Editorial
Misteri Tongkat Si Buta 2004
Setelah
berguru di gua hantu, kini sang pendekar buta pun menjadi sosok
paling digdaya. Meski hanya dengan tongkat kayu di tangan, ia mampu
mengalahkan lawan-lawannya yang memegang aneka senjata mematikan.
Seperti kebanyakan film laga lainnya, akhir cerita ditutup dengan
kemenangan si pendekar buta. Itulah kira-kira sekelumit alur cerita
“Si Buta Dari Gua Hantu”, film laga yang pernah beredar
di negeri ini di masa lalu. Entahlah, apa ilham di balik kisah tersebut,
mungkinkah kisa nyata, atau sekedar khayalan penulis skenarionya?
Yang jelas, film ini sepertinya dibuat bukan sebagai film fiksi
ilmiah masa depan yang seringkali didasarkan fakta ilmiah. Namun,
jika dikaitkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
terkini, film laga tersebut sekarang bisa jadi dikatakan “fiksi
ilmiah”, meskipun hingga taraf tertentu. Mengapa? Pasalnya
“tongkat si buta” itu kini telah ditemukan, meskipun
“di gua kelelawar” dan bukan di gua hantu.

Gambar di atas adalah batcane, dari kata “bat” (kelelawar)
dan “cane” (tongkat). Terlihat di sini adalah bagian
tangkai yang digenggam oleh pengguna, yang memiliki perangkat
elektronik canggih. Sebagian besar laras panjangnya tidak terlihat
pada gambar. Kelelawar ciptaan Allah-lah ilham teknologi yang
kemudian diberi nama dagang UltraCane dan baru dipasarkan tahun
ini. |
Tahun 2004 ini merupakan ajang dipamerkannya “tongkat
si buta” di Eropa dan Amerika. Setelah dipajang di Los Angeles,
AS pada bulan Maret 2004 dan di Frankfurt, Jerman pada bulan Mei
2004; dua kota di Irlandia, Dublin dan Belfast baru saja menjadi
tuan rumah pameran bagi “tongkat si buta” ini pada tanggal
1 – 4 Juni 2004. Kota Birmingham, Inggris, menyusul menjadi
tempat terhormat yang akan mempertontonkan “tongkat si buta”
di depan umum pada tanggal 14 – 16 Juli 2004. Bagi Anda yang
ingin mengetahui lebih lanjut, silakan kunjungi situs http://www.seeingbetterireland.org
dan www.qac.ac.uk/sightvillage/6-1.html.
Begitu istimewakah tongkat ini hingga dipamerkan di
tingkat dunia? Benar, keistimewaannya tak hanya terletak pada keberadaannya,
yang nyata-nyata ada dan terbukti “sakti”; tidak seperti
tongkat “Si Buta Dari Gua Hantu” yang khayalan film
belaka. Tongkat yang terilhami oleh kelelawar yang seringkali tinggal
di gua-gua ini terbukti sangat membantu para tunanetra. Meskipun
tidak menjadi sehebat “Si Buta Dari Gua Hantu”, para
tunanetra yang telah memakainya sangat terkagum, menjadi lebih percaya
diri dan lebih leluasa berjalan. Desainnya yang bagus dan kelebihan
lainnya menjadikannya memenangkan penghargaan bergengsi.
Itulah tongkat tunanetra, yang awalnya dijuluki batcane
(tongkat kelelawar) dan terakhir diberi nama dagang UltraCane (tongkat
hebat), buatan para ilmuwan dan insinyur asal Eropa yang terilhami
kelelawar buta. Allah SWT menciptakan kelelawar dengan kelengkapan
dan kemampuan navigasinya yang handal. Di balik kehebatan kelelawar,
tersembunyi ilmu dan pengetahuan Allah yang dipelajari manusia dalam
merancang aneka temuan teknologi mereka. Mahasuci Allah, Pencipta
tanpa tara.
Surat
Pembaca
|
|
“Dan
pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata
yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda kekuasaan
Allah) untuk kaum yang meyakini.”(QS. Al Jaatsiyah,
45: 4) |
FOOTNOTE DAN TTS
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Salut untuk insight sebagai pionir majalah iptek Islam di Indonesia.
Semoga tetap eksis di jalurnya. Sebagai pelajar, khususnya di program
IPA kami senang dengan hadirnya insight sebagai pembawa info sains
yang sesuai fakta dan data. Sekedar usulan, alangkah baiknya bila
insight memberikan foot note bagi istilah-istilah ilmiah untuk lebih
memahamkan pembaca, khususnya pelajar. Yang kedua, alangkah lebih
serunya lagi bila insight menyediakan kolom TTS yang berkaitan khusus
tentang iptek. Jazakumullah.
Wassalamu ‘alaikum Wr.Wb.
Pembaca Insight ITC Baitussalam
Wonolopo Mijen Semarang Jateng 50215
BANYAK HIKMAHNYA
Assalamualaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah, saya merasa sangat beruntung bisa mendapatkan majalah
insight di usia saya ini, 33 tahun. Banyak hikmah yang saya peroleh
dengan membacanya, antara lain pengetahuan saya tentang astronomi,
biologi, sains, teknologi dll bertambah, dan yang pasti saya merasa
menjadi lebih mengenal Allah Sang Pencipta. Tidak ada kritik yang
layak buat saya sampaikan berhubung insight sudah porposional isinya
kecuali satu saran agar di tiap edisi ada semacam Teka Teki Silang
yang berhubungan dengan isi majalah insight. Terima kasih atas dibacanya
surat saya ini.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Yuliana
Jln .Jend. Sudirman.45 - 47
BINJAI - 20711 SUMATERA UTARA
IPTEK TERKINI
Assalamu’alaikum Wr .Wb,
Saya sangat senang ada majalah tentang iptek, karena akan membantu
membentuk generasi muda yang tidak ‘gaptek’. Kalau bisa
saya minta kepada insight untuk menampilkan rubrik tentang penemuanpenemuan
terbaru tentang iptek dan beritaberita hangat iptek terkini. Sehingga
diharapkan akan membuka cakrawala generasi Indonesia untuk terus
menggali ilmu, karena kalau saya amati Indonesia sangat tertinggal
jauh dengan negaranegara lain. Terima kasih semoga dengan adanya
majalah insight akan membentuk generasi yang lebih baik.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Ahmad Nurhakim. Astra TPB IPB C2
Jl. Pinus Darmaga, Bogor
Insight menjawab:
Terima kasih atas sambutan baik para pembaca setia insight.
Demikian halnya dengan segala masukannya. Banyak sekali surat pembaca
dilayangkan ke redaksi yang meminta quiz berupa TTS. Insya Allah,
redaksi berusaha memberi yang terbaik untuk pembaca sekalian, termasuk
menampilkan TTS iptek di edisi mendatang.
Dari
Kami
BIOMIMIKRI
Assalamu’alaikum wr. wb.
Pembaca
budiman, sebagaimana dapat kita simak bersama, sejak edisi lalu,
insight telah memuat berita iptek terkini, yang mungkin belum pernah
pembaca temukan di media dalam negeri mana pun. Bulan lalu redaksi
memuat tulisan tentang penelitian yang saat ini tengah dilakukan,
yakni teknologi penyala-ulang mesin turbin pesawat terbang yang
terilhami sejenis kumbang. Di edisi sekarang, kami menampilkan tulisan
tentang produk teknologi yang baru saja dibuat dan dipasarkan di
tahun 2004 ini, yaitu UltraCane. Dan insya Allah, bulan depan akan
kami tampilkan sejumlah hal yang tak kalah serunya, yang kami yakin
belum banyak Anda ketahui, yakni sebuah gerakan baru di bidang iptek:
biomimicry, atau yang juga dijuluki biomimetics, biomimesis atau
bionis. Ini adalah sebuah kecenderungan baru di negara-negara maju
untuk membuat teknologi terbaik dengan meniru apa yang sudah Allah
ciptakan di alam. Kini, pusat-pusat kajian maupun kelompok penelitian
ilmiah di bidang biomimicry atau biomimetics, telah banyak didirikan
di Eropa, Amerika, Australia dan bahkan di Asia, seperti di Jepang.
Di Indonesia sendiri, sepertinya hal ini belum ada, dan mudah-mudahan
di antara Anda, wahai pembaca budiman, ada yang memelopori membuat
kajian iptek di bidang ini. Mengapa tidak?
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Redaksi
Bahasan
Utama 1
‘MELIHAT’ TANPA MATA
Beberapa tahun lalu, perangkat
canggih bernama batcane, yang berarti tongkat kelelawar, telah mendapatkan
sejumlah penghargaan bergengsi di Eropa. Tongkat istimewa macam
apakah itu, apa kegunaannya, dan siapakah yang merancangnya? Sebelum
mengulas jawaban pertanyaan tersebut, ada baiknya terlebih dahulu
kita selami ilham di balik perangkat yang sekarang beralih nama
menjadi UltraCane ini: kelelawar...
Kelelawar
merupakan makhluk yang sangat menarik. Yang paling hebat dari keahliannya
adalah kemampuan luar biasa dalam menentukan arah terbangnya. Kemampuan
mengindera tempat dan benda dengan suara yang terpantul (gema) pada
kelelawar ditemukan melalui serangkaian percobaan oleh para ilmuwan.
Mari kita simak lebih dekat percobaan-percobaan tersebut untuk mengungkap
rancangan yang luar biasa pada makhluk ini.
Pada percobaan pertama, seekor kelelawar ditempatkan
di sebuah ruangan gelap gulita. Di salah satu sudut ruangan ini,
seekor lalat ditempatkan sebagai mangsa untuk sang kelelawar. Mulai
saat itu, segala hal yang terjadi di ruangan tersebut dipantau dengan
kamera-kamera yang mampu melacak di kegelapan malam hari. Begitu
lalat terbang, kelelawar yang awalnya ditempatkan di sudut lain
dalam ruangan ini dengan cepat bergerak langsung ke tempat lalat
berada dan menangkapnya. Dari percobaan ini disimpulkan bahwa kelelawar
tersebut memiliki indera sangat tajam dalam hal kepekaan, sekalipun
keadaannya gelap gulita. Meskipun begitu, apakah kepekaan kelelawar
ini dikarenakan oleh indera pendengaran? Ataukah ia memiliki penglihatan
yang terang di malam hari?
Untuk menjawab pertanyaan ini, percobaan kedua dilakukan.
Pada suatu sudut di ruangan yang sama, sekelompok ulat bulu diletakkan
dan ditutupi selembar koran. Begitu dilepaskan, kelelawar tidak
membuang-buang waktu untuk mengangkat lembaran koran tersebut dan
memakan ulat-ulat tadi. Hal ini membuktikan, kemampuan penentuan
arah milik kelelawar tidak ada kaitannya dengan indera penglihatan.
Para ilmuwan melanjutkan percobaan mereka terhadap
kelelawar: sebuah percobaan baru dilakukan di ruangan yang berbentuk
lorong panjang. Pada salah satu ujung lorong terdapat seekor kelelawar
dan di ujung lainnya ada sekelompok kupu-kupu. Di samping itu, serangkaian
dinding-dinding penyekat disusun berderet dan tegak lurus terhadap
dinding lorong tersebut. Di tiap penyekat, ada satu lubang tunggal
yang cukup besar bagi kelelawar untuk terbang melewatinya. Akan
tetapi, lubang-lubang ini ditempatkan pada titik berbeda di setiap
dinding penyekat. Dengan demikian, kelelawar harus terbang dengan
jalur berliku melaluinya sebelum mencapai kupu-kupu di ujung lainnya.
Para ilmuwan memulai pengamatannya segera setelah kelelawar
dilepaskan ke dalam lorong gelap tersebut. Ketika kelelawar sampai
pada penyekat pertama, ia menentukan tempat lubangnya dengan mudah
dan melewatinya dengan baik. Hal yang sama terpantau di seluruh
dinding penyekat: kelelawar terlihat tidak hanya tahu di mana penyekat
berada melainkan juga di mana tepatnya lubang berada. Setelah melalui
lubang terakhir, sang kelelawar pun mencapai kupu-kupu, dan mengisi
perut dengan hasil tangkapannya.

