Edisi 10/Thn. I/Februari 2004

Editorial

Surat Pembaca

Dari Kami

Bahasan Utama - 1

Bahasan Utama - 2

Bahasan Utama - 3

Bahasan Utama - 4

Arkeologi

Keruntuhan Teori Evolusi

Teknologi Bahan

Iptek Anak

Teknologi Informasi

Sejarah

Tafakur


Editorial
Ingin Mencicipi Apel Biru?

Sudah seringkali dijumpai apel impor di berbagai supermarket, bahkan di pasar maupun terminal. Apel ini sangat disukai oleh para pembeli lokal. Selain rasanya yang enak dan khas, apel pasokan dari luar negeri pun berpenampilan lebih menarik ketimbang apel lokal. Apel impor warnanya cenderung seragam dan merata: merah hati, ada pula yang merah berpadu warna kuning atau oranye. Namun sudahkah Anda melihat apel berwarna biru? Anda tentu penasaran dan ingin melihatnya, kalau perlu bisa mencicipinya. Sebagian dari Anda mungkin ingin menggali lebih dalam tentang si apel biru ini: dari mana asalnya, bagaimana mendapatkan bibitnya, bahkan mungkin bagaimana bisa memunculkan warna biru pada apel tersebut.

Demikianlah, terkadang rasa keingintahuan kita muncul jika ada hal-hal di luar kebiasaan seperti ini. Padahal banyak hal luar biasa di sekeliling kita, bahkan di depan hidung kita sendiri yang menanti penelitian secara mendalam. Tanpa menunggu apel biru, sebenarnya apel hijau atau merah pun sudah cukup untuk menggelitik pikiran kita agar berupaya menemukan bagaimana warna apel dapat terbentuk; tak terkecuali aneka warna lainnya dari benda-benda di sekitar kita.

Ternyata untuk melihat warna saja, diperlukan tahapan dan perangkat rumit yang di luar bayangan kita. Agar warna terbentuk, diperlukan matahari yang memancarkan sinar tertentu, serta atmosfer yang hanya membiarkan lewatnya sinar-sinar yang diperlukan kehidupan. Lalu diperlukan pula adanya benda-benda yang memantulkan sinar matahari berdasarkan pola dan cara tertentu untuk menghasilkan cahaya pantulan berwarna. Mata kita termasuk salah satu perangkat penting yang bertugas mengubah cahaya pantulan benda yang mengenainya menjadi denyutan saraf. Denyutan saraf ini dikirim ke pusat penglihatan yang gelap dalam otak. Setiap saat dalam sepotong daging yang gelap inilah kita melihat dunia penuh warna.

Setiap orang menjumpai keajaiban penciptaan warna yang tiada tara ini sejak saat kelahirannya. Tidak ada peran manusia dalam pemunculan warna maupun rangkaian tahapan pembentukannya secara terus-menerus. Dialah Allah, Yang telah menciptakan semua warna di dunia, dan menempatkan manusia untuk hidup di dunia penuh warna ini.

Surat Pembaca

DITAMBAH DONK!

Isi majalah Insight sesuai banget dengan program studiku, MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) jurusan Biological Sains. Kalau boleh usul, bagaimana kalau rubriknya ditambah, sehingga ulasannya banyak? Bagaimana kalau gambar-gambar yang dimuat lebih banyak, menarik, dengan corak yang sesuai dengan gambar asli sehingga kesannya lebih hidup? Bagaimana kalau rubrik Surat Pembaca menampilkan lebih dari tiga surat dari pembaca, menandakan peminat Insight banyak, untuk selanjutnya dibuat Fans Club?

Rieziyanti Rahmini,
Jl A Yani Km 36 (Varras Fashion),
Gang Purnama No 4 RT 15 RW 06,
Banjarbaru Kalimantan Selatan 70714

Terima kasih atas berbagai masukannya. Insha allah menjadi pertimbangan bagi redaksi.


