Editorial
Tenggelamnya Kapal ‘Anti-Tenggelam’

Kapal Titanic saat melakukan pelayaran perdananya, yang
ternyata sekaligus menjadi perjalanan terakhirnya
|
Bencana maritim terburuk sepanjang sejarah dunia terjadi
tahun 1912. Kala itu, dunia menyaksikan tenggelamnya Titanic, kapal
terbesar dan termewah yang pernah dibuat.
Dengan tinggi 55 meter dan panjang 275 meter, Titanic
memiliki rancangan sangat hebat, dan dilukiskan sebagai lambang
kebanggaan bangsa Inggris. Banyak yang berkata Titanic takkan mungkin
pernah tenggelam. Namun, setelah menabrak gunung es raksasa dalam
pelayaran perdananya, Titanic rusak parah, lalu tenggelam di laut
Atlantik secara mengenaskan.
Uniknya, karena dianggap takkan mungkin tenggelam,
hanya sedikit perahu sekoci yang tersedia. Akibatnya, sekitar 1500
penumpangnya tewas tenggelam di perairan es, termasuk para hartawan
dan kaum bangsawan Inggris.
Kemampuan Inggris membuat kapal sebesar ini tentunya
mengisyaratkan kehebatan mereka di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Para insinyurnya pastilah amat handal, sangat memahami hukum-hukum
fisika, kimia, serta disiplin ilmu lainnya. Mereka adalah para ahli
yang mengerti seluk-beluk alam semesta beserta keteraturan, dan
kesempurnaannya. Tidak heran jika mereka mampu memanfaatkan apa
yang ada di alam untuk membuat karya teknologi hebat, termasuk kapal
raksasa Titanic.
Namun,
pengetahuan tentang rahasia alam yang sempurna ini tak sampai membuka
mata hati mereka akan kebesaran Penciptanya. Buktinya, kehebatan
teknologi rancang bangun kapal ini justru melupakan mereka dari
yang jauh lebih hebat, yakni rancangan teknologi di alam ciptaan
Allah. Mereka justru mengagungkan kapal mereka dan membanggakan
diri sendiri. Mereka melupakan Allah, Pencipta diri mereka dan segala
yang mereka hasilkan. Mereka sombong hingga mengatakan Titanic sebagai
“unshinkable”, takkan dapat tenggelam; dan melengkapinya
hanya dengan sedikit perahu penyelamat kecil.
Begitulah, kapal yang digelari anti-tenggelam, justru
karam ditelan air setelah menabrak gunung es, air beku raksasa.
Singkatnya, Titanic tenggelam setelah menabrak air!
Meski tampak biasa saja, ternyata air sungguh luar
biasa. Untuk mengetahui kehebatan ciptaan Allah ini, cukuplah kita
bertanya: mungkinkah para insinyur perkapalan memahami ilmu tentang
air, teknologi perkapalan, dan teknik pelayaran jika air tak pernah
diciptakan? Mampukah mereka membuat kapal laut sehebat Titanic jika
lautan tidak pernah ada? Dan yang penting lagi, dapatkah para insinyur
kapal pembuat Titanic dan mereka yang membanggakannya, hidup tanpa
air?

Kapal yang digelari anti-tenggelam, justru karam ditelan
air setelah menabrak gunung es, air beku raksasa. Singkatnya,
Titanic tenggelam setelah menabrak air!
|
Begitulah, ternyata air lebih penting dan hebat dari
kapal Titanic, insinyur pembuatnya, dan para pengagumnya. Dengan
mengkaji air secara rinci, akan kita pahami betapa air memiliki
banyak sifat yang menakjubkan. Jika demikian, air pastilah takkan
pernah ada dengan sendirinya. Segala kesempurnaan air memperlihatkan
kehebatan Pencipta air. Manusia hendaknya tidak berbangga atas karyanya.
Sebab segala ciptaan Allah jauh lebih sempurna, termasuk air yang
sekilas tampak biasa saja. Dia-lah Allah, Satu-Satunya Tuhan yang
sepatutnya kita sanjung. Manusia hendaknya hidup mengabdi kepada-Nya,
merendahkan diri di hadapan-Nya, dan jauh dari rasa kesombongan:
“Allah-lah yang telah menciptakan langit
dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan
dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu;
dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar
di lautan dengan kehendak-Nya...” (QS. Ibrahim, 14:32)
Surat Pembaca
IPTEK ANAK
Assalamu’alaikum
Saya sangat senang dengan terbitnya buletin ‘setengah majalah’
ini, karena telah menambah nuansa baru dalam dunia media masa. Kalau
boleh saya usulkan ada rubrik khusus untuk memuat tulisan-tulisan
ilmiah populer yang dikirim oleh para pembaca. Juga saya menyarankan
agar dibuat kolom iptek untuk anak.
Khusus untuk edisi April 2003 lalu, saya merasa artikel tentang
Pembekuan Darah masih terlalu rumit. Mohon untuk artikel serupa
di edisi mendatang agar bahasanya disederhanakan dan diperjelas.
Wassalamu’alaikum
Ummu Hadid, ibu rumah tangga,
Desa Kademangan, Tangerang – Banten
Terima kasih atas tanggapan dan masukannya yang sangat
baik.
HALAMANNYA KURANG
Assalamu’alaikum wr. wb.
Alhamdulillah, dengan terbitnya Buletin Sains Populer Insight dapat
membuka dan menambah ilmu dan keimanan bagi para pembaca.
Secara keseluruhan Buletin ini baik (isi, topik, jenis kertas dan
lay out penampilan), hanya kurang banyak halamannya.
Terima kasih, semoga Buletin ini semakin baik dan baik terus, Amin.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Farida Rosana Mira,
Staf Peneliti Balai Pengkajian Bioteknologi, BPPT,
Kawasan Puspiptek, Serpong, Banten.
TURUT BERSYUKUR
Saya bersyukur dan gembira atas terbitnya bulletin Sains Populer
“INSIGHT”, semoga bulletin ini dapat menjembatani kajian
ilmu-ilmu kauniyah dengan ilmu-ilmu kauliyah sehingga dapat menggairahkan
perkembangan IPTEK khususnya di Indonesia.
Dr Muhammad Setiawan B, M.Eng
Pusat Pengembangan Reaktor Nuklir BATAN,
Puspitek Serpong, Tangerang, Banten
Dari Kami
TAK SESEDERHANA KATA “AIR”
Assalamu’alaikum wr. wb.
Alhamdulillah syukur kepada Allah yang telah mencurahkan segala
nikmatnya kepada kita, termasuk nikmat air. Sebab, tanpa air, buletin
ini takkan pernah ada, termasuk kami dan Anda sekalian.