Percobaan menunjukkan bahwa kelelawar mampu dengan mudah menentukan
kedudukan dan terbang melalui lubang di dinding dalam gelap
gulita. |
Terpesona dengan apa yang mereka amati, para ilmuwan
memutuskan melakukan percobaan terakhir untuk memahami tingkat kepekaan
penginderaan kelelawar. Tujuannya kali ini adalah untuk menentukan
batas kemampuan penginderaan kelelawar lebih jelas. Sekali lagi,
lorong panjang disiapkan dan kawat baja bergaris tengah sekitar
0,6 mm, atau setipis beberapa helai rambut, digantungkan dari atap
hingga terjulur ke lantai lorong. Kawat-kawat ini ditempatkan secara
acak di seantero ruang lorong. Para peneliti semakin terkagum, karena
sang kelelawar menyelesaikan penerbangannya tanpa terantuk pada
satu rintangan kawat pun. Kemampuan terbang ini menunjukkan, kelelawar
mampu mengenali rintangan setipis 0,6 mm.
Penelitian setelahnya mengungkap bahwa kemampuan penginderaan
luar biasa kelelawar terkait dengan perangkat yang disebut echolocation
(ekolokasi) pada tubuh kelelawar. Ekolokasi adalah teknik menentukan
keberadaan tempat dan benda-benda dengan menggunakan gema (pantulan
suara). Untuk menentukan keberadaan benda-benda di sekitarnya, termasuk
benda hidup, kelelawar memancarkan suara berfrekuensi tinggi. Tatkala
mengenai benda-benda tersebut, gelombang suara ini lalu terpantul
kembali ke arah kelelawar. Meskipun tidak terdengar oleh manusia,
pantulan suara ini dapat ditangkap dan diindera oleh kelelawar,
sehingga memungkinkannya mendapatkan sebuah gambaran atau "peta"
lingkungan sekitarnya. Jadi, penginderaan kelelawar atas seekor
lalat dimungkinkan oleh adanya suara yang dipantulkan kembali pada
kelelawar dari lalat tersebut.
Kelelawar yang menentukan letak dengan gema ini mengingat
setiap gelombang suara yang dikeluarkannya dan membandingkan yang
asli dengan gema yang kembali kepadanya. Waktu yang habis antara
dikeluarkannya suara dengan diterimanya gema yang datang memberikan
penginderaan dan penentuan yang tepat mengenai jarak sasaran dari
sang kelelawar. Sebagai contoh, pada percobaan ketika kelelawar
menangkap ulat-ulat di lantai, kelelawar mengindera ulat dan bentuk
ruangan dengan memancarkan suara bernada tinggi dan mengindera sinyal-sinyal
yang terpantul. Lantai memantulkan suara tersebut, sehingga kelelawar
dapat menentukan jaraknya terhadap lantai. Sebaliknya, ulat bulu
yang berada di lantai berjarak sekitar 0,5 - 1 cm lebih dekat ke
kelelawar daripada jauhnya dengan lantai, karena permukaan atas
tubuh ulat berjarak 0,5 – 1 cm dari permukaan lantai tempat
sang ulat berada. Di samping itu, sang ulat melakukan gerakan-gerakan
kecil dan ini pada akhirnya mengubah frekuensi yang terpantul. Dengan
cara inilah kelelawar mampu menentukan keberadaan ulat bulu di lantai.
Ia memancarkan sekitar 20 ribu gelombang per detik dan mampu mengenali
semua suara yang terpantul. Bahkan, ketika ia melakukan hal ini,
kelelawar itu sendiri pun dalam keadaan terbang.
Penelitian yang seksama atas semua kenyataan ini dengan
jelas mengungkap rancangan yang hebat dalam penciptaan kelelawar.
Hal ini tidaklah mengherankan, sebab Allah, sang Pencipta kelelawar,
memiliki Pengetahuan dan Keahlian dalam mencipta tanpa tara. Allah
tidak perlu contoh dalam mencipta apa pun sekehendakNya, karena
Dialah Al Baadi, Pencipta paling pertama tanpa contoh. Mahasuci
Allah, sebaik-baik Pencipta.·
Bahasan
Utama 2
MISTERI LINTASAN LURUS
"Perjalanan yang dulu biasa memakan waktu 25 menit
dengan tongkat panjang, kini 5 menit lebih cepat dengan menggunakan
‘Tongkat Kelelawar’”, kata Andrew Saies. Andrew
merupakan salah satu di antara ‘para pendekar bertongkat kelelawar’
yang kini bisa berkelana lebih leluasa berkat tongkat itu. Sebelum
membahas tongkat ‘sakti’ kelelawar temuan para ilmuwan
Eropa ini, sekali lagi marilah kita kaji kehebatan jurus ‘sang
guru’, yakni kelelawar...
Masih ada sifat menakjubkan lain dari sistem ekolokasi
kelelawar atau perangkat untuk menentukan tempat dengan gema. Pendengaran
kelelawar telah tercipta sedemikian rupa sehingga ia tidak dapat
mendengar suara lain selain dari yang dipancarkannya sendiri. Rentang
frekuensi yang mampu didengar oleh makhluk ini sangat sempit, yang
lazimnya menjadi hambatan besar untuk hewan ini karena Efek Doppler,
sebuah istilah ilmiah di bidang fisika tentang gelombang suara.
Menurut Efek Doppler, jika sumber suara dan penerima suara keduanya
sama-sama tak bergerak, maka penerima akan mengindera frekuensi
yang sama dengan yang dipancarkan oleh sumber suara. Akan tetapi,
jika salah satunya bergerak, frekuensi yang diterima akan berbeda
dengan yang dipancarkan. Dalam hal ini, frekuensi suara yang dipantulkan
dapat jatuh ke wilayah frekuensi yang tidak dapat didengar oleh
kelelawar. Jika ini yang terjadi, maka kelelawar tentu akan menghadapi
masalah karena tidak dapat mendengar pantulan suaranya dari lalat
yang bergerak menjauh.
Akan tetapi, hal tersebut tidak pernah menjadi masalah
bagi kelelawar karena ia menyesuaikan frekuensi suara yang dikirimkannya
terhadap benda bergerak seolah sang kelelawar telah memahami Efek
Doppler. Misalnya, kelelawar mengirimkan suara berfrekuensi tertinggi
terhadap lalat yang bergerak menjauh sehingga pantulannya tidak
hilang dalam wilayah rentang suara yang tak terdengar oleh sang
kelelawar. Jadi, bagaimana pengaturan ini terjadi?

