak menentang agama
akan tetapi menentang dogma Gereja. Misalnya, ahli astronomi terkenal
Galileo, yang hendak dihukum oleh pihak gereja karena menyatakan
bahwa bumi berputar pada porosnya, mengatakan:
“Saya haturkan rasa syukur
tak terkira kepada Tuhan yang begitu baiknya telah memilih saya
sendiri sebagai yang pertama menyaksikan pemandangan menakjubkan
yang selama ini tersembunyi dalam kegelapan selama berabad-abad
yang lalu.” (Galileo Galilei, dikutip dalam: Mike Wilson,
“The Foolishness of the Cross,” Focus Magazine)

Gereja Katolik yang mengabaikan wahyu yang disampaikan oleh
Nabi Isa AS, mengambil ajaran dan kebijakan yang tidak sejalan
dengan agama. Bahkan ilmuwan seperti Galileo menghadapi tentangan
keras dari pihak Gereja. Gambar ini melukiskan pengadilan Galileo
selama masa inquisisi. |
Para ilmuwan lain yang meletakkan landasan bagi bangunan ilmu pengetahuan
modern, semuanya adalah orang taat beragama. Kepler, yang dianggap
sebagai pendiri astronomi modern, berkata kepada mereka yang bertanya
mengapa ia menyibukkan diri dengan ilmu pengetahuan:
“Saya memiliki niat menjadi seorang ahli
teologi... namun dengan pekerjaan saya ini, kini saya menyaksikan
bagaimana Tuhan juga diagungkan dalam astronomi, sebab ‘langit
menyatakan keagungan Tuhan”’. (Johannes Kepler, dikutip
dalam: J.H. Tiner, Johannes Kepler-Giant of Faith and Science (Milford,
Michigan: Mott Media, 1977), hlm. 197)
Newton, salah seorang ilmuwan terbesar dalam sejarah, menjelaskan
alasan yang mendasari dorongan kuatnya dalam melakukan kegiatan
ilmiah dengan mengatakan:
“... Dia (Tuhan) adalah kekal dan tak terbatas,
Maha Kuasa dan Maha Mengetahui; dengan kata lain, masa keberadaan-Nya
dari kekekalan hingga kekekalan; keberadaan-Nya dari ketakberhinggaan
hingga ketakberhinggaan, Dia mengatur segala sesuatu, dan mengetahui
segala sesuatu yang diadakan atau dapat diadakan... Kita mengenal-Nya
hanya melalui perancangan-Nya yang paling bijak dan luar biasa atas
segala sesuatu... [Kita] memuji dan mengagungkan-Nya sebagai hamba-Nya...”
(Sir Isaac Newton, Mathematical Principles of Natural Philosophy,
Translated by Andrew Motte, Revised by Florian Cajore, Great Books
of the Western World 34, Robert Maynard Hutchins, Editor in chief,
William Benton, Chicago, 1952:273-74)
Von Helmont, salah seorang tokoh terkemuka di bidang kimia modern
dan penemu termometer, menyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah
bagian dari iman.
 |
 |
 |
 |
| Sang jenius Pascal, bapak matematika modern, mengatakan bahwa:
“Tapi dengan keimanan kita mengenal keberadaan (Tuhan);
dalam keagungan kita akan mengenal sifat-Nya.” |
George Cuvier, pendiri palaeontologi modern, menganggap fosil
sebagai bukti-bukti Penciptaan yang kini masih ada dan mengajarkan
bahwa spesies makhluk hidup telah diciptakan oleh Tuhan. |
Carl Linnaeus, yang pertama kali menyusun klasifikasi ilmiah,
meyakini penciptaan dan menyatakan bahwa keteraturan di alam
merupakan satu bukti penting keberadaan Tuhan. |
Gregor Mendel, pendiri ilmu genetika, yang juga seorang biarawan,
meyakini Penciptaan dan menentang teori-teori evolusi di zamannya
seperti Darwinisme dan Lamarckisme. |
 |
 |
 |
 |
| Louis Pasteur, nama terbesar dalam sejarah mikrobiologi, membuktikan
bahwa kehidupan tak dapat diciptakan melalui benda mati dan
mengajarkan bahwa kehidupan merupakan keajaiban Tuhan. |
Fisikawan Jerman terkenal, Max Planck, mengatakan bahwa Pencipta
jagat raya adalah Tuhan dan menegaskan bahwa keimanan adalah
sifat wajib bagi para ilmuwan. |
Albert Einstein, yang dianggap sebagai ilmuwan terpenting
abad ke-20, meyakini bahwa ilmu pengetahuan tidak mungkin me
niadakan Tuhan dan mengatakan, “ilmu pengetahuan tanpa
agama adalah pincang.” |
Isaac Newton: “... Dia (Tuhan) adalah kekal dan tak
terbatas, Maha Kuasa dan Maha Mengetahui; dengan kata lain,
masa keberadaan-Nya dari kekekalan hingga kekekalan...” |
Sejumlah besar para ilmuwan lain yang mengendalikan sejarah ilmu
pengetahuan adalah orang-orang taat beragama yang beriman kepada
Tuhan, sebagian kecil di antara mereka adalah:
Leonardo da Vinci (1452-1519) (Seni, rekayasa, arsitektur), Georgius
Agricola (1494-1555) (Mineralogi), Nicolas Steno (1631-1686) (Stratigrafi),
Thomas Burnet (1635-1715) (Geologi), Increase Mather (1639-1723)
(Astronomi), Nehemiah Grew (1641-1712) (Kedokteran), John Dalton
(1766-1844) (Pendiri teori atom modern), Johann Gauss (1777-1855)
(Geometri, geologi, magnetisme, astronomi), Benjamin Silliman
(1779-1864) (Mineralogi), Peter Mark Roget (1779-1869) (Fisiologi),
William Buckland (1784-1856) (Geologi), William Whewell (1794-1866)
(Astronomi and Fisika), Richard Owen (1804-1892) (Zoologi, Paleontologi),
Balfour Stewart (1828-1887) (Listrik Ionosfir), P.G.Tait (1831-1901)
(Fisika, Matematika), Edward William Morley (1838-1923) Pemenang
hadiah Nobel Fisika, Sir William Abney (1843-1920) (Astronomi),
William Mitchell Ramsay (1851-1939) (Arkeologi), William Ramsay
(1852-1916) (Kimia), Sir Cecil P. G. Wakeley (1892-1979) (Kedokteran),
dan lain sebagainya.