Pembaca budiman, air memang tampak sederhana, sesederhana kata
‘air’ itu sendiri. Namun ketidakberdayaan makhluk hidup
tanpa air semestinya membuat kita berpikir ulang: benarkah air adalah
sekedar cairan bening yang biasa saja? Jawabannya sudah pasti: Tidak.
Meskipun seringkali kita abaikan dan tak pernah menjadi bahan pemikiran
serius, air ternyata menyimpan segudang informasi yang sungguh penting.
Dengan memiliki pengetahuan inilah kita akan tahu betapa air, molekul
yang hanya tersusun atas dua atom hidrogen dan satu atom oksigen,
adalah cairan yang luar biasa. Terlalu banyak keistimewaan air yang
mustahil dapat dijelaskan secara panjang lebar dalam buletin setipis
ini.
Kekeringan atau banjir adalah dua bencana akibat air yang sangat
kurang atau terlalu berlimpah. Ini adalah isyarat penting betapa
air tidak sekedar diciptakan begitu saja. Namun air juga harus ada
dalam jumlahnya yang seimbang agar kehidupan di bumi dapat berlangsung
dengan baik.
Pembaca budiman, semoga bahasan utama tentang air kali ini semakin
menambah ketakjuban kita akan ciptaan Allah, Tuhan yang Maha Pemurah.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Redaksi
Bahasan Utama - 1
Beruntunglah Perilakunya ‘Aneh’
Sebagian
besar planet bumi tertutupi oleh air. Samudra dan lautan membentuk
tiga perempat permukaan bumi, sedangkan di daratan terdapat sungai
dan danau berjumlah tak terkira. Salju dan es di puncak-puncak gunung
adalah air berwujud beku. Sejumlah besar air ini juga berada di
angkasa: setiap awan mengandung ribuan, terkadang bahkan jutaan
ton air berbentuk uap. Dari waktu ke waktu, sebagian uap air ini
berubah menjadi tetesan air dan jatuh ke bumi sebagai hujan. Bahkan
udara yang Anda hirup saat ini mengandung uap air dengan kadar tertentu.
Singkatnya, di mana pun Anda memandangi permukaan bumi
ini, Anda yakin akan melihat air di suatu tempat. Bahkan, di ruangan
tempat Anda berada saat ini mungkin terdapat sekitar empat puluh
hingga lima puluh liter air, benarkah? Lihatlah di sekeliling Anda,
dapatkah Anda menemukannya? Lihatlah sekali lagi dengan lebih teliti,
alihkan pandangan Anda dari tulisan ini ke tangan, lengan, kaki
dan tubuh Anda. Air dengan jumlah ini ada dalam tubuh Anda!
Tubuh manusia terdiri dari sekitar 70% air. Sel-sel
tubuh Anda berisi banyak hal, tapi tidak ada yang lebih banyak atau
lebih penting dari air. Bagian terbesar dari darah yang mengalir
ke seluruh tubuh Anda adalah air. Tidak hanya tubuh Anda atau orang
lain, tapi sebagian besar dari tubuh seluruh makhluk hidup terdiri
dari air. Tampaknya kehidupan ini mustahil ada tanpa air.
Air adalah zat yang diciptakan dan dirancang secara
khusus sebagai sumber kehidupan. Setiap sifat fisika dan kimia air
telah diciptakan secara khusus bagi kehidupan. Air memang memiliki
segala sifat yang benar-benar pas dan sesuai bagi kelangsungan hidup
semua makhluk.
Di antara yang menarik dari air adalah proses pembekuannya.
Zat-zat cair pada umumnya membeku mulai dari lapisan paling bawah
lalu ke lapisan di atasnya. Tapi air membeku dari arah sebaliknya.
Ini adalah sifat air yang ‘aneh’, akan tetapi sangatlah
penting bagi keberadaan air di permukaan bumi. Jika air tidak membeku
dari atas, dengan kata lain jika es tidak mengapung, maka banyak
air di wilayah dingin di permukaan bumi yang akan menjadi es. Bila
ini yang terjadi, maka takkan ada lagi kehidupan di lautan, danau,
kolam dan sungai yang membeku.

Tak seperti zat cair lainnya, air memuai ketika membeku.
Oleh karenanya, bongkahan es mengapung di atas permukaan
air.
|
Marilah kita kaji lebih teliti untuk mengetahui mengapa
demikian. Terdapat banyak tempat di bumi yang memiliki suhu di bawah
00C di musim dingin, bahkan jauh lebih dingin lagi. Cuaca
dingin seperti ini tentunya berpengaruh pada air di laut, danau,
dan lain sebagainya. Air ini semakin lama akan semakin dingin, dan
sebagian darinya mulai membeku. Jika es tidak memiliki sifat sebagaimana
biasanya (dengan kata lain jika es tidak mengapung), maka es ini
akan tenggelam ke bagian dasar. Kemudian bagian air yang suhunya
lebih hangat akan naik ke permukaan dan bersentuhan dengan udara
di atasnya. Akan tetapi, suhu udara di atas permukaan air masih
berada di bawah titik beku air, sehingga air yang berada permukaan
ini akan membeku juga dan lantas tenggelam ke bagian dasar. Proses
ini akan berlangsung terus hingga keseluruhan air telah membeku.
Namun peristiwa di atas tersebut tidaklah terjadi.
Sebaliknya yang terjadi adalah: ketika suhu udara menjadi dingin,
masa jenis atau kerapatan air menjadi semakin besar hingga suhunya
mencapai 40C. Namun setelah mencapai titik ini, segala
sesuatunya berubah tiba-tiba. Di bawah suhu ini, air mulai memuai
dan kerapatannya menjadi semakin kecil. Akibatnya, air bersuhu 40C
akan tetap berada di bagian paling bawah, air bersuhu 30C
di atasnya, air bersuhu 20C di atasnya lagi, dan begitu
seterusnya. Hanya di bagian paling permukaan sajalah suhu air mencapai
00C. Dan lapisan teratas inilah yang membeku. Tapi hanya
bagian permukaan saja yang membeku, lapisan air bersuhu 40C
di bawah lapisan es ini tetap berwujud cair, dan ini sudah cukup
bagi hewan dan tumbuhan dalam air untuk tetap hidup.
Apa yang terjadi apabila air tidak memiliki sifat yang
demikian ini dan berperilaku sebagaimana zat cair lain? Anggaplah
air semakin mejadi lebih padat seiring dengan suhunya yang semakin
menurun, sebagaimana zat cair lain. Maka lapisan es yang terbentuk
kemudian tenggelam ke bagian dasar. Apa yang akan terjadi?
Pada keadaan ini, proses pembekuan di samudra dan lautan
akan dimulai dari bagian dasar dan terus berlanjut hingga ke bagian
paling permukaan. Hal ini terjadi karena tidak terdapat lapisan
es di permukaan yang menutupi lapisan air di bawahnya, sehingga
mencegah hilangnya panas dari air tersebut. Dengan kata lain, sebagian
besar danau, lautan dan samudra di bumi ini akan menjadi es padat
yang di atasnya mungkin terdapat lapisan air berkedalaman hanya
beberapa meter saja. Bahkan jika suhu udara ditingkatkan, es di
bagian bawah tidak pernah mencair semuanya. Dalam keadaan demikian,
kehidupan dalam air tidak dapat berlangsung, begitu pula dengan
kehidupan di daratan. Dengan kata lain, jika air tidak ‘berperilaku
aneh’ seperti ini, maka planet kita akan menjadi bumi yang
mati.
 