Di dalam otak kelelawar, terdapat dua jenis neuron
(sel saraf) yang mengendalikan perangkat penginderaan dengan gelombang
suara milik kelelawar. Sel saraf jenis pertama mengindera suara
ultrasonik (suara di atas jangkauan pendengaran kita) yang terpantul,
dan jenis yang kedua memerintahkan otot menghasilkan jeritan untuk
membuat gema penentuan tempat. Kedua jenis sel saraf ini seolah
bekerja sama dalam suatu kesesuaian sempurna sehingga penyimpangan
amat kecil dalam sinyal terpantul akan memperingatkan sel jenis
kedua dan menghasilkan frekuensi jeritan senada dengan frekuensi
gema. Karenanya, tinggi nada suara ultrasonik kelelawar berubah
menurut keadaan sekitarnya untuk mendapatkan daya guna sebesar-besarnya.
Sistem sonar atau perangkat penentuan keberadaan benda
dan tempat melalui pantulan suara kelelawar tersebut sungguh rumit
dan sempurna di setiap rinciannya. Karenanya, hal ini tidak mungkin
dapat dijelaskan dengan proses evolusi melalui mutasi acak tak disengaja.
Keberadaan serentak semua bagian sistem itu mutlak diperlukan agar
dapat bekerja dengan baik. Selain harus mengeluarkan suara bernada
tinggi, kelelawar juga harus mengolah sinyal terpantul, terbang
berkelak-kelok, serta menyesuaikan jeritan sonarnya. Semua ini dikerjakan
pada saat yang sama. Sudah pasti semua ini tidak dapat diterangkan
sebagai peristiwa tanpa sengaja. Sebaliknya, ini pertanda pasti
tentang betapa sempurnanya Allah menciptakan kelelawar.

Penelitian ilmiah lebih jauh mengungkap contoh-contoh
baru serangkaian keajaiban pada penciptaan kelelawar. Melalui setiap
penemuan baru yang menakjubkan, dunia ilmu pengetahuan mencoba memahami
bagaimana sistem ini bekerja. Sebagai contoh, penelitian baru terhadap
kelelawar telah mengungkap temuan yang amat menarik dalam tahun-tahun
belakangan. Beberapa ilmuwan yang ingin menguji sekelompok kelelawar
yang tinggal di suatu gua, memasang pemancar pada beberapa anggota
kelompok kelelawar itu. Kelelawar-kelelawar pun teramati meninggalkan
gua di malam hari dan mencari makan di luar hingga fajar. Para peneliti
menyimpan rekaman perjalanan ini. Mereka menemukan bahwa sebagian
kelelawar melakukan perjalanan sejauh 50-70 kilometer dari gua tersebut.
Temuan paling mengejutkan adalah mengenai kepulangannya, yang dimulai
sesaat sebelum terbit matahari. Semua kelelawar terbang pulang dalam
garis lurus ke gua masing-masing dari titik mana pun mereka berada.
Bagaimana kelelawar dapat mengetahui di mana dan sejauh mana jarak
keberadaan mereka dari gua asal mereka?
Kita masih belum mendapatkan pengetahuan terperinci
tentang cara mereka menemukan jalan pulang. Ilmuwan tidak meyakini
sistem pendengarannya berperan besar atas perjalanan pulang itu.
Karena kelelawar sepenuhnya buta cahaya, para ilmuwan berharap menemukan
suatu sistem lain yang mengejutkan. Pendek kata, ilmu pengetahuan
terus mencari sejumlah keajaiban baru tentang penciptaan dalam diri
kelelawar, satu di antara ribuan makhluk ciptaan Allah, Pencipta
Maha Sempurna. Kelelawar hanyalah satu di antara berjuta makhluk
ciptaan Allah. Pada satu binatang ini saja,
Bahasan
Utama 3
TEKNOLOGI KELELAWAR BAGI TUNANETRA

Seorang pemakai ‘Tongkat Kelelawar’ |
Inovasi teknologi UltraCane telah membawa perubahan besar bagi
mobilitas tunanetra maupun penderita ganggguan penglihatan yang
pada tahun 2003 diperkirakan berjumlah 25 juta di negara maju.
Untuk menentukan arah ataupun mencari mangsa di malam hari, kelelawar
menggunakan suatu teknik yang dinamakan ekolokasi (dari istilah
echolocation; echo: gema, suara terpantul, dan location: penentuan
letak, tempat benda). Ekolokasi adalah penentuan letak keberadaan
suatu benda dengan memanfaatkan gelombang suara yang terpantul dari
benda tersebut. Perangkat yang ada pada tubuh kelelawar ini mirip
prinsip kerja sonar dan radar dewasa ini. Tapi, sonar alami ini
telah terpasang pada tubuh kelelawar sejak puluhan juta tahun yang
lalu.
Suara yang dipancarkan kelelawar termasuk ke dalam kelas frekuensi
ultrasonik dan tidak dapat didengar manusia. Gelombang suara yang
terpantul – yang disebut echo atau gema – diterima oleh
alat pengindera alami yang disebut tragus dan diteruskan ke otak
untuk diterjemahkan menjadi citra lingkungan sekitarnya dalam benak
kelelawar. Dengan kata lain kelelawar bergerak di alam nyata dengan
panduan citra semu dalam pikirannya, yang sama persis dengan gambaran
lingkungan sebenarnya. Dengan kemampuan ini kelelawar dapat terbang
leluasa dalam kegelapan untuk mencari makan tanpa khawatir menabrak
benda-benda lain.
Tongkat Kelelawar Si Buta
Perangkat ekolokasi pada kelelawar ini memberi ilham bagi sejumlah
ilmuwan Inggris untuk merancang alat bantu elektronik bagi para
tunanetra. Meski tampak seperti tongkat logam putih biasa yang umum
dipakai tunanetra, namun alat baru ini punya kelebihan: memunculkan
citra buatan (semu) dalam otak penggunanya tentang gambaran tiga
dimensi lingkungan sekitarnya. Alat ini diproduksi oleh Sound Foresight
Ltd., perusahaan yang didirikan pada 1998 dan pada mulanya hanyalah
sebuah wahana tidak resmi untuk tukar pikiran antarpeneliti di Universitas
Leeds, Inggris. Para peneliti di bidang biologi, elektronik dan
ultrasonik ini saat itu mempunyai gagasan menggabungkan keahlian
mereka di bidang ultrasonik dan pengetahuan tentang pencitraan di
dalam otak. Mereka bermaksud membuat suatu alat yang nyata-nyata
diperlukan oleh mereka yang penglihatannya terganggu. Meski kini
dinamakan UltraCane (tongkat Ultra), namun awalnya alat
ini dijuluki Batcane yang berarti tongkat kelelawar,
sesuai dengan yang mengilhaminya. UltraCane menerapkan dua jenis
teknologi:

Logo Sound Foresight Ltd., perusahaan yang meluncurkan UltraCane |
Pertama, alat yang menerapkan teknologi terkini ini mencontoh perangkat
ekolokasi kelelawar yang mampu menemukan arah di kegelapan. UltraCane
dapat memancarkan pulsa-pulsa gelombang suara ultrasonik yang tak
terdengar telinga manusia. Ketika mengenai benda-benda di sekeliling,
termasuk yang terletak setinggi kepala penggunanya seperti kaca-spion
truk, gelombang tersebut kemudian dipantulkan. Pantulan gelombang
suara yang juga tak terdengar telinga manusia ini lalu ditangkap
oleh alat penerima pada UltraCane. Pantulan suara yang diterima
UltraCane ini diubah menjadi getaran yang dirasakan oleh tangan
pemakai, dan kemudian diteruskan ke otak. Informasi yang dihasilkan
oleh pantulan suara ultrasonik ini meliputi daerah depan, sisi kiri-kanan
dan juga bagian atas kepala pemakai. Kemampuan ini sangat membantu
pemakai mengetahui benda-benda penghalang di atas tanah maupun yang
terjulur dari atas, baik yang ada di depan, di sekeliling, di atas
kepala maupun yang dekat kepala.