Semua ilmuwan ini beriman kepada Tuhan dan mengabdi kepada ilmu
pengetahuan dengan niat menyingkap rahasia alam semesta yang telah
diciptakan-Nya. Mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan
bumi dan meneliti dengan pemahaman akan keberadaan dan kekuasaan
Allah.
Lahirnya ilmu pengetahuan beserta perkembangannya adalah hasil
dari pemahaman ini.
Berita Iptek
“Intelligent Design”
Abad
ke-19 menyaksikan sebuah kekeliruan terbesar dalam sejarah umat
manusia. Ini berawal dengan dikenalkannya filsafat materialis warisan
Yunani kuno kepada pemikiran bangsa Eropa.
Kekeliruan ini adalah teori evolusi Darwin. Sebelum
kemunculan Darwinisme, biologi diterima sebagai cabang ilmu pengetahuan
yang membuktikan keberadaan Tuhan. Dalam bukunya Natural Theology,
biologiwan terkenal William Paley menyatakan, “...setiap
jam menunjukkan keberadaan pembuat jam, rancangan di alam membuktikan
keberadaan Tuhan.”
Tetapi, teori evolusi Darwin menolak kebenaran ini.
Dengan memutarbalikkan kebenaran agar sesuai dengan filsafat materialis,
ia menyatakan bahwa seluruh makhluk hidup muncul akibat peristiwa
alamiah biasa, tanpa ada unsur kesengajaan. Dengan kata lain, secara
kebetulan. Dengan cara ini, ia memunculkan pemisahan semu antara
agama dan ilmu pengetahuan.
Dalam buku The Messianic Legacy, para peneliti Inggris
Michael Baigent, Richard Leigh dan Henry Lincoln berkata tentang
hal ini:
Bagi Isaac Newton, satu setengah abad sebelum Darwin,
ilmu pengetahuan tidaklah terpisah dari agama, bahkan sebaliknya,
menjadi bagian dari agama, dan pada akhirnya mengabdi kepadanya....Akan
tetapi ilmu pengetahuan masa Darwin menjadi persis sedemikian itu,
yakni memisahkan dirinya sendiri dari kerangka tempat dulunya ia
berada, dan mengukuhkan dirinya sendiri sebagai pesaing mutlak,
sebagai pemberi penjelasan tandingan. Alhasil, agama dan ilmu pengetahuan
tak lagi bekerja seiring, tapi berdiri saling berhadap-hadapan,
dan umat manusia semakin dipaksa untuk memilih di antara keduanya.
(Michael Baigent, Richard Leigh, Henry Lincoln, The Messianic Legacy,
Gorgi Books, London:1991, hlm.177-178)
Tidak hanya biologi, cabang-cabang ilmu pengetahuan seperti psikologi
dan sosiologi pun dipaksakan agar sesuai dengan filsafat materialis.
Astronomi dibelokkan mengikuti dogma materialis Yunani kuno. Tujuan
baru ilmu pengetahuan adalah untuk mengukuhkan kebenaran filsafat
materialis. Gagasan keliru ini telah menyeret dunia ilmu pengetahuan
kepada kebuntuan selama 150 terakhir.
Puluhan ribu ilmuwan dari berbagai cabang ilmu bekerja dengan berpengharapan
akan mampu membuktikan Darwinisme atau teori-teori materialis lainnya.
Namun mereka kecewa. Bukti-bukti ilmiah menunjukkan sesuatu yang
malah bertentangan dengan kesimpulan yang ingin mereka capai. Dengan
kata lain, bukti-bukti tersebut malah mengukuhkan kebenaran Penciptaan.
Kini dunia ilmu pengetahuan sangat tercengang oleh kenyataan ini.