Untuk volume yang sama, air memiliki berat tertinggi pada
suhu +4oC. Ini sungguh penting bagi kelangsungan hidup flora
dan fauna di muka bumi. Di lautan, air yang bersuhu +4oC
tenggelam ke dasar lautan karena memiliki berat terbesar.
Karenanya, dasar lautan yang permukaannya tertutupi bongkahan
es, selalu dalam keadaan cair (tidak beku), dan memiliki
suhu +4oC yang masih memungkinkan berlangsungnya kehidupan.
Hal yang sama berlaku pula di sungai dan di danau.
|
Mengapa air berperilaku tidak sebagaimana zat cair
lainnya? Mengapa air tiba-tiba saja memuai di bawah suhu 40C,
padahal di atas suhu ini ia menyusut? Ini adalah pertanyaan yang
tak seorang pun mampu menjawabnya. Tapi satu hal yang pasti adalah:
‘keanehan’ inilah yang menjadikan kehidupan di bumi
tetap berlangsung. Hal ini memunculkan satu pertanyaan lagi: mungkinkah
ini semua dikarenakan air itu sendirilah yang menghendaki perilaku
‘anehnya’ tersebut. Namun air adalah benda mati. Air
hanyalah senyawa yang terdiri dari atom hidrogen dan oksigen yang
tidak memiliki akal pikiran. Sebaliknya, ini bukan pula kehendak
seluruh makhluk hidup yang telah memprogram air agar memiliki sifat
yang mendukung kelangsungan hidup mereka. Jika demikian, tentunya
ada kehendak dan kecerdasan lain yang menciptakan perilaku air agar
sesuai dengan kebutuhan makhluk hidup. Dan pencipta air ini tentu
pula pencipta makhluk hidup tersebut, termasuk manusia. Pencipta
ini tiada lain adalah Allah, Tuhan Yang Maha Sempurna.
Bahasan Utama - 2
Cairan Pendingin No. 1
Semua hewan menyusui memiliki suhu tubuh yang hampir sama. Kendatipun
terdapat perbedaan, ini hanya sedikit dan suhu tubuh mereka berkisar
antara 35-400C. Manusia normal bersuhu tubuh 370C.
Ini adalah suhu yang sangat kritis dan harus dijaga agar tetap berada
pada angka ini. Sebab, jika suhu tubuh Anda turun beberapa derajat
saja, banyak bagian tubuh Anda yang akan terganggu fungsinya. Sebaliknya,
jika suhu tersebut naik sedikit saja, sebagaimana yang Anda alami
ketika sakit, ini pun akan berbahaya. Misalnya, suhu tubuh yang
terus berada pada angka 400C sangat mungkin akan berakibat
kematian.
Singkatnya, suhu tubuh kita berada pada titik kesetimbangan yang
sangat kritis yang hanya memberikan ruang bagi perubahan yang sangat
kecil saja.
Namun sesungguhnya tubuh kita menghadapi masalah karena sifatnya
yang senantiasa bergerak sepanjang waktu. Semua gerakan dari seluruh
tubuh, sebagaimana gerakan pada mesin, memerlukan energi agar dapat
berlangsung. Tapi, proses pembentukan energi senantiasa melepaskan
panas sebagai hasil samping. Anda dapat dengan mudah memahami hal
ini dari tubuh Anda. Taruhlah majalah ini barang sejenak, dan pergilah
berlari sejauh sepuluh kilometer di bawah panas matahari yang membakar.
Lalu perhatikanlah bagaimana tubuh Anda menjadi semakin panas. Namun
nyatanya, jika Anda berpikir secara mendalam Anda akan tahu bahwa
tubuh Anda tidak sepanas sebagaimana yang seharusnya.
Satuan panas adalah kalori. Manusia normal yang berlari 10 kilometer
selama satu jam akan menghasilkan panas sebesar 1000 kalori. Panas
ini harus dibuang dari dalam tubuh. Jika tidak, Anda akan jatuh
pingsan dan koma sebelum Anda menempuh kilometer yang pertama. Beruntunglah,
Anda terhindarkan dari bahaya ini oleh dua sifat yang dimiliki air.
Sifat pertama adalah kapasitas panas air yang sangat besar. Apa
maksudnya? Besarnya kapasitas panas air berarti: untuk menaikkan
suhu air, sejumlah besar energi dalam bentuk panas dibutuhkan. Kendatipun
air menyusun sekitar 70% dari keseluruhan tubuh kita, air tidak
gampang cepat menjadi panas dikarenakan kapasitas panas yang dimilikinya
ini. Misalnya kita melakukan pekerjaan yang menyebabkan peningkatan
suhu tubuh sebesar 100C. Seandainya 70% dari tubuh kita
ini adalah alkohol (dan bukan air), maka peningkatan suhu ini akan
menjadi 200C. Atau, jika air ini tergantikan oleh zat-zat
lain dengan kapasitas panas lebih rendah, maka akibatnya akan lebih
parah lagi: jika diganti garam kenaikannya menjadi 500C,
akan menjadi 1000C jika diganti besi, dan 3000C
jika diganti timbal. Kapasitas panas air yang sangat besar inilah
yang mencegah perubahan panas yang sedemikian besar.