RUBRIK IPTEK

Assalamu’alaikum

Trim’s banget deh atas kehadiran Insight yang bisa ngingatin dan nyadarin kami, terutama para ABG lewat kupasan SAINS-nya yang pada dasarnya ngungkapin akan Kebesaran dan Kekuasaan Allah swt, Sang Maha Pencipta. Alangkah baiknya kalau Insight nambahin rubrik IPTEK (Buletin SAINS Populer dan IPTEK Modern) yang berkenaan dengan efek positif dan negatifnya bagi kita umat Islam. Semoga Insight bisa terus hadir dengan lebih baik dan fresh di tengah-tengah kami dengan Inovasinya yang tiada henti. Wassalam

Fahrizal Mujasa
SMU N 1 Kelua, Jln Karangan Putih Km. 4,5
Kec. Kelua Kab. Tabalong Kal-Sel 71542

Terima kasih atas tanggapan positifnya. Juga usulannya untuk menampilkan rubrik IPTEK.


ANTUSIAS MENYAMBUT

Assalamu’alaikum

Pertama kali memiliki Insight, yang sudah edisi ketiga, saya langsung promosi ke Kakak yang tinggal di sebuah Komplek Pesantren dan juga memiliki usaha TB Islam, agar mereka ikut menyalurkannya, saya yakin, TB mereka akan semakin sering dikunjungi santri karena buletin ini pasti membantu mereaka memahami ilmu Biologi, Fisika dan Kimia – dua yang terakhir banyak diakui sebagai monster bagi siswa. Meski kini sudah tiga edisi yang saya miliki antusias saya dalam menyambutnya setiap bulan tidak pernah surut. Buat seluruh kalangan yang terlibat dalam buletin ini, tetaplah istiqomah, OK! Wassalam

Juni Warni Silalahi,
Jl P. Jawa No 138 LINGK.X-C,
Pekan Labuhan Medan

Terima kasih telah menjadi pembaca setia buletin Insight. Istiqomah juga, ya!!

Dari Kami
TULISAN LOKAL

Assalamu’alaikum wr. wb.

Beberapa waktu terakhir terdapat usulan dari para pembaca INSIGHT yang menginginkan dimuatnya tulisan ilmuwan lokal di buletin tersayang ini. Redaksi sangat bersemangat menanggapi usulan tersebut. Bahkan ini merupakan keinginan kami sejak awal untuk menampilkan karya-karya Anda di INSIGHT. Di edisi sebelumnya pun kami telah memuat sejumlah tulisan kiriman penulis lokal. Namun entah mengapa ternyata tidak banyak tulisan lokal laik muat yang masuk lagi ke meja redaksi kami. Mungkin dikarenakan perlu adanya wartawan iptek yang dapat menjembatani para ilmuwan dan media masa populer seperti INSIGHT, agar ilmu mereka dapat dituangkan para wartawan tersebut dalam bentuk tulisan populer yang dapat dinikmati kalangan luas. Untuk itu, di edisi ini, kami mengumumkan kepada segenap pembaca INSIGHT atau siapa saja yang berminat menjadi wartawan lepas kami di bidang iptek. Selengkapnya, bukalah lembaran-lembaran bacaan kesayangan Anda ini hingga sampai ke pengumuman tersebut. Siapa tahu, kali ini Anda termasuk yang paling beruntung.

Pembaca budiman, di antara e-mail yang masuk, ada seorang staf di salah satu sekolah di Sumatera yang mengundang kami untuk berkunjung ke sekolahnya. Sungguh merupakan kehormatan bagi kami jika dapat memenuhi undangan tersebut. Sebab, kami yakin ada hal-hal bermanfaat yang akan didapat demi kemajuan bangsa dan kemaslahatan umat.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Redaksi