Ketika alam diteliti, maka yang muncul adalah adanya perencanaan
dan perancangan besar di setiap bagian-bagian terkecilnya. Hal ini
telah meruntuhkan landasan berpijak filsafat materialis. Misalnya,
struktur luar biasa DNA mengungkap kepada para ilmuwan bahwa DNA
bukanlah hasil peristiwa tak disengaja. DNA dalam satu sel manusia
berisi informasi yang cukup untuk memenuhi seluruh ensiklopedia
yang terdiri atas 900 jilid. Gene Myers, seorang ilmuwan dari perusahan
Celera yang menangani Human Genome Project (Proyek Genome Manusia),
menyatakan berikut ini:

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kini
telah banyak para ilmuwan di dunia Barat yang telah menyadari
kelirunya gagasan tentang evolusi. Kerumitan dan kesempurnaan
rancangan dan tatanan alam semesta dan makhluk hidup telah mengarahkan
mereka pada kesimpulan tentang kemustahilan pembentukan jagat
raya dan segala isinya secara mandiri, karena peristiwa alamiah
belaka, tanpa kecerdasan yang sengaja menciptakannya. Para pakar
ini berusaha agar penjelasan tentang “Perancangan Cerdas”
(Intelligent Design) yang sangat ilmiah ini diterima sebagai
alternatif di dunia ilmiah melalui berbagai studi dan publikasi
yang mereka buat. Di antaranya adalah melalui sejumlah lembaga
dan situs internet yang mereka punyai: Discovery Institute (www.discovery.org),
Intelligent Design Network (www.intelligentdesignnetwork.org),
International Society for Complexity, Information, and Design
– ISCID (www.iscid.org), Access Research Network –
ARN (www.arn.org), dsb. |
Apa yang sungguh mengejutkan saya adalah arsitektur
kehidupan... Sistemnya sungguh luar biasa kompleks. Seolah ini telah
dirancang... Terdapat kecerdasan mahahebat di sana. (San Francisco
Chronicle, 19 February 2001)
Keterkejutan ini mengguncang seluruh dunia ilmu pengetahuan. Para
ilmuwan memandang dengan takjub ketidakabsahan filsafat materialis
dan Darwinisme yang dulunya diajarkan kepada mereka sebagai suatu
kebenaran. Sebagian mereka bahkan menyatakannya secara terbuka.
Dalam bukunya Darwin’s Black Box, salah seorang dari para
tokoh ini, Profesor Biokimia asal Amerika, Michael Behe, menjelaskan
keadaan dunia ilmu pengetahuan sebagaimana berikut:
Selama empat puluh tahun terakhir, biokimia
modern telah menyingkap rahasia sel. Kemajuan ini dicapai dengan
susah payah. Diperlukan puluhan ribu orang yang membaktikan sebagian
besar masa hidupnya untuk pekerjaan laboratorium yang membosankan....
Hasil kerja keras kumulatif untuk meneliti kehidupan di tingkat
molekuler ini adalah teriakan yang lantang, jelas, dan nyaring:
“desain!”. Hasil ini demikian jelas dan penting sehingga
patut digolongkan sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah
ilmu pengetahuan...Namun, tidak ada sambutan meriah, tidak ada tangan
yang bertepuk. Mengapa masyarakat ilmiah tidak menyambut penemuan
mengejutkan ini dengan penuh kegirangan? Yang menjadi masalah adalah
ketika salah satu sisi penemuan ini diberi nama desain cerdas, maka
sisi yang lain haruslah diberi nama TUHAN. (Michael J.Behe, Darwin's
Black Box, New York: Free Press, 1996, hlm. 231-232)
Hal yang sama terjadi di bidang astronomi. Astronomi abad ke-20
telah menghancurkan teori-teori materialis abad ke-19. Pertama-tama,
dengan dibuktikannya Big Bang, terungkap bahwa jagat raya memiliki
awal, yakni saat Penciptaannya. Sejak itu, disadari bahwa di jagat
raya terdapat keseimbangan yang luar biasa cermat dan peka yang
melindungi kehidupan manusia.
Karena alasan ini, di dunia fisika dan astronomi, atheisme mengalami
kemunduran pesat. Sebagaimana fisikawan Amerika, Robert Griffiths,
yang berkata sambil bergurau:
Jika kami memerlukan seorang atheis untuk berdebat, Saya akan pergi
ke jurusan filsafat. Jurusan fisika tidak begitu ada gunanya. (Hugh
Ross, The Creator and the Cosmos, hlm. 123)

Dr. Allan Sandage, salah seorang pakar astronomi masa kini,
memilih menerima Tuhan di usia 50 tahun. Dalam sebuah wawancara
yang dimuat majalah Newsweek, dengan judul pada sampul depannya
“Science Finds God” (Ilmu Pengetahuan Menemukan
Tuhan), Sandage menjelaskan mengapa ia menerima agama: “Ilmu
pengetahuan sayalah yang mengarahkan saya pada kesimpulan bahwa
alam semesta ini lebih rumit daripada yang dapat dijelaskan
oleh ilmu pengetahuan. Hanya melalui [penjelasan] di luar peristiwa
alamiah saya dapat memahami rahasia keberadaan.” |
Singkatnya, di saat dan di masa kita, filsafat materialis tengah
mengalami keruntuhan. Ilmu pengetahuan menemukan kembali fakta-fakta
sangat penting dan pasti yang diingkari filsafat materialis, dan
dengan demikian konsep ilmu pengetahuan yang baru tengah dilahirkan.