Tak seperti zat cair lainnya, air memuai ketika membeku.
Oleh karenanya, bongkahan es mengapung di atas permukaan
air.
|
Namun, peningkatan sebesar 100C pun akan berakibat mematikan,
sebagaimana telah disebutkan di atas. Untuk mencegahnya, sifat yang
kedua dari air, yakni panas laten yang tinggi, sangat dibutuhkan.
Untuk menjaga agar tetap dingin meskipun menghasilkan panas, tubuh
kita berkeringat. Ketika kita berkeringat, air menutupi permukaan
kulit kita dan menguap dengan cepat. Namun, oleh karena panas laten
air begitu besar, penguapan ini memerlukan panas dalam jumlah besar.
Dan panas ini sudah tentu diserap dari tubuh, dan karenanya tubuh
kita tetap dingin. Proses pendinginan ini bekerja dengan sangat
baik sehingga terkadang kita merasa kedinginan meskipun cuaca agak
panas.
Seseorang yang telah berlari sejauh 10 kilometer akan menurunkan
suhu tubuhnya sebanyak 60C akibat penguapan air sebanyak
kurang lebih 1 liter. Semakin banyak tenaga yang ia keluarkan, semakin
tinggi kenaikan suhu tubuhnya; namun pada saat yang sama ia pun
semakin banyak berkeringat. Akibatnya, terjadi pendinginan pada
tubuhnya. Keberadaan perangkat termostat (pengatur suhu) pada tubuh
ini dimungkinkan oleh sifat panas air tersebut. Tidak ada cairan
yang dapat menandingi keunggulan air. Jika cairan alkohol menggantikan
air, misalnya, maka penurunan suhu ini hanya 2.20C, dan
jika diganti dengan zat amonia, hanya akan terjadi penurunan sebesar
3.60C.
Ada satu hal penting lagi. Jika panas yang dihasilkan dalam tubuh
tidak dialirkan ke permukaan tubuh, yakni ke bagian kulit, maka
dua sifat air di atas, termasuk proses berkeringat, tidak akan terjadi.
Jadi, struktur tubuh kita haruslah memiliki kemampuan menghantarkan
panas yang tinggi. Di sinilah perlunya satu lagi sifat air lainnya,
yakni kemampuan yang sangat tinggi untuk menghantarkan panas. Tidak
seperti cairan yang lain, air memiliki daya hantar panas yang sangat
tinggi. Akibatnya, tubuh mengalirkan panas yang dihasilkannya di
bagian dalam tubuh keluar menuju kulit di permukaan. Jika daya hantar
ini dua atau tiga kali lebih rendah, maka laju pengaliran panas
ini akan lebih lambat. Hal ini menjadikan kehidupan hewan seperti
mamalia takkan mungkin terjadi.
Semua ini menunjukkan bahwa ketiga sifat panas air bekerja bersama
untuk satu tujuan: mendinginkan suhu tubuh makhluk hidup, termasuk
manusia. Dengan kata lain air telah diciptakan secara khusus untuk
tugas ini.
Bahasan Utama - 3
Nampaknya biasa saja...
Tenang yang
menghanyutkan, begitulah penggambaran air sebagaimana biasa kita
dengar. Air yang cair memang memiliki sifat menghanyutkan. Namun
hanya inikah sifat air. Kesederhanaan penampakan air ternyata menyimpan
misteri yang jauh lebih besar lagi. Air ternyata tidak sesederhana
wujudnya. Besarnya bencana yang timbul karena ketiadaan ataupun
keberadaan air sudah cukup mengatakan kepada kita betapa penting
dan luar biasa sifat air sesungguhnya.
Sifat-sifat air telah lama menarik perhatian para ilmuwan. Usaha
pertama untuk mengkaji masalah ini secara rinci tertuang dalam sebuah
buku yang terbit pada tahun 1832 karya seorang naturalis Inggris,
William Whewell, berjudul “Astronomy and General Physics Considered
with Reference to Natural Theology”. Whewell mengulas sifat-sifat
air dan menemukan bahwa sebagiannya tampak menyalahi sejumlah aturan
baku dan hukum alam. Kesimpulan yang ia dapatkan adalah ketidaksesuaian
ini justru menjadi sebagai bukti bahwa air telah secara khusus diciptakan
agar kehidupan dapat berlangsung.
Air telah diciptakan untuk kehidupan dengan tingkat kesesuaian
yang begitu tinggi sehingga tidak mungkin digantikan oleh cairan
lain. Sebagian besar planet ini, yang semua cirinya (suhu, cahaya,
spektrum elektromagnetik, atmosfir, permukaan, dsb.) sangatlah pas
dan sesuai untuk kehidupan, memiliki air dalam jumlah yang sangat
tepat sebagaimana yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup. Sangatlah
jelas bahwa ini semua tidak mungkin ada dengan sendirinya dan mestilah
menunjukkan penciptaan secara sengaja.
Dengan kata lain, segala ciri fisika dan kimia air menunjukkan
bahwa air diciptakan secara khusus bagi kehidupan. Bumi, yang sengaja
diciptakan agar manusia hidup di dalamnya, dihidupkan dengan air
ini yang khusus diciptakan untuk menjadi landasan pokok kehidupan
manusia. Dengan air, Allah telah menghidupkan kita, dan dengannya
pula Allah telah menumbuhkan makanan yang kita makan dari tanah:
“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit
untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan)
tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan
ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman;
zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi
kaum yang memikirkan.” (QS. An Nahl, 16:10-11)
Berita Iptek
“Multiverse”, Teori Tanpa Bukti
The New York
Times terbitan 12 April 2003 memuat tulisan ahli astrofisika terkenal
Paul Davies berjudul “A Brief History of the Multiverse”
[“Sejarah Singkat Teori Multiverse (Jagat Raya Majemuk)”].
Dalam tulisan ini, Prof. Davies berupaya mempertahankan pernyataan
tentang kemungkinan adanya jagat raya berjumlah tak hingga, dan
jagat raya kita telah secara kebetulan menjadi sesuai bagi adanya
kehidupan. Inilah pernyataan terbaru yang telah digunakan para pemikir
materialis untuk mengelak ketika mendapati adanya perancangan sempurna
di alam semesta.
Pertama-tama perlu dijelaskan di sini mengapa mereka membuat pernyataan
seperti itu: selama ribuan tahun, agama-agama samawi dan berbagai
filsafat yang mengakui keberadaan Tuhan menyatakan bahwa terdapat
tujuan dan perancangan sengaja di jagat raya. Sebaliknya, kaum materialis
– yakni mereka yang menyatakan bahwa tiada sesuatu pun selain
materi – menolak adanya tujuan dan perancangan sengaja ini.
Namun, serangkaian penemuan astronomi dan fisika di abad ke-20 mengungkapkan
bahwa perancangan sengaja di jagat raya sungguh jelas sehingga tak
mungkin dapat diingkari. Berbagai penemuan ini mengungkapkan bahwa
di saat awal terbentuknya jagat raya, seluruh variabel, dari kecepatan
Big Bang hingga kekuatan empat gaya fundamental, dari struktur unsur-unsur
hingga struktur Tata Surya yang kita huni, benar-benar sesuai bagi
keberlangsungan kehidupan. Penemuan besar ini, yang oleh para ilmuwan
di tahun 1970-an diumumkan dan dipaparkan sebagai the Prinsip Anthropik
(yang menyatakan bahwa jagat raya secara khusus telah dirancang
agar sesuai untuk kelangsungan hidup manusia), secara nyata menggugurkan
pendapat materialis tentang ketiadaan perancangan.
Dalam tulisannya yang dimuat The New York Times, Paul Davies merangkum
fakta ini dan mengakui kesimpulan tak terelakkan tentang keberadaan
Tuhan:
Mengapa alam ini begitu cerdas – bahkan mungkin ada yang
berkata dengan curiga – begitu bersahabat dengan kehidupan?
Mengapa hukum-hukum fisika begitu peduli terhadap kehidupan dan
kesadaran sehingga hukum-hukum ini bersekongkol untuk membuat jagat
raya yang nyaman dihuni? Ini hampir seolah Perancang Mahahebat telah
melakukan semuanya.
Akan tetapi, meskipun menganggap perancangan di jagat raya sebagai
bukti keberadaan Tuhan, Prof. Davies mengingkari kenyataan ini.
Agar dapat menjelaskan asal-usul perancangan di jagat raya, ia terpaksa
menggunakan teori multiverse (jagat raya majemuk), sebagai pilihan
terakhir kalangan materialis, sebagaimana telah kita pahami.
Teori Multiverse (Jagat Raya Majemuk)