UltraCane berawal dari cita-cita beberapa pakar dari Universitas
Leeds, Inggris: Prof. Deborah Withington (tengah), ahli zoologi
yang menekuni pengkajian tentang bagian otak yang bernama superior
colliculus, organ yang bekerja di bawah sadar dan menerima informasi
melalui tiga indera: penglihatan, pendengaran dan sentuhan;
Dr. Dean Waters (kiri), yang menghabiskan banyak waktunya dengan
kelelawar, mempelajari bagaimana kelelawar menggunakan ekolokasi
tanpa indera penglihatan; dan Prof. Brian Hoyle (kanan), pakar
elektronika. |
Kedua, alat yang dihidupkan oleh baterai jenis AA ini menerapkan
sistem informasi umpan balik yang mudah dipahami sistem pencitraan
pada bagian tertentu dari otak manusia. Hal ini memudahkan pemakai
memahami kondisi di sekitarnya dengan segera, tanpa perlu menyentuhkan
tongkat UltraCane pada benda penghalang. Tongkat elektronik ini
dapat memberitahu pemakai tentang adanya benda penghalang pada jarak
hingga tiga meter di depannya.
Adanya benda penghalang ini beserta jaraknya akan diberitahukan
kepada pemakai melalui getaran tombol-tombol di bawah jari-jemari
pemakai yang menggenggam alat ini. Semakin dekat jarak pemakai dengan
benda tersebut, frekuensi getaran yang dirasakan semakin meningkat.
Getaran yang dirasakan pada jari kemudian dikirim ke otak sehingga
dapat diterjemahkan menjadi citra buatan tiga dimensi dalam benak
pemakai. Dengan sedikit latihan, pemakai akan mendapatkan kemudahan
dalam mengetahui keadaan sekitarnya dan meningkatkan keleluasaan
pemakai dalam bergerak. Seperti kata Alexandra Bradstreet, seorang
pemakai UltraCane, yang dilansir pada situs resmi Sound Foresight
Ltd. (www.soundforesight.co.uk) :
“Saat menggunakan alat ini, orang-orang mengira saya sedang
berpura-pura buta, karena saya dapat mengatakan pada mereka di mana
letak benda-benda, kemudian mendekatinya, dan menemukan arah dengan
baik di tempat yang berbeda tanpa banyak pertolongan dari orang
lain. Terkadang saya takjub dengan diri saya sendiri.”

Pengguna UltraCane merasakan rintangan-rintangan di sekitar
setelah gelombang yang dipancarkan UltraCane dipantulkan oleh
aneka rintangan di sekeliling pemakai. Gelombang pantulan ini
ditangkap kembali oleh UltraCane dan kemudian dirasakan oleh
tangan pemakai yang menggenggamnya. Otak pemakai kemudian menerjemahkan
apa yang dirasakan pada tangannya sebagai rintangan di sekelilingnya. |
Dalam merancang “tongkat kelelawar” ini, Sound Foresight
Ltd. bekerja sama dengan Cambridge Consultant Ltd., sebuah perusahaan
yang bergerak di bidang perancangan dan pengembangan produk, proses
dan sistem baru yang inovatif. Perusahaan inilah yang membantu mengembangkan
dan membuat membuat bentuk jadi rancangan awal UltraCane. Kerjasama
ini pada akhirnya membuahkan hasil dengan diluncurkannya Batcane
yang kemudian disebut UltraCane. Sejumlah contoh alat ini telah
dibuat untuk tujuan ujicoba di empat negara: Amerika Serikat, Jerman,
Inggris dan Kanada. Saat ini, dengan harga 399 poundsterling Inggris
atau sekitar Rp 4 juta, UltraCane telah mengalami berbagai penyempurnaan
dari produk-produk serupa sebelumnya. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan
keleluasaan ruang gerak dari para pemakainya, serta sejumlah kemudahan
yang diberikannya. Andrew Diston, Direktur Asosiasi Konsultan Cambridge
berkata :
“Alat ini adalah produk yang sangat kami banggakan,
sebagian karena kebebasan yang akan diberikannya pada pemakai, dan
sebagian karena sifat teknologi yang kami gunakan. Sisi yang benar-benar
cerdas adalah meskipun alat ini menggunakan teknologi sangat canggih,
pengguna tidak memerlukan pengetahuan teknis apa pun...”
Inovasi teknologi UltraCane telah meningkatkan kemampuan ruang
gerak tunanetra maupun penderita ganggguan penglihatan yang pada
tahun 2003 diperkirakan berjumlah 25 juta di negara maju. Sumbangsih
yang besar ini, disamping keunggulan teknologi yang digunakannya,
menyebabkan UltraCane banyak mendapat penghargaan. Di antaranya
adalah Tomorrow's World Health Innovation Award, oleh NESTA (the
National Endowment for Science, Technology & the Arts) pada
tahun 2002, Design Application of the Year Award yang didukung oleh
Sony untuk kategori industri elektronik Eropa pada tahun 2003, dan
Smart Funding Innovation Award. Kelebihan UltraCane lain adalah
bahwa para pengguna hanya perlu latihan sebentar agar dapat memanfaatkannya.
Sektiar 73% pengguna merasa percaya diri menggunakan UltraCane meski
hanya seminggu berlatih. Manfaat besar ini diamini oleh para profesional,
seperti Alan Brooks:

UltraCane, perangkat canggih bagi tunanetra yang menirusistem
ekolokasi kelelawar |
“...para pengembang [UltraCane] telah menghabiskan
waktu untuk bertanya pada para tunanetra, dan melibatkan mereka
dalam ujicoba. Saya yakin ini akan benar-benar bermanfaat bagi para
penggunanya dari kalangan tunanetra dan mereka yang terganggu penglihatannya.”
(Alan Brooks, New Initiatives Manager The Guide Dogs for the Blind
Association)
Sehebat-hebatnya UltraCane, masih belum mampu menandingi
sang pemberi ilham, kelelawar. Kelelawar mampu menentukan seluruh
informasi yang diperlukannya dengan cukup cermat tentang jenis,
ukuran, bentuk, makhluk hidup atau benda mati pada jarak 5 meter.
Hebatnya lagi, kelelawar mampu melakukannya sambil bermanuver di
udara. Kemampuan ini tentunya tidak dapat dilakukan UltraCane
sekalipun.

Tiga penghargaan yang diperoleh UltraCane |
Demikianlah, kelelawar sebagai makhluk yang tidak berakal tetapi
mampu melakukan hal-hal yang cukup rumit yang tidak dapat diimbangi
alat ciptaan manusia meskipun menggunakan teknologi canggih seperti
UltraCane di atas. Perbandingan di atas menunjukkan lagi kepada
kita salah satu bukti kehebatan ciptaan Allah. Pada segala sesuatu
di alam semesta terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya, terdapat tanda-tanda
keesaan-Nya, bagi mereka yang mau berpikir. (SoundForesight Ltd.,
dll/ foto: SoundForesight/kontributor, Dian Hidayat, adalah alumni
jurusan Teknik Elektro USU, saat ini menjabat sebagai Ketua Bidang
Pengkajian Ilmu Pengetahuan PW IRM SU dan tinggal di Medan. Email
: d14n_hm@yahoo.com ) ·
Biokimia
LEBIH HEBAT DARIPADA LAMPU LISTRIK
Oleh para pakar dari perusahaan Inggris,
Biotrace International, cahaya kunang-kunang dipakai dalam teknologi
pendeteksi kuman mematikan seperti E. coli atau legionella. Penggunaan
alat ini telah merambah industri makanan. Sekitar 15 juta paket
alat tersebut telah terjual.
Di
malam hari, di sekitar kebun atau semak yang gelap, ada kalanya
kita melihat cahaya berpendar kuning atau hijau seperti lampu. Cahaya
sekecil potongan kuku jari manis tersebut melayang-layang di atas
tanah. Itulah kunang-kunang yang dalam bahasa Inggris disebut ”firefly”.
Makhluk ini termasuk sejenis serangga bercahaya dari kelompok kumbang
(Coleoptera-Lampyridae).
“Saya Ada di Sini!”
Tampak oleh manusia, cahaya kunang-kunang layaknya kerlipan lampu
kecil yang biasa saja. Namun, penelitian mengungkap, ternyata ini
adalah komunikasi dengan irama kerlipan tertentu, menyerupai sandi
Morse yang dipakai manusia dalam telegram. Pakar biologi menemukan,
cahaya yang dikeluarkan sang kumbang berperan dalam menemukan pasangan
kawin. Saat usia kawin tiba, sang jantan mencari pasangan betinanya
dengan memancarkan cahaya berkerlip. Kunang-kunang betina di sekitar
yang melihatnya akan mengeluarkan cahayanya untuk menjawab sang
jantan. Sang betina seolah memberitahu, ”saya di sini!”
Dengan jawaban ini, sang jantan mengirimkan sinyal cahaya berikutnya
dengan posisi semakin mengarah ke betina. Betina pun akan menjawab
lagi, dan seterusnya, seolah saling bersahutan hingga akhirnya pasangan
itu bertemu untuk kawin.
Bagi kunang-kunang kelompok Photuris, cahaya mereka berperan
pula dalam perburuan. Betina jenis ini dapat meniru kerlipan sinyal
cahaya yang dipancarkan betina jenis lain, misalnya Photuris.
Dengan sinyal cahaya palsu ini, kunang-kunang jantan jenis Photuris
pun terjebak dan dimakan oleh Photuris betina.
Cahaya kunang-kunang berperan pula sebagai tanda peringatan, untuk
memperingatkan antar-sesama jenisnya tentang ancaman bahaya, maupun
peringatan bagi serangga dan burung pemangsa agar tidak memakannya.
Sebab, zat pemicu pembentukan cahaya kunang-kunang berasa pahit.
Kalaupun ada serangga pemangsa yang nekad, mereka biasanya memakan
tubuh kunang-kunang dari bagian kepala, terus hingga ke bagian belakang,
kecuali bagian perut yang tidak dimakannya.
Lampu Dingin