Teori “Intelligent Design” (Perancangan
Cerdas) yang mengalami kemajuan pesat di Amerika Serikat selama
10 tahun terakhir berada di barisan terdepan dari gagasan ilmu pengetahuan
yang baru ini. Salah satu situs mereka adalah http://www.intelligentdesignnetwork.org.
Mereka yang menerima teori ini mengatakan bahwa Darwinisme adalah
kekeliruan terbesar dalam sejarah ilmu pengetahuan, dan bahwa terdapat
perancangan cerdas di alam yang membuktikan adanya Penciptaan. Misalnya,
mikrobiologiwan Australia, Michael Denton, menyatakan bahwa organ-organ
rumit makhluk hidup tidak dapat dijelaskan melalui evolusi:
Inilah pertanyaan paling mendasar yang dihindari setiap orang,
yang diabaikan, dan yang dicoba-sembunyikan setiap orang... Kenyataan
sesungguhnya adalah bahwa kebanyakan adaptasi kompleks di alam ini
tidak dapat dijelaskan secara memuaskan dengan pembentukan melalui
serangkaian bentuk-bentuk peralihan... Dan ini pada kenyataannya
adalah suatu, sejauh yang saya pahami, masalah yang sangat mendasar.
Faktanya adalah terdapat sedemikian banyak hal seperti ini... Bagi
saya tidak menjadi soal, ada sesuatu yang salah dengan teori tersebut.
Pikiran sehat memberitahu saya pastilah ada sesuatu yang salah...
Biologiwan terkenal Jerman, Werner Gitt, menjelaskan bagaimana
informasi genetis pada makhluk hidup membuktikan Penciptaan dalam
ungkapan berikut ini:
Mustahil jika informasi baru berasal dari suatu proses acak. Jika
Anda melihat suatu program komputer, program ini memerlukan keberadaan
seorang pembuat program. Jika Anda menyaksikan sebuah mobil, mobil
tersebut memerlukan keberadaan perancangnya. Jika Anda melihat informasi
biologis di dalam sel, maka Anda wajib berkata – sebuah kesimpulan
yang benar – bahwa informasi ini memerlukan Pencipta yang
telah menciptakan program berupa gen-gen, untuk menciptakan protein-protein,
untuk menciptakan organ-organ. Adalah wajib bagi Anda berkesimpulan
demikian. Jadi, dapat kita katakan bahwa evolusi adalah sebuah proses
yang mustahil.

Profesor Biokimia asal Amerika Serikat, Michael Behe: “
Saya pikir kesimpulan tentang desain adalah sesuatu yang ilmiah,
yang empiris, benar-benar didasarkan pada sistem yang teramati...
Jagat raya dan kehidupan dikehendaki ada, ini semua adalah hasil
kerja cerdas.” |
Profesor Biokimia Amerika, Michael Behe, menjelaskan mengapa keberadaan
Pencipta adalah sebuah fakta ilmiah:
Saya pikir kesimpulan tentang desain adalah sesuatu yang ilmiah,
yang empiris, benar-benar didasarkan pada sistem yang teramati...
Jagat raya dan kehidupan dikehendaki ada, ini semua adalah hasil
kerja cerdas. Dan saya ingin mengungkapkan bahwa gagasan ini datang
dari ilmu pengetahuan yang telah berkembang, ini bukanlah dari apa
yang tidak kita ketahui, sebaliknya ini berasal dari apa yang telah
kita pelajari selama lebih dari 50 tahun lalu.
Filsuf Amerika, Phillip Johnson, merangkum tentang apa yang telah
dicapai ilmu pengetahuan sebagaimana berikut:
Kita ada di sini sebagai hasil karya Pencipta cerdas
yang memunculkan keberadaan kita untuk sebuah tujuan. Keberadaan
kita dan apa yang ada di atas makhluk hidup lainnya adalah hasil
kerja sadar yang memiliki tujuan dari Sang Pencipta.
Keajaiban di
Alam
PUSAT PENGENDALI SUPERCANGGIH
Otak manusia memiliki sistem yang mampu menjalankan
sejumlah tugas sekaligus pada saat bersamaan. Misalnya, dengan struktur
otaknya yang sempurna, seseorang yang sedang mengendarai mobil dapat
sekaligus menyetel radio mobilnya dan membelokkan setir dengan mudah.
Walaupun sedang melakukan beragam hal secara bersamaan, dia tidak
menabrak mobil atau orang lain. Selain itu, dia dapat mengoperasikan
pedal gas dengan kakinya. Dia dapat memahami berita yang didengarnya
dari radio. Dia dapat menyambung kembali pembicaraannya dari tempat
percakapan itu terhenti. Dan, yang terpenting, dia dapat mengarahkan
semua hal ini secara sempurna, pada waktu yang bersamaan. Singkatnya,
dengan bantuan kemampuan luar biasa otak, seseorang dapat menangani
berbagai pekerjaan sekaligus. Keselarasan ini dimungkinkan terjadi
oleh adanya sambungan antar sel saraf di dalam otak.