Profesor Paul Davies |
Teori multiverse (jagat raya majemuk)
adalah satu di antara sejumlah teori yang dikemukakan dalam
rangka menolak kebenaran penciptaan. Teori ini sama sekali
tidak memiliki landasan ilmiah. Ketiadaan bukti ilmiah yang
mendukung teori ini, sebagaimana diakui Prof. Davies sendiri,
menjadikan teori tersebut sebatas pada keyakinan belaka.
Keyakinan tanpa bukti ilmiah. Tambahan lagi, sungguh memperdayakan
jika kaum materialis membuat pernyataan seperti: “Anda
percaya bahwa Tuhan menciptakan jagat raya, kami percaya
pada keberadaan banyak jagat raya,” dengan kata lain
mereka menganggap keduanya memiliki semacam kesamaan.
Penjelasan masuk akal atas adanya perancangan
di jagat raya adalah keberadaan sang perancang cerdas. Ketika
Anda melihat sebuah patung, Anda yakin bahwa pastilah terdapat
seorang ahli patung. Bantahan seperti “Karena terdapat
bebatuan berjumlah tak hingga di jagat raya, maka yang satu
ini terbentuk begitu saja dengan sendirinya secara kebetulan,”
sudah tentu sangat tidak masuk akal. Asal-usul kesempurnaan
dan kecermatan perhitungan dan pengaturan di jagat raya
hanya dapat dijelaskan dengan istilah perancangan (desain)
dan bukan kebetulan.
|
Menurut teori ini, jagat raya (universe) yang kita tempati mungkin
hanyalah satu dari sekian banyak jagat raya (universes) berjumlah
tak hingga yang membentuk sebuah “jagat raya majemuk”
yang jauh lebih besar lagi yang dinamakan “multiverse”
(=kumpulan dari banyak “universe”, multi=banyak/majemuk,
uni=satu/tunggal). Dalam pandangan kalangan materialis, sangatlah
biasa jika ada satu atau beberapa dari jagat raya berjumlah banyak
tersebut yang cocok bagi kehidupan.
Namun, adakah satu bukti ilmiah pun yang mendukung teori ini? Tidak.
Tak ada sama sekali. Ini tak lebih dari sekedar rekaan. Yang menarik
dari tulisan Prof. Davies adalah ia berusaha memberi kesan seolah
benar-benar ada cukup banyak bukti penting yang mendukung teori
multiverse. Terdapat keterangan gambar singkat pada surat kabar
tersebut yang merangkum tulisannya, yang diarahkan untuk memunculkan
kesan tersebut:
“Gagasan tentang jagat raya majemuk, atau realitas majemuk,
telah ada selama berabad-abad. Akan tetapi, pembenaran ilmiah yang
mendukungnya adalah hal yang baru.”
Siapa pun yang memahami kalimat pendahuluan di atas tanpa membaca
keseluruhan isi artikelnya akan benar-benar mendapatkan kesan bahwa
teori multiverse didasarkan pada bukti ilmiah nyata dan bahwa Prof.
Davies akan memaparkan bukti-bukti ini di dalam tulisannya. Namun
sebaliknya, bukti seperti itu tak pernah ada, dan nyatanya penulis
tak menyebutkan sepatah kata pun tentang bukti ilmiah baru ini,
yang pastilah akan dibicarakannya dengan penuh percaya diri jika
bukti baru tersebut memang benar-benar ada.
Sebaliknya, terdapat sejumlah pengakuan dalam tulisan Prof. Davies
bahwa teori multiverse hanyalah reka-reka saja. Menurut Prof. Davies,
teori multiverse telah dirumuskan “dengan cara berimajinasi.”
Terlebih lagi, berkenaan dengan teori ini ia mengatakan bahwa “tingkat
kebenarannya mencapai suatu batas (untuk dapat diterima)”
dan teori ini “semakin lama semakin wajib diterima atas dasar
keyakinan.”
Singkatnya, ketertarikan Prof. Davies dan semua kalangan materialis
lainnya terhadap teori multiverse lebih disebabkan kecenderungan
pribadi daripada keberadaan bukti ilmiahnya. Titik awal yang memunculkan
kecenderungan pribadi ini adalah keengganannya untuk menerima bahwa
jagat raya adalah karya Pencipta. Paul Davies menyatakan fakta ini
dalam tulisannya. Ia mengatakan bahwa penjelasan apa pun yang didasarkan
pada perkataan “Tuhan menjadikannya demikian” tidaklah
“memuaskan” bagi seorang ilmuwan.
Keajaiban di Alam
BENIH PENGARUNG SAMUDERA
Sejumlah
tumbuhan memiliki benih yang tersebar luas dengan bantuan air. Benih-benih
jenis ini biasanya memiliki ciri khusus yang berbeda dengan benih
tumbuhan jenis lain. Misalnya, tumbuhan yang menyebarkan benihnya
dengan bantuan air memiliki bentuk tertentu yang menjadikan beratnya
seringan mungkin dan permukaannya seluas mungkin. Selain itu, jaringan
apung penyusunnya dapat berbentuk beragam. Benih memiliki ruangan-ruangan
kecil berisi udara yang membentuk sepon, atau berupa udara yang
terperangkap dalam rongga tertutup, sehingga benih dapat terapung.
Juga, dinding sel jaringan apung memiliki struktur yang mampu mencegah
masuknya air ke dalam benih. Selain itu, terdapat rongga tambahan
di bagian dalam benih yang melindungi embrio, bagian benih yang
berisi seluruh informasi genetis tumbuhan tersebut.
Di antara beragam benih tumbuhan yang
tersebar melalui air ini, terdapat benih-benih yang mampu berada
di dalam air selama kurang lebih 80 hari tanpa rusak dan tanpa berkecambah
dikarenakan strukturnya yang kokoh. Yang paling terkenal di antaranya
adalah benih atau buah pohon kelapa. Benih pohon kelapa tersimpan
dalam tempurung keras demi keamanannya selama perjalanan. Dalam
tempurung keras ini, segala perbekalan yang diperlukan untuk perjalanan
jauh telah tersedia, termasuk air. Juga, bagian terluarnya diselaputi
lapisan keras dan kuat yang mencegah masuknya air yang dapat merusak
benih.
Ciri buah kelapa paling menonjol adalah
adanya ruangan-ruangan berisi udara yang membuatnya terapung di
air. Karenanya, buah kelapa dapat terbawa ombak lautan hingga ribuan
kilometer jauhnya. Ketika terdampar di suatu pantai, buah kelapa
ini mulai berkecambah dan tumbuh menjadi pohon kelapa.
Sungguh istimewa bahwa buah kelapa hanya
berkecambah segera setelah mencapai daratan. Padahal, sebagaimana
diketahui, benih tumbuhan umumnya berkecambah segera setelah menemukan
air. Tapi ini tidak berlaku bagi tumbuhan kelapa. Dengan sifat dan
strukturnya yang tersendiri, tumbuhan yang menyebarkan benih melalui
air memiliki perkecualian. Sebab, jika benih tumbuhan jenis ini
berkecambah segera setelah bertemu air, maka benih ini takkan mungkin
dapat tumbuh di air sehingga takkan pula bertahan lama. Jika ini
yang terjadi, maka tumbuhan tersebut sudah punah dari dulu. Namun,
dengan segala sifat dan cara hidup yang telah sesuai dengan lingkungan
khasnya, tumbuhan ini dapat terus melangsungkan kehidupannya. Jelas
bahwa sifat-sifat dan rancangan cermat dan sempurna ini tak mungkin
ada dengan sendirinya sebagaimana pernyataan para evolusionis.
Seluruh sari makanan dan air yang tersimpan
dalam benih, jangka waktu perjalanannya hingga mencapai daratan,
serta seluruh perhitungan cermat yang dibutuhkan untuk mewujudkan
rancangan ini telah ditetapkan oleh Allah. Dia-lah Pemilik kekuasaan
dan pengetahuan yang tak terbatas.
Iptek Anak
Si Mungil Ahli Pemotong Daun
Adik-adik, tahukah kalian bahwa ada jenis semut yang
bercocok tanam dengan menumbuhkan jamur di sarangnya? Yah mereka
inilah semut-semut petani jamur. Mereka menanam jamur untuk makanan
mereka. Mereka menggunakan dedaunan tumbuhan yang telah mereka potong-potong
sebagai media penumbuh jamur.
Namun, tahukah kalian, bagaimana semut-semut ini memotong
dedaunan? Ternyata semut memiliki peralatan khusus dan sangat ahli
dalam memotong dedaunan, bahkan ranting pohon!
 