Bahasan Utama - 1
PENYARING RAKSASA

Atmosfer membolehkan masuk secukupnya saja sinar-sinar untuk mencapai bumi, dan memantulkan sinar-sinar berbahaya lainnya ke ruang angkasa. UVA: sinar-sinar berpanjang gelombang pendek UVA (Hampir keseluruhannya menembus atmosfer); UVB: sinar-sinar berpanjang gelombang sedang UVB (Atmosfer menyerap 70% sinar-sinar ini); UVC: sinar-sinar berpanjang gelombang pendek UVC (Atmosfer menghalangi masuknya seluruh sinar ini)

Pernahkah Anda membayangkan, apa jadinya hidup di dunia yang gelap dan kabur? Sebuah tempat tanpa warna, semuanya hanya hitam dan abu-abu. Kehidupan semacam itu tentunya sangat menyiksa manusia. Namun, dunia ternyata sungguh sangat berwarna. Seluruh bagian dunia diciptakan dengan selaras dan dihiasi dengan bunga-bunga indah. Hutan yang hijau, danau biru, pegunungan menjulang dan lautan tak bertepi. Namun, tahukah Anda, bagaimana warna, salah satu keajaiban terbesar penciptaan, dapat terbentuk?

Agar warna terbentuk, syarat pertamanya adalah keberadaan sinar atau cahaya. Tanpa sumber penerangan ini Anda takkan mampu melihat aneka warna. Sebagai bukti, tanpa sumber penerangan lain, Anda yang sedang berada di dalam kamar takkan mampu melihat apa pun tatkala semua lampu listrik di kediaman Anda padam. Di tempat seperti ini, mampukah Anda melihat warna? Sudah tentu tidak. Yang Anda rasakan hanyalah hitamnya kegelapan.

Pita teramat tipis

Satu-satunya pancaran sinar yang mencapai bumi datang dari matahari. Dalam Al Qur’an, Allah mengajak kita memperhatikan matahari dan sinarnya dalam ayat: Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, (QS. Asy Syams, 91:1). Ini adalah isyarat bahwa ada sesuatu yang luar biasa dari sinar yang dipancarkan matahari. Ada apa dengan sinar matahari? Mari kita simak bersama.

Meskipun tampak sebagai lapisan udara yang biasa saja, atmosfer ternyata merupakan penyaring raksasa. Penyaring ini tersusun atas lapisan-lapisan dengan fungsi pentingnya masing-masing. Kerapatan atom-atom atau molekul-molekul yang ada di atmosfer dan di ruang angkasa berbeda satu sama lain. Oleh sebab itu, ketika memasuki atmosfer, cahaya terbiaskan dan terhamburkan karena menumbuk atom-atom penyusun atmosfer. Akibat tumbukan ini, cahaya mengalami penurunan kekuatan (intensitas) dan ketajamannya. Tapi justru cahaya yang terhamburkan inilah yang memungkinkan mata makhluk hidup mampu mengindra dunia berwarna. Di angkasa luar yang tidak beratmosfer, cahaya memiliki kekuatan yang mampu merusak mata. Selain itu, penghamburan ini mengakibatkan sinar inframerah-tepi tersebar meliputi atmosfer dan menjadikan bumi hangat.

Ketika mengamati sinar matahari, kita pahami bahwa sinar ini, sebagaimana segala sesuatu di alam semesta, diciptakan secara sangat seimbang agar kehidupan manusia dapat berlangsung. Bintang-bintang dan sumber penerangan lainnya di alam semesta menghasilkan beragam pancaran atau radiasi sinar yang dapat dikelompokkan berdasarkan panjang gelombang dan frekuensinya. Cakupan penuh gelombang radiasi di jagat raya, yang dikenal sebagai spektrum elektromagnetik, meliputi suatu rentangan dengan gelombang terpanjang 1025 kali lebih besar daripada gelombang terpendek. Energi elektromagnetik pancaran matahari kita, terbatasi dalam sepenggal bagian amat tipis dari spektrum ini. Sebagian besar pancaran sinar matahari, sekitar 70%, mempunyai panjang gelombang antara 0,3 hingga 1,50 mikrometer (1 mikrometer = 1/1.000.000 meter).