Jutaan, bahkan miliaran rangsangan yang sampai ke otak
dari dunia luar diterima dan diuraikan di dalam otak dengan serasi,
lalu diperiksa dan dinilai. Otak lalu memberi tanggapan yang diperlukan
kepada setiap sumber rangsangan. Operasi sistem yang rumit ini terus
berfungsi dalam kehidupan seseorang tanpa henti. Keberadaan semua
proses inilah yang menjadikan kita mampu melihat, mendengar, serta
merasakan; dan kehidupan kita pun terus berlangsung.

Otak manusia memiliki sistem yang mampu menjalankan sejumlah
tugas sekaligus pada saat bersamaan. Dengan bantuan kemampuan
luar biasa otak, seseorang dapat menangani berbagai pekerjaan
sekaligus. Keselarasan ini dimungkinkan terjadi oleh adanya
sambungan antar sel saraf di dalam otak. |
Salah satu unsur terpenting penyusun sistem sempurna
di dalam otak adalah sel-sel saraf, yang berjumlah hampir mendekati
angka 10 miliar. Sel-sel saraf otak, tidak seperti sel-sel lainnya,
mengirimkan dan mengolah informasi dengan cara membangkitkan dan
mengalirkan aliran listrik lemah.
Apakah yang menyebabkan terjadinya hubungan di antara
sel-sel dan menghasilkan keselarasan di dalam otak? Jawabannya terletak
pada struktur istimewa sel saraf. Sekitar 10 miliar sel di dalam
otak memiliki sekitar 120 triliun sambungan. Dan 120 triliun sambungan
ini benar-benar berada di posisi yang tepat. Bila terdapat kesalahan
pada salah satu saja dari sambungan ini, akibatnya akan sangat berat.
Seseorang yang mengalami hal ini takkan mungkin menjalankan kehidupannya
dengan baik. Namun hal seperti ini tidak terjadi, dan manusia sehat
menjalani kehidupannya secara normal. Ia menjalani kehidupan dengan
sebaik-sebaiknya sementara triliunan proses ajaib yang tidak disadarinya
sedang berlangsung di dalam otaknya.
Struktur yang bekerja secara mandiri di dalam otak
ini, sebagaimana halnya sistem-sistem lain di dalam tubuh manusia,
memiliki rancangan sempurna di setiap tahapannya. Kenyataan bahwa
otak dapat menjalankan berjuta fungsinya tanpa kesalahan atau kerancuan
menjadi bukti bahwa Allah, Pemilik Ilmu tak terbatas, telah menciptakannya
beserta semua cirinya yang istimewa.
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan
Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri,
maka apakah kamu tidak memperhatikan? (Adz Dzaariyaat, 51:20-21)
Iptek Anak
Si Jago Minum dari Padang Pasir
Adik-adik, tahukah kalian bahwa Allah telah menciptakan
binatang istimewa yang hidup di padang pasir untuk melayani manusia
yang ada di sana? Dialah unta, hewan yang sangat ajaib. Tidak heran
jika Allah menyeru kita agar memperhatikan penciptaan unta dalam
ayat berikut:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta
bagaimana ia diciptakan.” (QS. Al-Ghaasyiyah, 88:17)
Jika kalian amati unta dengan baik, akan kalian
saksikan bahwa setiap bagian tubuhnya adalah keajaiban penciptaan.
Unta dapat bertahan hidup hingga 8 hari pada suhu 50OC
tanpa makan dan minum. Ketika menemukan sumber air, unta mampu meminum
air sebanyak sepertiga berat badannya dalam waktu 10 menit. Ini
berarti 130 liter dalam sekali minum. Jika dalam sehari kalian mampu
meneguk 10 gelas air minum, misalnya, maka unta dapat meminum sekitar
120 gelas air dalam waktu 10 menit. Air ini disimpan dalam bentuk
lemak pada punuk unta.

Unta mampu memakan duri tumbuhan. Selain itu, unta Dromedary
mampu hidup dalam lingkungan bersuhu -52oC di dataran tinggi
di Asia Tengah. |
Kebanyakan makanan di gurun pasir adalah kering dan
berduri. Namun pencernaan unta telah diciptakan sesuai dengan kondisi
yang sulit ini. Gigi dan mulutnya telah dirancang untuk memungkinkannya
memakan duri tajam dengan mudah. Perutnya juga memiliki desain khusus
tersendiri sehingga cukup kuat untuk mencerna hampir semua tumbuhan
gurun pasir.
Allah juga telah menciptakan sistem perlindungan khusus
pada unta sehingga mampu bertahan terhadap badai pasir yang menyesakkan
nafas dan membutakan mata. Kelopak mata unta melindungi matanya
dari debu dan butiran pasir. Namun, kelopak mata ini juga tembus
cahaya sehingga unta tetap dapat melihat meskipun matanya tertutup.
Bulu mata yang panjang dan tebal khusus diciptakan untuk mencegah
masuknya debu ke dalam matanya. Hidung unta juga memiliki bentuk
khusus sehingga dapat menutup ketika badai pasir menerpa.