Bila ukuran semut dibandingkan dengan manusia, besarnya
dedaunan yang mereka potong layaknya selembar papan berat
atau sebuah batang pokok pohon. Oleh karena itu, semut ini
pastilah memiliki alat dan cara pemotongan yang sangat canggih.
|
Bila ukuran semut dibandingkan dengan manusia, besarnya
dedaunan yang mereka potong layaknya selembar papan berat atau sebuah
batang pokok pohon. Kita menggunakan peralatan khusus untuk menebang
pohon, dengan gergaji mesin misalnya. Tapi, bagaimana semut melakukannya?
Jawabannya lagi-lagi menunjukkan keajaiban penciptaan. Allah telah
memberi semut seperangkat alat potong yang merupakan keajaiban desain.

Perangkat pemotongan semut pemotong daun, sebagaimana tampak
di gambar, terdiri atas dua bilah pisau. Pisau tersebut
terbalut lapisan logam seng yang menjadikannya sangat tajam.
Cara pemotongannya pun sungguh mengagumkan. Organ khusus
di bawah kepala semut membangkitkan gelombang suara berfrekuensi
tinggi. Gelombang ini diteruskan ke daun melalui pisau tersebut
sehingga menjadikan daun lebih rapuh dan mudah dipotong.
|
Perangkat pemotongan terdiri atas dua bilah pisau.
Pisau tersebut terbalut lapisan seng yang menjadikannya sangat tajam.
Cara pemotongannya sungguh mengagumkan. Organ khusus di bawah kepala
semut membangkitkan gelombang suara berfrekuensi tinggi. Gelombang
ini diteruskan ke daun melalui pisau tersebut sehingga menjadikan
daun lebih rapuh dan mudah dipotong.
Desain pada perangkat ini sangatlah canggih. Marilah
kita teliti struktur perangkat tersebut. Melapisi pisau logam dengan
logam campuran agar lebih tajam adalah teknik yang dipakai manusia.
Tapi manusia yang melakukannya memiliki akal dan kecerdasan, dan
perangkat teknologi yang dikembangkannya adalah hasil penelitian
khusus di laboratorium .
Tapi semut tak pernah tahu jika ada bahan baku yang
bernama seng. Tidak juga mereka tahu bahwa pisaunya terbalut lapisan
seng. Sel-sel perangkat pemotong pada semut dengan ajaib membungkus
pisau tersebut dengan lapisan seng. Terdapat perancangan maha cerdas
pada tubuh makhluk mungil ini.
Hal yang sama berlaku pula pada perangkat yang menjadikan
daun lebih mudah dipotong dengan menggunakan gelombang suara. Semut
sama sekali tidak tahu bahwa frekuensi tinggi akan menjadikan benda
lebih rapuh. Tak ada keraguan bahwa perangkat rumit secanggih ini
tidaklah mungkin ada dengan sendirinya secara kebetulan. Hanya ada
satu penjelasan bagi keberadaan perangkat yang sempurna ini. Perangkat
ini sengaja diciptakan. Semut telah diciptakan oleh Allah; dan teknik
pemotongan daun serta segala keahlian mereka yang lain adalah pemberian-Nya.
Hal ini dinyatakan dalam ayat Alquran:
“Pengetahuan Tuhanku meliputi segala
sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)
?" (QS. Al An’aam, 6:80)
Keruntuhan Teori Evolusi
‘Menyulap’ Kain Kotor Menjadi
Tikus
Bumi adalah rumah bagi kehidupan yang sangat rumit
dan beraneka ragam. Jutaan jenis tumbuhan dan hewan yang berbeda
hidup di bumi dengan sangat harmonis. Keharmonisan ini begitu sempurna
sehingga kehidupan terus berlanjut tanpa terusik, kecuali oleh campur
tangan sengaja manusia. Karena kehidupan ini terancang dan tertata
sempurna, maka sudah pasti ada yang menciptakan. Dia-lah Allah,
Tuhan Yang Esa, Pencipta langit dan bumi dari ketiadaan; dan segala
sesuatu di antara keduanya
 
"LUMPUR YANG BERUBAH MENJADI MAKHLUK HIDUP "
Nama ilmiah dari gambar di samping ini
adalah "Bathybius Haeckelii", yang berarti "Lumpur
Haeckel". Ernst Haeckel, seorang pendukung gigih teori
evolusi, mencoba mengamati lumpur yang berhasil dikeruk
dengan cawan dan menganggapnya sangat menyerupai sejumlah
sel yang dilihatnya di bawah mikroskop. Berdasarkan pengamatan
ini, ia menyatakan bahwa lumpur ini adalah materi tak hidup
yang berubah menjadi organisme hidup. Haeckel dan rekannya,
Darwin, meyakini kehidupan memiliki struktur sederhana sehingga
dapat terbentuk dari benda mati. Akan tetapi, ilmu pengetahuan
abad ke-20 menunjukkan bahwa kehidupan tidak pernah dapat
muncul dari sesuatu yang tak hidup.
|
Darwin
Teori evolusi yang dikemukakan di abad ke-19 menolak
fakta penciptaan ini. Teori ini menyatakan bahwa beragam makhluk
hidup di bumi bukan diciptakan Allah, melainkan muncul menjadi ada
akibat proses yang dikendalikan secara penuh oleh peristiwa alam
tak disengaja, atau secara kebetulan.
Pencetus teori ini adalah ilmuwan amatir ilmu alam
bernama Charles Darwin. Darwin memaparkan teori ini dalam bukunya
The Origin of Species, yang terbit pada tahun 1859.
Teori Darwin menyatakan bahwa semua spesies makhluk
hidup berasal dari satu nenek moyang yang sama, melalui perubahan
bertahap sedikit demi sedikit dalam waktu lama. Darwin tidak mampu
memberikan bukti meyakinkan untuk membenarkan pernyataannya ini.
Bahkan ia sendiri menyadari banyak fakta penting yang dapat menggugurkan
teorinya. Ia mengakui hal ini dalam bukunya pada bab berjudul “Difficulties
on Theory” (Kesulitan-kesulitan Teori). Darwin berharap
kesulitan-kesulitan ini akan teratasi oleh penemuan ilmiah di masa
mendatang. Namun, kemajuan di bidang ilmu pengetahuan ternyata malah
mengugurkan pernyataan Darwin satu demi satu.
Asal-Usul Kehidupan