Kunang-kunang ini dari spesies Pyractomena angulata, satu dari
175 spesies kunang-kunang yang ada di Amerika Serikat. (karya
Arwin Provonsa, Purdue University, Department of Entomology) |
Mengapa kunang-kunang bisa membawa ‘lampu’ ke sana
kemari tanpa kepanasan? Para peneliti tertarik akan fenomena tersebut.
Karena, cahaya bola lampu listrik yang dikenal selama ini bila menyala
maka lama-kelamaan akan memanas. Dilihat dari efisiensi energi,
bola lampu listrik temuan Edison hanya mampu menghasilkan cahaya
sekitar 10% dari seluruh energi listrik yang dialirkan, sebagian
besar sisanya berubah menjadi panas. Ini menyebabkan cahaya lampu
listrik panas. Sebaliknya, organ penghasil cahaya dalam tubuh kunang-kunang
melepaskan sekitar 100% energi berupa cahaya. Ini menjadikan cahayanya
dingin. Bayangkan jika cahaya kunang-kunang panas mirip lampu pijar,
mereka mungkin akan terbakar dan mati.
Cahaya kunang-kunang dikeluarkan oleh organ khusus yang tersusun
atas sel-sel penghasil cahaya yang disebut fotosit. Organ ini terletak
pada ruas ke-4 atau ke-5 dari tubuhnya. Kerlipan cahaya kunang-kunang
merupakan hasil reaksi kimia yang melibatkan zat kimia bernama luciferin
yang dihasilkan sel-sel penghasil cahaya. Melalui serangkaian tahapan
reaksi kimia, luciferin dengan bantuan enzim luciferase dan beberapa
zat tertentu bereaksi membentuk sejumlah zat kimia baru dengan melepaskan
hampir 100% energi dalam bentuk cahaya. Energi yang terbuang sebagai
panas sangat sedikit sekali. Bandingkan dengan lampu listrik buatan
manusia.

Selain bersinar, lampu listrik buatan manusia memancarkan energi
panas yang besar. Sebaliknya, reaksi kimia dalam tubuh kunang-kunang
melepaskan sekitar 100% energi berupa cahaya. |
Untuk menjadi bentuknya yang sekarang, lampu pijar harus melalui
proses penelitian panjang, yaitu 50 tahun lebih. Perkembangan bola
lampu listrik dimulai dari sejak Sir Humprey Davy di tahun 1811.
Thomas Alva Edison berhasil mengembangkannya menjadi bola lampu
listrik di tahun 1878. Saat itu Edison mengirim orang ke berbagai
penjuru dunia untuk mencari bahan terbaik sebagai kawat pijar (”filamen”)
bola lampu. Ia mencoba tak kurang dari 6000 bahan kawat atau serat,
termasuk dari tumbuhan seperti bambu, sebelum akhirnya ditemukan
filamen awet yang tidak mudah terbakar dalam bola kaca tak-beroksigen.
Edison-lah yang lalu membidani berdirinya perusahaan Edison
General Electric, yang kini menjadi raksasa dunia: General
Electric.
Begitulah, sejak Thomas Edison hingga kini, tak ada teknologi lampu
listrik yang menyamai lampu kunang-kunang yang dingin. Diperlukan
kecerdasan dan kerja keras banyak orang untuk menemukan bola lampu
listrik terbaik. Lalu kecerdasan siapakah yang menciptakan cahaya
dingin kunang-kunang? Mungkinkah kunang-kunang sendiri yang melakukan
penelitian, mencoba-coba ribuan zat kimia, dan akhirnya menemukan
sendiri lampu hebatnya? Mustahil, sebab ia makhluk tak berakal.
Lagi pula, kunang-kunang dan cahayanya harus sudah ada sejak pertama
kali ia diciptakan. Sebab, tanpa cahayanya, kunang-kunang takkan
mampu berkembang biak dan sudah punah dari dulu. Semua ini mengarahkan
kita pada kesimpulan: kunang-kunang dan cahayanya bukanlah terbentuk
setahap demi setahap dengan sendirinya, melalui peristiwa alamiah
belaka, dan tanpa penciptaan cerdas sengaja. Sedari awal, kumbang
bercahaya ini mestilah diciptakan secara sempurna, lengkap dengan
cahayanya oleh Pencipta Mahacerdas. Dialah Allah, sebaik-baik Pencipta.
Saklar Berukuran Molekul
Kunang-kunang memancarkan cahaya tidak terus-menerus, melainkan
berkerlap-kerlip atau pergantian antara menyala dan padam. Ini berarti
ada mekanisme tertentu dalam tubuhnya yang berperan menyalakan dan
mematikan cahaya, ibarat tombol atau saklar lampu listrik yang menyambung
dan memutus arus listrik yang mengalir ke bola lampu tersebut. Saklar
‘lampu kunang-kunang’ telah lama menjadi teka-teki bagi
ilmuwan. Namun, beberapa tahun lalu, Barry Trimmer dan timnya dari
Tufts Univeristy, Amerika Serikat, melaporkan temuannya tentang
saklar kunang-kunang dalam jurnal ilmiah terkemuka, Science. Barry
Trimmer berkata: "Kita telah mengetahui segi kimia yang
menjadikan kunang-kunang bercahaya, tapi kita kini mendapatkan jawaban
dari teka-teki yang selama ini tak-terjawab yang menjelaskan bagaimana
mereka mampu menghidupkan dan mematikan saklarnya.” (BBC News,
Sci/Tech, 28 Juni 2001).
Saklar berukuran molekul ini ternyata adalah zat kimia Nitrit Oksida
(NO) yang dihasilkan dalam tubuh kunang-kunang. Dalam penelitian
itu, kunang-kunang yang ditempatkan di kotak kecil tertutup dan
diberi zat NO ternyata memancarkan cahaya terus-menerus tanpa terputus-putus.
Nitrit Oksida juga ada pada tubuh manusia, dan berperan menjaga
tekanan darah dengan melebarkan pembuluh darah, membantu sistem
kekebalan tubuh menghadapi kuman penyakit, dan menghantarkan sinyal
antar-sel saraf otak.
Detektor Bakteri dan Sel Kanker