Unta takkan terperosok ke dalam pasir gurun sekalipun
membawa muatan seberat ratusan kilogram. Ini karena kakinya telah
diciptakan khusus untuk berjalan di atas pasir. Telapak kaki yang
lebar menahannya dari tenggelam ke dalam pasir, dan berfungsi seperti
pada sepatu salju. Kaki yang panjang menjauhkan tubuhnya dari permukaan
pasir yang panas membakar di bawahnya. Tubuh unta tertutupi oleh
rambut lebat dan tebal. Ini melindunginya dari sengatan sinar matahari
dan suhu padang pasir yang dingin membeku setelah matahari terbenam.
Beberapa bagian tubuhnya tertutupi sejumlah lapisan kulit pelindung
yang tebal. Lapisan-lapisan tebal ini ditempatkan di bagian-bagian
tertentu yang bersentuhan dengan permukaan tanah saat ia duduk di
pasir yang amat panas. Ini mencegah kulit unta agar tidak terbakar.
Lapisan tebal kulit ini tidaklah tumbuh dan terbentuk perlahan-lahan;
tapi unta memang terlahir demikian.
Keruntuhan Teori Evolusi
Nenek Moyang dari Bumi Purba

Miller menyatakan bahwa dalam percobaannya, ia berhasil meniru
atmosfer bumi purba semirip mungkin. Tetapi, gas-gas yang digunakan
Miller dalam percobaannya ternyata sangat jauh dari keadaan
bumi purba yang sesungguhnya. |
Evolusionis pertama yang meneliti asal usul kehidupan
di abad kedua puluh adalah pakar biologi Rusia, Alexander Oparin.
Ia bertujuan menjelaskan bagaimana makhluk bersel satu paling pertama,
yang menurut teori evolusi dianggap sebagai nenek moyang semua makhluk
hidup, dapat terbentuk.
Pada tahun 1930-an, Oparin merumuskan sejumlah teori
untuk menerangkan bagaimana sel paling pertama dapat muncul dari
benda tak hidup melalui peristiwa alamiah tanpa sengaja, atau secara
kebetulan. Namun, usahanya berakhir dengan kegagalan dan Oparin
sendiri harus mengakui:
Sayangnya, asal-usul sel masih merupakan pertanyaan
yang ternyata menjadi bagian paling gelap dari keseluruhan teori
evolusi. (Alexander I. Oparin, Origin of Life, (1936) NewYork: Dover
Publications, 1953 (Reprint), hlm.196.)
Para evolusionis setelah Oparin melakukan percobaan
untuk menemukan penjelasan evolusionis tentang asal-usul kehidupan.
Yang terkenal di antaranya dilakukan oleh ahli kimia Amerika, Stanley
Miller, pada tahun 1953. Miller berhasil mendapatkan sedikit senyawa
organik sederhana dengan mereaksikan gas-gas yang ia yakini terdapat
pada atmosfer bumi purba.

Tatkala Darwin mengajukan teorinya, saat itu seluk-beluk makhluk
hidup hingga bagiannya yang terkecil belumlah banyak diketahui.
Dengan mikroskop sederhana yang masih terbelakang kala itu,
mustahil susunan rumit makhluk hidup dapat disaksikan. |
Waktu itu, percobaan ini dianggap sebagai bukti ilmiah
yang mendukung evolusi. Di kemudian hari, hal ini terbukti tidak
benar. Penemuan berikutnya menunjukkan bahwa gas-gas yang digunakan
dalam percobaan tersebut sangat berbeda dengan gas-gas pada atmosfer
bumi purba. Miller sendiri akhirnya mengakui ketidakabsahan percobaannya.
Segala upaya evolusionis di abad kedua puluh untuk
menjelaskan asal-usul kehidupan telah berakhir dengan kegagalan.
Jeffrey Bada, profesor geokimia dan pendukung utama teori evolusi,
mengakui kenyataan ini dalam majalah Earth edisi Februari 1998,
yang termasuk di antara terbitan evolusionis terkemuka:
Kini saat kita meninggalkan abad kedua puluh,
kita masih menghadapi masalah terbesar yang tidak terpecahkan yang
kita punyai saat kita memasuki abad ke dua puluh: “Bagaimana
kehidupan muncul pertama kali di bumi?” (Jeffrey Bada, “Origins”,
Earth, February 1998, hlm. 40)
Penghalang terbesar bagi teori evolusi adalah struktur teramat
kompleks pada sel hidup. Setiap makhluk hidup di bumi tersusun atas
sel-sel berukuran sekitar seperseratus milimeter. Sejumlah makhluk
hidup bahkan hanya terdiri atas satu sel. Namun organisme bersel
satu ini pun memiliki susunan teramat kompleks. Mereka memiliki
sistem sangat rumit agar tetap hidup, bahkan mesin pendorong kecil
untuk bergerak.