SEL YANG MEMBELAH DIRI
Hukum paling mendasar dari kehidupan adalah "kehidupan
hanya berasal dari kehidupan". Suatu makhluk hidup
hanya dapat muncul dari kehidupan sebelumnya.
|
Darwin berpendapat bahwa seluruh spesies makhlukh hidup berevolusi
secara bertahap dari satu nenek moyang yang sama. Tapi, bagaimana
makhluk hidup pertama muncul menjadi ada?
Darwin sama sekali tidak mengulas pertanyaan ini dalam bukunya.
Ia bahkan tidak menyadari bahwa ini adalah salah satu bantahan terbesar
terhadap teorinya. Penguasaan ilmu pengetahuan yang sederhana di
masanya menganggap bahwa kehidupan memiliki bentuk sangat sederhana.
Para evolusionis menyatakan bahwa makhluk hidup paling pertama
yang muncul di bumi adalah sel tunggal yang terbentuk dari benda
mati dengan sendirinya, secara kebetulan, dan tidak diciptakan dengan
sengaja. Menurut teori ini, pada saat bumi masih terdiri atas bebatuan,
tanah, gas dan unsur lainnya, suatu organisme hidup terbentuk dengan
sendirinya secara kebetulan akibat pengaruh angin, hujan, dan halilintar.
Tetapi pernyataan evolusi ini bertentangan dengan salah satu kaidah
paling mendasar biologi: Kehidupan hanya berasal dari kehidupan
sebelumnya, yang berarti benda mati tak dapat memunculkan kehidupan.
Kepercayaan bahwa benda maati dapat memunculkan kehidupan (generatio
spontanea) sebenarnya telah ada dalam bentuk kepercayaan takhayul
sejak abad pertengahan. Waktu itu, sejumlah percobaan dilakukan
untuk membuktikan teori ini. Segenggam gandum diletakkan pada kain
kotor dengan harapan tikus akan muncul darinya. Belatung pada daging
juga dijadikan bukti bahwa kehidupan dapat muncul dari benda tak
hidup. Tapi di kemudian hari diketahui bahwa belatung tidak dapat
muncul dengan sendirinya melainkan berasal dari larva tidak kasat
mata yang diletakkan lalat pada daging. Dan di masa Darwin, kepercayaan
bahwa mikroba mudah terbentuk dari benda tak hidup sangatlah umum.

SPONTANEOUS GENERATION: TAKHAYUL ABAD PERTENGAHAN
Di antara kepercayaan takhayul yang diyakini
masyarakat abad pertengahan adalah benda mati dapat memunculkan
kehidupan dengan sendirinya secara tiba-tiba. Saat itu diyakini,
misalnya, katak dan ikan terbentuk dengan sendirinya dari
lumpur di dasar sungai. Di kemudian hari terungkap, hipotesis
yang dikenal sebagai "spontaneous generation (kemunculan
tiba-tiba)" ini adalah kebohongan belaka. Akan tetapi,
di kemudian hari dengan skenario yang sedikit berbeda, kepercayaan
ini dihidupkan kembali dengan nama "teori evolusi".
|
Pasteur
Tetapi, lima tahun setelah penerbitan buku The Origin of Species,
ilmuwan biologi Prancis terkenal Louis Pasteur secara ilmiah menggugurkan
mitos yang meletakkan dasar bagi teori evolusi ini. Setelah pengkajian
dan penelitian panjang, Pasteur akhirnya sampai pada kesimpulan
yang sangat penting ini: “Mampukah materi melakukan pembentukan
sendiri? Tidak, saat ini tidak ada kondisi yang pernah diketahui,
yang dengannya seseorang dapat membuktikan bahwa makhluk-makhluk
mikroskopis telah terbentuk di bumi tanpa induk yang menyerupai
mereka”.
Kisah Al Qur’an
KAUM SABA DAN BANJIR ‘ARIM

Prasasti yang ditulis menggunakan bahasa kaum Saba. |
Saba yang dibangun di selatan jazirah Arab pada abad
ke-11 sebelum masehi, adalah sebuah peradaban besar. Al Qur’an
memaparkan kisah Ratu Saba dan Nabi Sulaiman secara amat rinci.
Namun, terdapat kisah lain dalam Al Qur’an tentang kaum ini,
yakni perihal kehancuran dahsyat mereka.
Naskah tertua yang menyatakan keberadaan Kaum Saba adalah catatan
tahunan peperangan dari zaman raja Assyria, Sargon II. Menurut prasasti
ini, Sargon menyebut Saba sebagai salah satu negeri yang membayar
upeti padanya. Ini adalah catatan tertua yang secara pasti memberitakan
adanya negeri Saba. Catatan kuno yang memberitakan kaum Saba menyatakan
bahwa, sama halnya dengan bangsa Phunisia, mereka adalah negeri
yang melakukan kegiatan perniagaan, dan sejumlah jalur perdagangan
terpenting di utara Arab ada dalam kekuasaan mereka. Penduduk Saba
terkenal dalam sejarah sebagai bangsa berperadaban. Prasasti dari
para penguasa Saba seringkali berbicara tentang "perbaikan",
"pembiayaan", "pembangunan".
Bendungan Ma'rib, yang reruntuhannya masih tersisa hingga kini,
adalah bukti penting kemajuan teknologi kaum Saba. Berkat bendungan
ini, sebuah negeri hijau terhampar di tengah gurun pasir. Ibukotanya,
Ma'rib, diuntungkan oleh bendungan ini, dan menjadi makmur karena
berbagai keuntungan geografisnya. Kota ini terletak dekat sungai
Adhanah. Kaum Saba memanfaatkan letak ini dengan mendirikan bendungan
seiring dengan pembangunan peradaban mereka, dan mulai mengairi
wilayah tersebut. Pertanian menjadi makmur dan mereka pun menikmati
kesejahteraan hidup yang tinggi.
Ibukota Ma'rib adalah salah satu kota terindah di zamannya. Penulis
Yunani, Pliny, yang berkunjung dan sangat memuji negeri ini, mengatakan
dalam karyanya tentang hijaunya negeri tersebut. Bendungan di Ma'rib
berketinggian 16 meter dengan lebar 60 meter, dan panjang 620 meter.
Perhitungan menunjukkan; dua dataran luas di kedua sisi kota mampu
diairi bendungan tersebut. Kedua dataran ini terkadang digambarkan
dalam prasasti bangsa Saba sebagai "Ma’rib dan dataran
kembar".