Untuk memahami betapa besarnya angka kisaran dari spektrum elektromagnetik, Anda harus menderet sebanyak 25 angka nol di belakang angka satu. Angka ini sungguh di luar bayangan manusia, namun sebanyak itulah ragam jenis sinar di alam semesta ini. Di antara begitu banyaknya jenis sinar, hanya ada satu pita teramat tipis berisi panjang gelombang yang memungkinkan manusia dapat hidup dan melihat warna. Dan panjang gelombang sinar yang dipancarkan matahari berada dalam kisaran sempit ini dan bukan kisaran yang lain.

Kenyataan ini membuktikan bahwa Allah telah menciptakan dunia, manusia, warna dan matahari dalam keserasian tertentu. Dalam ayat Al Qur’an, Allah berfirman: Dia... menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhan-mu,... (QS. Faathir, 35: 13)

Sang penyaring raksasa

Sinar-sinar pada daerah tepat di kedua sisi cahaya tampak, sampai ke bumi sebagai sinar inframerah dan ultraviolet. Sinar inframerah menghasilkan pancaran yang menjadikan dunia dapat dihuni makhluk hidup. Di lain pihak, sejumlah sinar ultraviolet dapat menembus atmosfer dalam jumlah yang tepat untuk menyediakan energi yang diperlukan makhluk hidup. Sebagian dari pancaran sinar matahari bersifat membahayakan makhluk hidup. Untuk menangkal bahaya ini, bumi kita dilingkupi oleh penyaring raksasa. Penyaring ini adalah atmosfer.

Susunan cahaya sungguh mengejutkan para ilmuwan. Meski banyak sekali sinar-sinar dari ruang angkasa menerpa bumi, sinar dari matahari hanya tersusun atas kisaran yang amat sempit, sebagaimana tampak pada gambar. Dan inilah kisaran yang memang pas diperlukan untuk kehidupan.

Peran atmosfer tidak dapat diabaikan bagi kelangsungan makhluk hidup; atmosfer membiarkan sinar inframerah dan sinar tampak menembusnya, dan mencegah masuknya sinar-sinar mematikan lainnya. Michael Denton, seorang pakar biologi molekuler, menggambarkan hal ini sebagai berikut:

Bahkan gas-gas atmosfer sendiri menyerap dengan kuat radiasi elektromagnetik dari spektrum yang berada tepat di kedua sisi sinar tampak dan inframerah tepi. Ingat bahwa satu-satunya daerah dari spektrum yang dibiarkan menembus atmosfer di antara seluruh rentang radiasi elektromagnetik dari gelombang radio hingga sinar gama adalah pita yang teramat tipis ini, yang meliputi sinar tampak dan inframerah. Hampir-hampir tidak ada radiasi sinar gama, X, ultraviolet, inframerah jauh, dan gelombang mikro yang mencapai permukaan bumi. (Michael Denton, Nature’s Destiny, The Free Press, 1998, hal. 55)

Kesimpulan

Demikianlah, diperlukan sinar matahari sebagai prasyarat pertama agar kita mampu melihat warna. Meskipun demikian, tidak sembarang dan tidak semua sinar matahari menjadikan kita mampu melihat warna. Hanya sinar-sinar dengan panjang gelombang tertentu saja yang mampu menghasilkan warna, dan ini termasuk yang dibiarkan memasuki bumi oleh penyaring raksasa bumi: atmosfer.

Panjang gelombang sinar-sinar dari angkasa luar dapat terdiri dari beragam jenis, dari gelombang radio, yang berpanjang gelombang terbesar, hingga sinar gama, dengan panjang gelombang teramat kecil.

Matahari, sinar yang dihasilkannya, dan atmosfer adalah benda tak hidup yang tidak memiliki akal maupun kecerdasan. Ketiganya tak memiliki kehendak untuk bermusyawarah dan memutuskan untuk saling bekerja sama dengan perannya masing-masing dalam rangka menjadikan dunia agar dihiasi aneka warna. Lalu, siapakah yang menetapkan dan menciptakan mereka sedemikian rupa agar warna yang indah memukau di dunia ini terbentuk? Siapa lagi kalau bukan Pencipta ketiganya, yakni Allah yang Mahakuasa.