Sel memiliki rancangan yang sungguh rumit sehingga ilmuwan terkemuka,
Fred Hoyle, membandingkannya dengan pesawat Boeing 747. Menurutnya,
sebagaimana sebuah pesawat terbang yang tidak dapat terbentuk
dengan sendirinya tanpa sengaja dibuat, maka sel pun takkan
pernah mungkin terbentuk dengan sendirinya tanpa penciptaan
sengaja. Sungguh, contoh ini mengarahkan pada satu kebenaran
penting: meskipun manusia mampu merancang pesawat terbang raksasa
dengan ilmu dan teknologinya, mereka belum mampu menghasilkan
satu pun sel hidup. |
Di masa Darwin, struktur kompleks sel belumlah diketahui. Dengan
mikroskop sederhana waktu itu, sel terlihat menyerupai bercak-bercak
kecil sederhana. Namun, mikroskop elektron canggih yang ditemukan
sekitar pertengahan abad kedua puluh mengungkapkan betapa kompleks
dan rapinya sebuah sel sesungguhnya. Mereka telah membuka tabir
sebuah kerumitan dan keteraturan yang tidak mungkin dihasilkan oleh
peristiwa kebetulan belaka.
Satu sel hidup terdiri dari ribuan bagian kecil yang bekerja secara
serasi. Sekedar gambaran, dalam sel terdapat pusat pembangkit tenaga,
pabrik canggih, bank data kompleks, sistem penyimpanan raksasa,
pusat pengolahan modern, dan membran sel yang seolah dengan sadar
mengatur apa saja yang keluar dan masuk sel. Agar sel tetap hidup,
semua bagian ini harus ada pada saat bersamaan. Mustahil sistem
rumit dan kompleks semacam ini dapat muncul sebagai hasil kebetulan.
 
Kini, Miller (kiri) mengakui bahwa percobaannya tahun 1953 sangat
jauh dari pembuktian tentang asal-usul kehidupan. Evolutionist
terkenal, Alexander Oparin (kanan) tak mampu mengemukakan bukti
apa pun untuk mendukung teori “evolusi kimia” yang
diajukannya. |
Saat ini, laboratorium tercanggih sekalipun tidak mampu membuat
satu sel hidup dari materi tak hidup. Hal ini benar-benar telah
diakui sebagai kemustahilan; dan upaya untuk membuat sel-sel hidup
dari materi tak hidup telah ditinggalkan.
Namun teori evolusi menklaim bahwa sistem ini, yang manusia dengan
segala kecerdasan, ilmu, dan teknologinya tidak berhasil menirunya,
muncul menjadi ada secara kebetulan. Sir Fred Hoyle, pakar matematika
dan astronomi Inggris terkemuka, memaparkan kemustahilan ini dengan
sebuah contoh:
Kemungkinan terbentuknya kehidupan tingkat tinggi
secara kebetulan dapat disamakan dengan kemungkinan angin tornado
yang ketika melintasi tempat pembuangan barang bekas, merakit pesawat
Boeing 747 dari bahan-bahan yang ada.( "Hoyle on Evolution",
Nature, Vol 294, November 12, 1981, hlm. 105.)
Kisah Al Qur’an
Tragedi di Balik Laut Mati

Danau Luth, juga dikenal dengan nama Laut mati |
Kaum Luth pun telah mendustakan ancaman-ancaman
(Nabinya). Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin
yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka)… (QS. Al Qamar,
54:33-34)
Wilayah Anatolia, dataran Mesopotamia, semenanjung
Arabia dan benua Afrika telah menjadi saksi lahirnya beragam peradaban
besar sejak dahulu kala. Sepanjang sejarah, Allah mengutus para
Rasul untuk menyeru mereka mengikuti jalan-Nya. Kaum yang mengingkari
para utusan tersebut, yang mencoba membunuh dan mengusir mereka,
semuanya telah dihancurkan…
Salah satu peradaban ini ditemukan dalam wilayah batas negara Israel
saat ini. Penduduk yang menetap di pesisir Laut Mati ini adalah
kaum Luth. Al Qur’an mengabarkan bahwa hubungan kelamin sesama
jenis sedemikian merajalela di kalangan mereka hingga belum pernah
dijumpai hal serupa sebelumnya:

Foto Danau Luth, diambil dari satelit. |
Ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka:
"Mengapa kamu tidak bertakwa?" Sesungguhnya aku adalah
seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah
kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta
upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan
semesta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia,
dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu,
bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas. (QS. Asy Syu’araa’,
26:161-166)
Ketika Nabi Luth menyuruh mereka meninggalkan perilaku maksiat
dan menyampaikan perintah Allah, mereka ingkar, dan menolaknya sebagai
seorang Nabi dan melanjutkan perilaku menyimpang mereka. Sebagai
balasannya, mereka dihancurkan dengan bencana mengenaskan.
Ketika membaca Perjanjian Lama, kitab suci umat Nasrani dan Yahudi,
akan kita ketahui bahwa hal ini dilukiskan dengan istilah yang sama
sebagaimana dalam Al Qur’an. Menurut Perjanjian Lama, tempat
tinggal kaum berperilaku menyimpang ini adalah kota Sodom. Temuan
purbakala hasil penggalian mengungkapkan, kota tersebut dibangun
dekat Laut Mati, di sepanjang perbatasan Israel dan Yordania. Para
arkeolog yang bekerja di wilayah tersebut menemukan bukti telah
tejadinya bencana mengerikan. Kerusakan parah pada rangka manusia
yang berhasil digali menandakan telah terjadinya gempa bumi dahsyat.