Kolam renang, tempat pemandian umum dan industri makanan termasuk
yang diuntungkan dengan adanya kunang-kunang. Perangkat pendeteksi
kuman mematikan yang mencemarinya kini telah dibuat dengan ilham
dari kunang-kunang. |
Cahaya kunang-kunang kini dipakai dalam teknologi pendeteksian
kuman mematikan, seperti E. coli atau legionella, dalam kolam renang
dan tempat pemandian. E coli adalah bakteri penyebab penyakit saluran
pencernaan manusia, sedangkan bakteri legionella merupakan bakteri
penyebab penyakit paru-paru (sejenis pneumonia) dengan tingkat kematian
penderita 5-15%. Kehadiran kuman tersebut di kolam renang tentunya
tidak diinginkan. Para pakar dari Biotrace International telah berhasil
membuat perangkat yang dapat mengenali keberadaan kuman-kuman tersebut
dalam hitungan detik; lebih baik daripada cara lama yang memakan
waktu berhari-hari. Alat ini bekerja menggunakan enzim luciferase
kunang-kunang, yang akan menghasilkan cahaya ketika mengenai kuman
bakteri tersebut. Jumlah bakteri yang ada pun dapat ditentukan berdasarkan
kekuatan cahaya yang dihasilkan. Penggunaan alat ini telah merambah
industri makanan, dan sekitar 15 juta paket alat tersebut telah
terjual, demikian menurut BBC News, 9 Mei 2003.
Dua tahun lalu, meski baru tahap uji pada tikus, hasil kerja peneliti
University of California, at Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat,
menemukan bahwa zat kimia yang menjadikan kunang-kunang bercahaya
mungkin dapat membantu dokter mengetahui penyebaran kanker prostat
sehingga dapat melakukan pengobatan langsung ke arah sasaran. Teknik
rekayasa genetika digunakan untuk mengirim gen-gen zat kimia penghasil
cahaya kunang-kunang langsung ke sel-sel kanker pada tikus percobaan.
Setelah tiga minggu, kamera pencitra berhasil mengetahui sel-sel
kanker pada sum-sum tulang belakang dan paru-paru karena cahaya
kunang-kunang yang dipancarkan sel tersebut. Dr. Lily Wu, asisten
profesor di UCLA, berkata: "Sekali Anda mengetahui di mana
kanker itu berada, Anda mendapatkan pegangan untuk mengobatinya.
Ini jauh lebih baik daripada mengobati keseluruhan tubuh dengan
pengobatan kimia. Dengan melekatkan cahaya pada sel-sel kanker,
kita dapat berkata, ‘nah, itu dia di sana’, dan kemudian
membidiknya.” (BBC, Health, 22 Juli 2002). Kelebihan
cara ini adalah, meskipun cahaya yang dihasilkan redup dan berada
di dalam tubuh, namun masih bisa dideteksi dari luar menggunakan
perangkat sensor tercanggih.
Dr. Theodossiss Theodossiou, dokter dari National Medical Laser
Center Univeristy College, London juga menggunakan teknologi
pencahayaan kunang-kunang dalam mengembangkan terapi fotodinamika.
Teknik ini berupaya menghancurkan sel kanker dari dalam tubuh dengan
menyisipkan gen yang akan menjadi sumber cahaya ke sel kanker itu
sendiri. Setelah bercahaya layaknya kunang-kunang, sel kanker dipicu
untuk menghasilkan zat racun yang kemudian memaksa sel kanker itu
menghancurkan dirinya sendiri.
Para peneliti juga terilhami menggunakan teknologi pencahayaan kunang-kunang
untuk berbagai hal, termasuk untuk memantau baik tidaknya teknik
pengobatan baru bekerja. Di Michigan University, Amerika Serikat,
dilaporkan bahwa teknologi ini dapat dipakai untuk mempercepat pengujian
obat baru untuk penyakit seperti kanker, stroke, AIDS, kelainan
kekebalan tubuh, penyakit darah, kerusakan akibat serangan jantung,
penyakit karena kerusakan saraf, dan aneka kelainan lain yang memerlukan
pembunuhan sel oleh obat, atau untuk menghentikan kematian sel.
Teknik ini juga dapat dipakai untuk memonitor berbagai proses yang
terjadi di tingkat sel.
Teknologi penggunaan cahaya kunang-kunang dalam beragam bidang
oleh para pakar ini pastilah bukti akan kesempurnaan penciptaan
kunang-kunang yang tak dapat dibuat oleh para pakar tersebut, dan
mengilhami teknologi mereka. Semua ini merupakan cerminan kecerdasan
tak tertandingi dari sang Pencipta, Allah SWT. Dialah Yang Maha
Pemurah, yang menciptakan segala makhluk agar dipikirkan dan dimanfaatkan
demi kemaslahatan manusia. Seharusnyalah manusia mengagungkan Allah,
menghamba dan bersyukur kepadaNya. (Dr. Tati S. Subahar
- Penulis adalah staf pengajar di Jurusan Biologi, Institut Teknologi
Bandung, Jalan Ganesa 10, Bandung – 40132. Tel./fax. (022)
2500258, e-mail tati@bi.itb.ac.id).
Teknologi Desain
STASIUN KERETA API SERANGGA
Kemampuan menciptakan dari ketiadaan,
tanpa contoh dan tanpa awal hanyalah milik Allah semata. Bahkan
manusia, sang perancang aneka teknologi itu sendiri adalah salah
satu ciptaan-Nya yang mengagumkan. Allah telah menciptakan seluruh
makhluk-Nya termasuk manusia dari ketiadaan dan menganugerahi manusia
keahlian merancang.
Dalam banyak hal yang kita anggap adalah hasil rancangan manusia,
ternyata sudah ada contohnya di alam. Bentuk-bentuk dan produk-produk
teknologi yang muncul melalui penelitian tahun demi tahun, telah
ada padanannya di alam sejak jutaan tahun sebelumnya. Padanannya
di alam ini selalu jauh lebih canggih dan sempurna. Sadar akan kenyataan
tersebut, para perancang, arsitek, dan ilmuwan memilih untuk mengikuti
sifat-sifat yang dicontohkan pada ciptaan Allah dalam merancang
produk baru.
Di bidang arsitektur, bangunan yang dirancang meniru makhluk hidup
di alam kini merupakan fenomena baru, sehingga dikenallah istilah
“Zoomorphic” atau arsitektur meniru binatang.
“Zoomorphic adalah perpaduan antara arsitektur dan biology”,
menurut Hugh Aldersey-Williams, kepala museum Victoria and Albert
di London, Inggrism, yang beberapa waktu lalu mengadakan pameran
tentang zoomorphic. Sejumlah bangunan yang terilhami binatang telah
dididrikan, di antaranya meniru bentuk burung, ikan, udang, paus,
atau bentuk-bentuk biologis seperti tulang, iga, dan mata serangga.
Salah satu contohnya adalah stasiun kereta api di Prancis sebagaimana
tampak pada gambar.

Tidak hanya arsitek yang memanfaatkan pengkajian
terhadap penciptaan. Para insinyur yang mengembangkan teknologi
robot juga meneliti serangga sebagai sumber ilham. Robot yang dibangun
berdasarkan kaki serangga terbukti dapat berdiri dengan keseimbangan
yang lebih baik. Ketika bantalan penghisap dipasangkan pada kaki-kaki
robot ini, mereka mampu memanjat dinding layaknya seekor lalat.
Suatu robot yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan Jepang mampu
berjalan di langit-langit layaknya serangga. Perusahaan tersebut
menggunakan robot ini untuk memeriksa bagian bawah jembatan dengan
menggunakan sensor yang ditempelkan ke badannya.

Angkatan bersenjata Amerika diketahui meneliti mesin-mesin yang
amat kecil (mesin mikro) sejak lama. Menurut Professor Johannes
Smith, suatu motor yang berukuran kurang dari 1 milimeter mampu
menggerakkan suatu robot seukuran semut. Robot seperti ini sedang
dipertimbangkan untuk digunakan sebagai pasukan kecil yang terdiri
atas robot-robot yang menyerupai semut untuk menembus dari balik
pertahanan lawan tanpa diketahui dan merusak mesin-mesin jet, radar
dan pusat komputer. Dua perusahaan industri terbesar di Jepang,
Mitsubishi dan Matsushita, telah mengambil langkah awal untuk bekerja
sama dalam bidang tersebut. Hasil dari kerjasama tersebut adalah
robot yang amat kecil dengan berat 0,42 gram dan berjalan dengan
kecepatan 4 meter per menit.
Karya arsitektur hebat dan rancangan robot-robot ini adalah hasil
gagasan dan kerja para perancang dan pakar jenius. Lantas kecerdasan
macam apakah yang menghasilkan karya berupa binatang yang mengilhami
karya mereka? Tentu saja, ilmu pengetahuan dan kekuasaan tak terbatas
milik Allah-lah yang berada di balik penciptaan binatang, termasuk
manusia yang mengambil contoh dari binatang itu. Allah mengajarkan
kesempurnaan desain dan rancangan ciptaan-Nya untuk ditiru manusia,
sekaligus agar manusia memahami kebesaran Sang Pencipta.
Keruntuhan
Teori Evolusi
Benar-Benar Berwajah Kera
Makhluk
yang dinamai Australopithecus oleh evolusionis sesungguhnya hanyalah
jenis kera yang telah punah...
Australopithecus
berarti "kera daerah selatan". Seluruh spesies Australo-
pithecus, yang dimasukkan ke dalam pengelompokan yang berbeda, sebenarnya
hanyalah jenis kera punah yang menyerupai kera zaman sekarang. Ukuran
tengkorak mereka adalah sama, atau lebih kecil dari simpanse yang
kita temui sekarang. Terdapat bagian-bagian menonjol di bagian tangan
dan kaki yang mereka gunakan untuk memanjat pohon, persis seperti
simpanse masa kini, dan kaki mereka memiliki kemampuan untuk berpegangan
pada dahan pohon. Banyak ciri lain seperti dekatnya jarak kedua
mata, gigi geraham yang tajam, struktur rahang bawah, lengan yang
panjang, kaki yang pendek, yang membuktikan makhluk ini tidaklah
berbeda dari kera masa kini.
Evolusionis menyatakan, walaupun jenis Australopithecus
memiliki anatomi kera, mereka berjalan tegak seperti manusia.
Dua ahli anatomi terkenal tingkat dunia asal Inggris
dan USA, Lord Solly Zuckerman dan Prof. Charles Oxnard, telah melakukan
penelitian mendalam tentang berbagai spesimen Australopithecus.
Penelitian mereka mengungkapkan makhluk ini bukanlah bipedal atau
berjalan dengan dua kaki, dan memiliki cara berjalan yang serupa
dengan kera zaman sekarang. Setelah meneliti tulang-tulang dari
fosil tersebut selama 15 tahun, dengan bantuan dana dari pemerintah
Inggris, Lord Zuckerman dan timnya yang beranggotakan 5 orang spesialis
sampai pada kesimpulan - walaupun Zuckerman sendiri adalah evolusionis
- bahwa Australopithecines hanyalah jenis kera biasa dan sama sekali
bukan bipedal – berjalan diatas dua kaki (Solly Zuckerman,
Beyond The Ivory Tower, New York: Toplinger Publications, 1970,
hal. 75-94.). Di samping itu, Oxnard, yang juga seorang evolusionis,
juga menyerupakan struktur rangka Australopithecus dengan orang
utan modern. (Charles E. Oxnard, "The Place of Australopithecines
in Human Evolution: Grounds for Doubt", Nature, Vol 258, hal.
389.).