Bahasan Utama - 2
TAK HANYA MEMUNCULKAN WARNA

Sinar yang dipancarkan matahari mencapai bumi pada kecepatan 300.000 km per detik. Karena kecepatan sinar yang demikian inilah kita senantiasa dapat menyaksikan dunia yang penuh warna. Lalu, bagaimanakah aneka pemandangan berwarna yang terpampang di hadapan kita tanpa putus ini dapat terbentuk?

Sinar-sinar yang berasal dari matahari tersusun atas partikel-partikel yang dinamakan foton, yang bergerak sebagai gelombang. Ketika foton menumbuk elektron-elektron dari atom-atom penyusun benda di bumi, elektron-elektron ini melepaskan sinar-sinar bergelombang panjang tertentu, sesuai dengan warna yang dihasilkannya. Misalnya, ketika sinar mentari menerpa selembar daun, ini berarti foton-foton sinar tersebut menumbuk atom-atom molekul pigmen pada permukaan daun. Tumbukan mengakibatkan elektron-elektron dari atom-atom menjadi aktif, dan atom-atom tersebut pun bereaksi dengan mengeluarkan foton-foton. Jadi, foton-foton ini merupakan cahaya berwarna dari daun yang bergerak menuju ke mata kita.

Setelah menembus lapisan atmosfer dengan kecepatan luar biasa, sinar matahari mencapai bumi dan menumbuk benda-benda yang ada. Ketika menumbuk sebuah benda, sinar berkecepatan tinggi ini mengenai atom-atom penyusun benda tersebut, dan kemudian memantul berhamburan dalam bentuk kumpulan sinar dengan sejumlah panjang gelombang berbeda, sesuai dengan aneka warna yang dihasilkannya. Dengan cara inilah, majalah yang kini sedang Anda pegang, baris-baris tulisan serta gambar-gambarnya, pemandangan yang Anda saksikan di luar, pepohonan, gedung, kendaraan, langit, burung, kucing, singkatnya segala yang Anda saksikan dengan mata, memantulkan warna (sinar berwarna)-nya masing-masing.

Bagian benda yang menyebabkan warna-warna (sinar-sinar berwarna) ini terpantulkan adalah molekul-molekul pigmen dari benda tersebut. Dengan kata lain, warna yang dipantulkan sebuah benda tergantung dari jenis molekul pigmen yang ada pada benda tersebut. Setiap molekul pigmen memiliki struktur atom yang bebeda. Jumlah, jenis dan penyusunan atom-atom dalam molekul pigmen juga berbeda. Sinar yang menumbuk pigmen yang beragam ini dipantulkan dalam bentuk aneka warna dengan ketajaman yang berbeda pula. Sebagai contoh, warna sebuah apel hijau terkait dengan molekul pigmen yang menyusun apel. Di antara sinar-sinar yang menumbuk pigmen, hanya sinar hijaulah yang dipantulkan, karena sinar berwarna lain diserap oleh pigmen ini. Karena cahaya hijau terpantulkan, maka kita melihat apel berwarna hijau.

Kita dapat mengumpamakan molekul-molekul pigmen sebagai alat penyaring yang menyaring berdasarkan ukuran lubang pori-porinya. Sama halnya, pigmen menyaring panjang gelombang dari sinar-sinar yang mengenainya berdasarkan struktur sinar-sinar tersebut, dengan kata lain berdasarkan warnanya.

Ada banyak jenis pigmen di alam ini, di antaranya adalah klorofil (zat hijau daun), melanin, dan karotenoid. Karotenoid adalah zat pigmen yang dibuat oleh tumbuhan dan memantulkan warna kuning, merah dan oranye. Binatang dapat memperoleh pigmen-pigmen ini hanya dengan memakan tumbuhan. Satu contoh saja dari aneka pigmen ini sudah cukup untuk menunjukkan bahwa molekul pigmen telah dirancang khusus untuk kehidupan.