Dengan bendungan Ma’rib yang mereka bangun dengan teknologi
sangat maju, kaum Saba memiliki sistem pengairan yang hebat.
Tanah yang subur dan penguasaan atas jalur-jalur perdagangan
menjadikan mereka memiliki taraf hidup tinggi dan mewah. Akan
tetapi mereka berpaling dari Allah, padahal kepada-Nyalah mereka
seharusnya bersyukur atas segala kenikmatan tersebut. Karenanya,
bendungan mereka jebol, dan banjir ‘Arim menghancurkan
segala sesuatu yang mereka miliki. |
Ungkapan "Dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri
" dalam Al Qur’an sangat mungkin merujuk pada perkebunan
anggur dan kebun-kebun menawan di dua lembah ini. Berkat bendungan
dan sarana pengairannya, daerah ini terkenal sebagai yang terbaik
pengairan dan kesuburannya di Yaman.
Ketika kita mempelajari ayat-ayat Al Qur’an berdasarkan temuan
sejarah ini, kita dapati kesesuaian besar di antara keduanya. Penemuan
arkeologis dan bukti sejarah benar-benar cocok dengan yang tertulis
dalam Al Qur’an. Kaum tersebut mengabaikan peringatan nabi
yang diutus kepada mereka, dan tidak mensyukuri nikmat Allah, akhirnya
mereka dihukum dengan bencana mengerikan. Al Qur’an mengisahkan:
Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan)
di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan
dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu
dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya.
(Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang
Maha Pengampun". Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan
kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka
dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit,
pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi
balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan
azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang
sangat kafir. (QS. Saba, 34:15-17)
Kaum Saba hidup di daerah sangat indah dengan perkebunan anggur
dan kebun-kebun subur. Negeri Saba terletak di jalur perniagaan
sehingga sangat makmur, dan menjadikannya salah satu kota terkemuka
di zamannya. Yang hanya perlu dilakukan kaum Saba dalam kelapangan
ini adalah "memakan rezki yang dianugerahkan Tuhan mereka dan
bersyukur kepada-Nya." Tapi mereka tidak melakukannya, malahan,
seperti yang dikatakan dalam sebuah ayat, "mereka berpaling
dari Allah…"
 
Reruntuhan bendungan Ma’rib di atas merupakan salah
satu karya terpenting kaum Saba (kiri). Bendungin ini jebol
oleh banjir ‘Aarim sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an,
dan semua lahan pertanian diterjang banjir ini. Wilayah Saba
hancur karena jebolnya bendungan Ma’rib. Negeri Saba
kehilangan pilar-pilar perekonomiannya dalam waktu singkat
dan kemudian runtuh sama sekali. Di masa kini, bendungan terkenal
kaum Saba tersebut dipergunakan lagi sebagai sarana pengairan.
(kanan) |
Keangkuhan atas kemakmuran mereka mengakibatkan mereka merugi.
Seluruh negeri diratakan oleh banjir dahsyat. Perkebunan anggur
dan kebun-kebun kaum Saba tiba-tiba lenyap terbenam air. Azab yang
menimpa kaum Saba dilukiskan dalam Al Qur’an dengan ungkapan,
"Sailul ‘Arim," atau Banjir ‘Arim. Istilah
Al Qur’an ini juga mengisahkan pada kita bagaimana bencana
ini terjadi. Kata "’Arim" berarti "bendungan"
atau "tanggul". "Sailul ‘Arim” menjelaskan
bagaimana banjir berlangsung setelah jebolnya bendungan.
Arkeolog Kristen, Werner Keller sepakat bahwa Banjir ‘Arim
sesuai dengan gambaran Al Qur’an, ia menulis:
Selama 1500 tahun perkebunan rempah-rempah ini tumbuh subur
di sekitar Ma’rib. Ini berlangsung sampai tahun 542 sebelum
masehi—yakni saat bendungan itu jebol. Gurun pasir tandus
perlahan menutupi negeri subur ini dan mengancurkan segalanya. Al
Qur’an mengisahkan "Kaum Saba memiliki kebun-kebun indah
dengan buah-buahan termahal yang ranum." Namun kaum tersebut
berpaling dari Tuhan, sehingga Dia menghukum mereka dengan jebolnya
bendungan. Setelah itu tak ada yang tumbuh di kebun-kebun negeri
Saba, kecuali pohon berbuah pahit. (Werner Keller, The Bible as
History, William Morrow and Company, Inc., New York, 1981, hlm.
216)
 
Al Qur’an memberitakan kepada kita bahwa Ratu Saba dan
kaumnya menyembah matahari sebelum mereka tunduk dan mengikuti
Nabi Sulaiman. Berita yang tertera pada prasasti menegaskan
kebenaran ini. Dalam prasasti disebutkan bahwa mereka menyembah
matahari dan bulan di tempat-tempat peribadatan mereka. |
Bendungan, yang dapat dianggap sebagai sumber utama kemakmuran
dan kesejahteraan Kaum Saba, juga menjadi jalan kehancuran kaum
yang tak bersyukur itu. Setelah bencana Banjir ‘Arim, daerah
ini berubah menjadi gurun pasir, dan bersamaan dengan lenyapnya
lahan pertanian, kaum Saba kehilangan sumber pendapatan utama mereka.
Kaum Saba mendustakan seruan agar beriman dan bersyukur kepada Tuhan,
dan mereka pun diazab. Setelah kerusakan parah akibat banjir, kaum
Saba mulai bercerai-berai. Mereka tinggalkan rumah-rumah mereka
dan mengungsi ke wilayah utara Arabia, Mekkah dan Syria. Ma'rib,
yang dahulunya didiami Kaum Saba, kini hanyalah reruntuhan tak berpenghuni,
dan sungguh menjadi peringatan bagi siapa pun yang melakukan kesalahan
serupa Kaum Saba.
Tafakur
AL ‘ALIIM, MAHA MENGETAHUI
“Sesungguhnya
Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya
Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. Faathir, 35:38)
Allah memiliki pengetahuan tentang langit dan bumi, seluruh makhluk
hidup di antara keduanya. Dia mengetahui seluruh hukum yang mengatur
alam semesta, dan seluruh peristiwa yang terjadi di seluruh waktu.
Sebab Allah-lah yang menciptakan mereka semua.
Di samping itu, tak ada yang membatasi
pengetahuan Allah. Allah mengetahui jati diri setiap manusia yang
lahir atau mati. Allah mengetahui jumlah dedaunan yang berjatuhan
dari setiap pohon yang ada di bumi, dan semuanya ini diketahui pada
saat bersamaan. Dia mengetahui secara rinci miliaran bintang dalam
miliaran galaksi di jagat raya, dan seluruh hal lain yang takkan
pernah mampu kita sebutkan di sini.
Tuhan kita mengetahui segala sesuatu
yang terjadi di bumi dan di ruang angkasa. Dia mengetahui kode-kode
genetik seluruh miliaran manusia, hewan dan tumbuhan di dunia. Dalam
sebuah ayat Al Qur’an Allah berfirman :
“Dan pada sisi Allah-lah
kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali
Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan,
dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya
(pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan
tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam
kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al An’aam, 6:59)
Satu hal sangat penting jangan pernah
kita lupakan: Selain dari semua yang telah kita sebutkan, Allah
juga mengetahui isi hati manusia. Dia memahami apa yang terlintas
dalam benak setiap manusia, dan segala sesuatu yang dikerjakannya,
yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.
Manusia mengira hanya mereka sendirilah
yang tahu seluruh perasaan, pikiran, dan kecemasan yang mereka rasakan.
Ini adalah kesalahan besar. Seperti pengetahuan-Nya tentang segala
sesuatu di alam semesta, Allah pun mengetahui apa yang ada di luar
dalam diri manusia.
|