Analisis mendalam yang dilakukan oleh antropolog Amerika
Holly Smith pada tahun 1994 tentang gigi-gigi Australopithecus menunjukkan
bahwa Australopithecus adalah sejenis kera. (Holly Smith, American
Journal of Physical Antropology, Vol 94, 1994, hal. 307-325.)

Pada tahun yang sama, Fred Spoor, Bernard Wood dan
Frans Zonneveld, seluruhnya ahli anatomi, mencapai kesimpulan yang
sama melalui metoda yang sama sekali berbeda. Metoda ini berdasarkan
pada analisis perbanding-an rongga semi-sirkular pada telinga bagian
dalam manusia dan kera yang berfungsi menjaga keseimbangan. Rongga
telinga bagian dalam dari semua spesimen Australopithecus yang diteliti
oleh Spoor, Wood dan Zonneveld ternyata sama seperti yang terdapat
pada kera modern. (Fred Spoor, Bernard Wood, Frans Zonneveld,
"Implication of Early Hominid Labryntine Morphology for Evolution
of Human Bipedal Locomotion", Nature, Vol 369, 23 June 1994,
hal. 645-648.) Penemuan ini sekali lagi menunjukkan jenis Australopithecus
adalah spesies yang menyerupai kera modern.

Iptek
Anak
SEBERAT 25-30 EKOR GAJAH
Penghuni
terbesar lautan adalah ikan paus. Jenis ikan paus yang dikenal sebagai
“ikan paus biru” mempunyai berat lebih dari 150,000
kilogram dan panjangnya lebih dari 30 meter. Untuk bisa lebih membayangkan
ukuran ikan paus ini, coba lihat bangunan bertingkat lima, ikan
paus biru panjangnya sama dengan tinggi bangunan tersebut. Sementara
itu, ingat bahwa berat ikan paus sama dengan berat 25 sampai 30
ekor gajah.
Baiklah, bagaimana seekor ikan raksasa dapat menyelam hingga kedalaman
800 – 1000 meter dan kembali ke permukaan dengan mudah? Sebagai
contoh, bayangkan sebuah kapal dengan bobot 150 ton dan panjang
30 meter. Jika kapal itu tenggelam ke dasar laut sedalam 1000 meter,
akan membutuhkan operasi besar-besaran selama bertahun-tahun untuk
mengangkatnya kembali. Namun dengan ijin Allah, seekor paus dapat
muncul ke permukaan dalam waktu 15 – 20 detik saja. Karena
tulang ikan paus terbuat dari bahan berongga yang terisi minyak,
ia dapat dengan mudah mengapung di permukaan air.
Ikan paus juga sangat terampil menyelam. Allah telah menciptakan
tubuhnya sangat tahan terhadap tekanan yang tinggi di kedalaman
air laut. Oksigen yang mengalir dalam darah dan otot-ototnya bercampur
dengan zat-zat kimia memberinya tenaga saat di dalam air atau saat
tidak bernapas. Paus mempunyai sistem peredaran darah yang khas
yang dapat mengalirkan darah secara langsung dari organ menuju otak.
Melalui cara ini, sampai saat ikan paus muncul di permukaan air
untuk bernapas, ia tetap dapat mengirim oksigen di dalam tubuhnya
secara langsung ke otak, organ yang paling membutuhkan oksigen.
Sistem hebat
yang membuat kagum para ilmuwan ini adalah perwujudan dari kehebatan
Allah. Melalui cara ini ikan paus dapat tetap berada di bawah laut
selama kurang lebih 15 – 20 menit tanpa bernapas. Selain itu,
tidak seperti manusia, ikan paus tidak menderita ‘bend’
(kejutan) ketikan muncul secara cepat ke permukaan air.
Kalian mungkin akan bertanya apa itu ‘bend’. ‘Bend’
adalah rasa sakit akibat penurunan tekanan di sekitar kita secara
tiba-tiba. Saat penyelam ingin menyelam jauh ke dalam air, mereka
berhenti sejenak di kedalaman tertentu dan menyesuaikan tubuhnya
dengan tekanan di sekitarnya agar tidak terpengaruh oleh perubahan
tekanan air. Cara ini membuat mereka mampu menyelam sangat dalam
secara perlahan-lahan. Tapi ingat mereka perlu berhenti dan beristirahat
pada jarak tertentu selama mereka kembali ke permukaan air. Jika
tidak, pembuluh darah penyelam akan sakit atau pecah yang dapat
mengakibatkan kematiannya. Ikan paus tidak mempunyai masalah tersebut,
karena Allah telah memberi makhluk hidup apa yang diperlukan untuk
hidup di lingkungannya. Ikan laut dapat hidup di lautan seperti
halnya manusia yang dapat hidup di daratan.
Kalian mungkin tahu bahwa ikan paus menyemburkan air dari lubang
di atas kepalanya. Tahukah kalian bahwa lubang itu memang hidungnya?
Ikan paus menggunakan hidungnya hanya untuk bernapas. Banyak orang
berpikir bahwa ikan paus hanya menyemburkan air dari lubang tersebut.
Yang benar adalah, ikan paus melepaskan udara dari dalam paru-parunya.
Karena udara ini mengandung uap air dan suhunya lebih panas daripada
udara luar, ini tampak sebagai air dari kejauhan.
Seperti mamalia
lainnya, ikan paus juga menyusui anaknya. Tapi bayi ikan paus tidak
menyusu induknya karena mereka beresiko menelan air laut. Seperti
yang telah disebutkan sebelumnya, air laut berbahaya bagi ikan paus.
Yang menarik, seperti halnya ikan lumba-lumba, ada otot yang mengelilingi
kelenjar susu ikan paus betina. Ketika ikan paus menggerakkan otot
ini, tekanan yang dihasilkan membuat induk tersebut mampu menyemprotkan
air susu langsung ke dalam mulut bayinya. Air susu ikan paus berbeda
dengan yang biasa kita kenal. Bentuknya hampir seperti padatan dan
sangat berlemak. Karena wujudnya seperti itu, air susu tersebut
tidak dapat tercampur dengan air laut. Zat yang diminum –
atau lebih tepatnya dimakan – bayi ikan paus tersebut akan
terlarut di dalam perut. Makanan yang terlarut ini juga mengandung
air yang dibutuhkan oleh bayi ikan paus. Seperti yang telah kita
ketahui, Allah telah menyediakan bayi ikan paus dengan makanan yang
paling sempurna.
Lapisan berminyak, yang tembus pandang menutupi mata ikan paus
untuk melindunginya dari berbagai dampak membahayakan dari air laut.
Ikan paus mempunyai indera peraba dan pendengaran yang tajam. Ia
mengetahui arah di dalam air dengan mengikuti gema suara yang dibuatnya.
Cara kerja indera tersebut mirip dengan radar. Sesungguhnya, keistimewaan
ikan paus ini menjadi ilham bagi pembuatan radar. Para ilmuwan mempercayai
bahwa suara-suara yang ditimbulkan oleh ikan paus berisi bahasa
yang sangat rumit. Bahasa ini sangat penting dalam hubungan dan
komunikasi di antara mereka.
Serajah
GEREJA SETAN dan BAPHOMET
(Menguak Sejarah Setanisme -
bagian ke-2)
Setanisme secara
singkat dapat diartikan sebagai penyembahan setan dan menjadikannya
sebagai tuhan. Selain menolak Allah, semua agama dan nilai keagamaan,
gerakan jahat ini memiliki ajaran melaksanakan hal-hal yang oleh
agama dianggap berdosa. Setanisme juga menerima setan, lambang kejahatan,
sebagai pemimpin dan pembimbing.
Sejarah Gelap Setanisme
Kaum Setanis, yakni para pengikut ajaran setanisme, sudah ada dan
melaksanakan kegiatan keji mereka di setiap tahap sejarah dan dalam
setiap peradaban, dari Mesir kuno sampai Yunani kuno, serta sejak
Abad Pertengahan sampai hari ini. Di antara abad ke-14 dan ke-16,
para tukang sihir dan orang yang menolak agama sama-sama memuja
setan. Setelah tahun 1880-an, di Prancis, Inggris, Jerman, dan sekaligus
di berbagai negara lain di Eropa dan Amerika, Setanisme diatur dalam
perkumpulan dan tersebar di kalangan orang yang mencari keyakinan
dan agama lain.
Penyembahan setan terus berlanjut sejak abad ke-19, mula-mula sebagai
Setanisme tradisional, lalu dalam aliran sesat yang lebih kecil
yang merupakan pecahannya. Upacara kejam yang dilakukan oleh tilamg
sihir dan orang-orang tak bertuhan, pengorbanan anak dan orang dewasa
kepada setan, perayaan Misa Hitam dan upacara Setanisme tradisional
lainnya telah diwariskan diam-diam secara turun temurun.
Lambang Setanisme tradisional yang terpenting adalah dewa Romawi
kuno Baphomet. Pada waktu itu, Baphomet menjadi lambang bagi orang