Al Qur’an meriwayatkan bahwa malaikat datang kepada Nabi
Luth dan memperingatkan hal ini di malam sebelum terjadinya bencana:
Para utusan (malaikat) berkata: "Hai Luth, sesungguhnya kami
adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat
mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan
pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang
pun di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya
dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat
jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh
itu sudah dekat?" Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan
negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka
dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi; yang diberi
tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang
yang zalim. (QS. Huud, 11:81-83)

Sebagian sisa reruntuhan kota kaum Luth yang telah longsor ke
danau, ditemukan di tepi danau. Reruntuhan ini memperlihatkan
bahwa kaum Luth memiliki taraf hidup yang tinggi. |
Ungkapan"Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke
bawah" dalam segala kemungkinannya bermakna daerah tersebut
hancur oleh gempa bumi dashyat. Menurut siaran BBC berjudul "
Ilmuwan MengungkapTamatnya Riwayat Kota Sodom ", geolog asal
Inggris, Graham Harris, termasuk ilmuwan yang menemukan bukti meyakinkan
tentang hal ini. Menurutnya, Sodom dibangun di pesisir Laut Mati
dan penduduknya berdagang aspal yang tersedia di wilayah tersebut.
Zat hitam lengket ini di masa lalu digunakan sebagai pelapis tahan
air pada perahu dan perekat bebatuan pada bangunan.
Daerah pemukiman yang tepat di pesisir Laut Mati ini, juga berdiri
di atas dataran yang mudah guncang. Ini adalah titik bertemunya
2 lempengan tektonik yang bergerak berlawanan arah. Ini adalah zona
gempa bumi! Lapisan lahar dan batu basal yang ditemukan selama penggalian
adalah bukti terkuat telah terjadinya letusan gunung berapi dan
gempa bumi di sini. Peristiwa yang digambarkan Al Qur’an dengan
kalimat "Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar
dengan bertubi-tubi" besar kemungkinannya sebagai letusan gunung
berapi. Peristiwa tersebut dilukiskan oleh ayat yang sama dalam
kalimat "Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri
kaum Luth itu yang di atas ke bawah" sangat mungkin merujuk
pada pecahan dan penghancuran akibat gempa bumi.
Di bawah pesisir Laut Mati terdapat sejumlah besar timbunan kantung-kantung
gas metana mudah terbakar. Gempa bumi pastilah telah mengguncangnya
dan menjadikannya terbakar. Permukaan tanah lalu berubah menjadi
pasir hanyut, dan longsor besar menenggelamkan kota tersebut ke
dalam air.
Serangkaian percobaan ilmiah di Universitas Cambridge membenarkan
teori ini. Para ilmuwan membangun tiruan tempat berdiamnya kaum
Luth di laboratorium, dan mengguncangnya dengan gempa buatan. Sesuai
perkiraan, dataran ini terbenam dan miniatur rumah tergelincir masuk
dan
terkubur di dalamnya. Penemuan arkeologis dan percobaan ilmiah ini
mengungkap satu kenyataan penting: kaum Luth yang disebutkan Al
Qur’an memang pernah hidup di masa lalu, dan diazab oleh bencana
kiriman Allah akibat penyimpangannya. Semua bukti terjadinya bencana
itu kini telah terungkap, dan sesuai benar dengan pemaparan Al Qur’an.
Begitulah, Letusan Dahsyat membinasakan mereka saat fajar tiba:
Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik
ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
(kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.
(QS. Al Hijr, 15:73-75)
Tafakur
AL ‘ADL, MAHA ADIL
Hai
orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu
menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil.
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong
kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu
lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Maa-idah,
5:8)
Allah-lah yang paling adil di antara yang adil. Neraca keadilan-Nya
melingkupi keseluruhan alam semesta. Dia akan menegakkan keadilan
di antara para hamba-Nya, di dunia dan di akhirat.
Allah, Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, dan Maha Melihat,
mengatur seluruh alam semesta dengan kebijaksanaan dan keadilan
mutlak. Seluruh amal manusia sepanjang hidupnya akan ditimbang dalam
neraca Kemahaadilan Allah. Allah menyatakan dalam Al Qur’an
bahwa pelaku kejahatan takkan lolos tanpa hukuman atas dosa mereka,
sebaliknya perkataan baik walau hanya sepatah akan diberi pahala:
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun,
niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan
kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya
pula.” (QS. Al Zalzalah, 99:7-8)
Kebaikan dan keburukan tidaklah sama di mata Allah, dan Dia berkuasa
atas keduanya dengan keadilan mutlak. Tempat di mana keadilan mutlak
Allah dapat disaksikan dengan jelas adalah akhirat. Allah pasti
tidak pernah lupa tentang sesuatu pun, Dia-lah yang Maha Menepati
janji. Setiap manusia, tanpa kecuali, akan mendapatkan balasan di
akhirat atas segala perbuatannya di dunia. Mereka yang melakukan
kejahatan akan dihukum, dan mereka yang beriman kepada Allah dan
beramal shaleh akan menerima pahala terbaik dari-Nya.
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih
mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat
tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran
Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya
syurgalah tempat tinggal(nya). (QS. An Naazi'aat, 79:37-41)
|