yang memuja setan. Para ahli sejarah yang menelusuri asal-usul sosok
berkepala kambing ini telah menemukan beberapa petunjuk penting
tentang kegiatan Setanis. Lambang Setanis terpenting kedua adalah
pentagram, yaitu bintang bersegi lima di dalam lingkaran. Yang menarik,
ada dua perkumpulan rahasia lainnya di samping para Setanis yang
menggunakan Baphomet dan pentagram sebagai lambang. Yang pertama
adalah perkumpulan Kesatria Biara Yerusalem (Knight Templars), yaitu
perkumpulan yang dituduh oleh Gereja Katolik sebagai penyembah setan,
dan dibubarkan pada tahun 1311. Perkumpulan lainnya adalah perkumpulan
Mason yang telah bertahun-tahun lamanya menimbulkan rasa penasaran
karena kerahasiaan dan upacaranya yang aneh.
Banyak ahli sejarah, yang telah menyelidiki masalah itu, percaya
bahwa terdapat hubungan antara Kesatria Biara Yerusalem dengan perkumpulan
Mason. Menurut mereka, kedua kelompok itu saling melanjutkan satu
sama lain. Sesudah Kesatria Biara Yerusalem dilarang oleh Gereja,
perkumpulan itu melanjutkan keberadaannya secara rahasia dan akhirnya
berubah menjadi paham Mason. Yang pasti tentang Freemasonry adalah,
perkumpulan ini bersifat amat rahasia, punya susunan organisasi,
dengan anggota di seluruh pelosok dunia. Uraian yang diberikan para
ahli seperti Leo Taxil, yang pernah menjadi seorang Mason, namun
telah keluar dari perkumpulan itu, mengatakan bahwa para Mason amat
menghormati Baphomet dan melangsungkan upacara yang menyerupai tata-cara
penyembahan setan. Kenyataan lain yang menimbulkan kecurigaan adalah
bahwa banyak pengikut Setanisme yang kemudian menjadi anggota organisasi
Masonis.
Kini, Setanisme telah meninggalkan upacara dan markasnya yang rahasia
itu, untuk keluar ke jalan-jalan. Para Setanis bergiat di setiap
negara untuk menyebarkan ajarannya dengan gigih dalam buku-buku,
terbitan berkala, dan terutama di Internet dalam usaha mereka menarik
anggota. Tak peduli di negara mana pun mereka berada, para Setanis
menampilkan citra yang sama. Cara berpakaian, tata cara penyembahan,
kesamaan surat yang mereka tinggalkan sebelum melakukan bunuh diri
dan ciri lainnya menunjukkan bahwa Setanisme bukanlah gerakan biasa
yang dipenuhi para penganggur, melainkan sebuah organisasi yang
sengaja bersandar pada landasan pemikiran.
Gereja Setan
Meskipun
keberadaan para penyembah Setan telah diketahui selama bertahun-tahun,
tak seorang pun muncul dan mengakui secara terbuka bahwa mereka
adalah penganut Setanisme. Setanisme pertama kali menjadi gerakan
yang terbuka dan teratur di tahun 1960-an di Amerika Serikat. Tanggal
30 April 1966, Gereja Setan dibentuk di California. Pendiri gereja
aneh ini adalah seorang penganut Setanisme yang bernama Anton Szandor
LaVey yang menyatakan dirinya sebagai pendeta tinggi. Dikenal sebagai
Paus Hitam, LaVey menulis buku-buku tempat dia merumuskan pandangan-pandangannya
mengenai Gereja Setan. Judul buku-buku itu menakutkan: “Kitab
Suci Setan, Upacara Setanis, Penyihir Setanis, Buku Catatan Setan
dan Setan Berbicara”. LaVey meninggal di tahun 1997. Diperkirakan
bahwa Gereja Setan memiliki sekitar 10 ribu anggota di Amerika Utara,
dan meskipun banyak menerima tuntutan hukum, kegiatan dan upacaranya
terus berjalan.
Setanisme dan Materialisme
Suatu ciri kaum Setanis masa kini adalah, mereka semua ateis (tidak
mengakui Tuhan). Mereka juga sekaligus kaum materialis, artinya,
mereka hanya percaya kepada keberadaan benda belaka. Mereka mengingkari
adanya Tuhan dan semua makhluk gaib. Oleh karena itu, kaum Setanis
tidak percaya kepada setan sebagai makhluk yang nyata. Meskipun
disebut sebagai penyembah setan, mereka tidak mengakui adanya setan.
Bagi kaum Setanis, setan hanyalah lambang yang menyatakan permusuhan
mereka terhadap agama dan kekerasan hati mereka. Dalam sebuah tulisan
yang berjudul “Pengantar Setanisme” yang diterbitkan
Gereja Setan, dinyatakan bahwa para Setanis sebenarnya adalah ateis:
Setanisme adalah sebuah agama yang tak mengenal Tuhan, mirip
seperti ajaran Budha. Tidak ada yang perlu ditakuti selain akibat
tindakan kita. Kaum Setanis tidak percaya adanya Allah, malaikat,
surga atau neraka, iblis, setan, ruh jahat, ruh baik, peri, atau
makhluk gaib yang jahat. …Setanisme bersifat ateis …Otodeis:
kami menyembah diri kami sendiri. …Setanisme adalah materialis
… Setanisme adalah lawan agama. (Vexen Crabtree, “A
Description of Satanisme”)
Singkatnya, ini adalah hasil filsafat kebendaan dan tak mengenal
Tuhan yang telah tersebar sejak abad ke-19. Seperti filsafat ini,
Setanisme menyandarkan diri pada teori yang dianggap ilmiah: Teori
Evolusi Darwin. (bersambung).
Tafakkur
Tidak Melebihi Kemampuan
Allah menguji
setiap manusia dengan ujian yang beragam jenis. Akan tetapi, Dia
tak pernah membebani seseorang melebihi apa yang ia mampu. Ini adalah
janji Allah,
"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal
yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang
melainkan sekadar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni
surga; mereka kekal di dalamnya." (QS. Al A'raaf, 7: 42)
Penyakit, kecelakaan, dan segala macam bentuk ujian yang dihadapi
seseorang dalam kehidupan dunia, adalah dalam batasan kemampuan
seseorang untuk mengatasinya. Dalam beberapa peristiwa, seseorang
bisa saja merasa telah melakukan segala yang memungkinkannya keluar
dari masalah, namun ia tidak kunjung melihat jalan keluar. Karena
lalai bahwa pasti ada kebaikan dalam peristiwa tersebut, ia memberontak
dan marah. Ini adalah tanggapan tak berguna yang diembuskan setan.
Apa pun yang dihadapinya dalam hidup, seorang mukmin yang ikhlas
harus tetap ingat bahwa ia dihadapkan pada keadaan yang di dalamnya
ia dapat menetapi kebajikan dan kesabaran. Jika ia putus asa, itu
hanyalah tipu daya setan. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk tidak
berputus asa.
"Dan tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan
rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya,
pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi
kaum yang beriman. Katakanlah, 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui
batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan
kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya
sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong
(lagi).'" (QS. Az Zumar, 39: 52-54)
Seseorang yang menerima dan berusaha menetapi perintah Allah tersebut
mengetahui bahwa dari kebaikan akan timbul kebaikan pula. Seseorang
yang putus asa akan sendirian di dunia ini dan tidak mempunyai jalan
keluar. Allah mengatakan pada kita bahwa mereka yang putus asa terhadap
kasih Allah adalah orang-orang yang tidak beriman,
"… dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat
Allah. Sesungguhnya, tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan
kaum yang kafir." (QS. Yusuf, 12: 87)
Dalam menetapi perintah Allah, seorang mukmin harus mencoba mendapatkan
pemahaman yang lebih mendalam tentang apa yang terjadi di sekitarnya
melalui perenungan. Ketika seorang mukmin menemukan kesulitan, kesulitan
itu membuatnya sadar bahwa ada kebaikan di dalamnya dan ia memastikan
bahwa selama cobaan itu, ia menjadi bersemangat, sabar, pemurah,
setia, tekun, pengasih, dan penuh pengorbanan. Sikap sabar, bijaksana,
cerdas, tenang, memaafkan, menyayangi, semuanya menunjukkan tingkatan
kemuliaan seorang mukmin dan menawarkan kebahagiaan kepada manusia
yang hanya didapatkan dari keimanan.
|