Melanin: lebih dari sekedar pewarna

Mata makhluk hidup sangatlah peka terhadap cahaya, dan mudah rusak karenanya. Tapi kita masih mampu melihat matahari dan sekeliling kita dengan aman berkat sejumlah perangkat pelindung yang secara khusus diciptakan oleh Allah. Salah satu perangkat ini adalah sekumpulan molekul pigmen yang ada di mata.

Sebagaimana diketahui, makhluk memiliki mata dengan warna beragam. Yang menjadikan mata berwarna adalah, sekali lagi, pigmen. Melanin adalah salah satu dari zat pigmen ini, yang terdapat pada mata, dan menjadikannya berwarna. Pigmen serupa juga menjadikan kulit dan rambut Anda berwarna. Tapi, melanin lebih dari sekedar memunculkan warna. Para peneliti yakin bahwa melanin, yang ada pada mata, memberikan perlindungan dari pengaruh sinar matahari yang merusak, sekaligus meningkatkan ketajaman penglihatan. Selain sebagai pelindung alami terhadap pancaran sinar atau cahaya yang membahayakan, zat melanin juga menyerap lebih kuat cahaya berenergi tinggi dari pada cahaya berenergi rendah. Jadi, melanin menyerap lebih kuat cahaya (warna) ultraungu (ultraviolet) daripada cahaya (warna) biru, dan menyerap warna biru lebih kuat daripada warna hijau. Dengan cara ini, melanin melindungi lensa mata dari cahaya ultraviolet.

Sinar matahari yang mencapai bumi di antaranya mengadung sinar-sinar berwarna. Ini terlihat ketika sinar tersebut terurai setelah melalui prisma. Sinar-sinar inilah yang memberi warna tertentu pada benda ketika sebagiannya diserap dan sebagiannya lagi dipantulkan benda ke mata kita.

Selain itu, melanin memberi perlindungan yang nyaris sempurna bagi retina dengan menyaring cahaya warna yang berbeda sesuai tingkat kemampuan masing-masing warna tersebut dalam merusak jaringan retina. Hal ini mengurangi bahaya terjadinya “degenerasi makula” atau kerusakan makula, yakni bagian tengah dari retina. Makula berperan dalam pemunculan penampakan bagian tengah yang jelas dari pemandangan yang kita lihat, dan berfungsi pula dalam kemampuan melihat bagian-bagian terperinci (terkecil) dari benda. Orang yang memiliki lebih banyak melanin pada mata berkemungkinan lebih kecil mengidap kerusakan makula daripada yang memiliki lebih sedikit. Peran melanin dalam melindungi mata sangatlah penting: para ahli mata melaporkan bahwa keberadaan melanin pada mata mengurangi bahaya kerusakan makula akibat penuaan.

Sebagaimana telah dipahami, masing-masing peran dan manfaat dari zat melanin memperlihatkan kita pada perancangan khusus dan istimewa dari zat ini. Sangat sulit diterima akal untuk berkata bahwa zat yang sempurna ini muncul menjadi ada karena peristiwa alamiah belaka, tanpa sengaja diciptakan. Allahlah yang telah menciptakan melanin, serta jenis pigmen lainnya, bahkan segala sesuatu di alam semesta, secara khusus untuk manfaat tertentu bagi kepentingan manusia. Mahasuci Allah Pencipta yang paling agung.

Bahasan Utama - 3
MELIHAT WARNA DALAM GELAPNYA OTAK

Agar dapat kita saksikan sebagai warna, cahaya yang dipantulkan benda haruslah mencapai mata. Tapi keberadaan mata saja belumlah cukup. Setelah mencapai mata, cahaya mesti diubah menjadi sinyal-sinyal syaraf agar dapat mencapai otak yang bekerja selaras dengan mata.

Sepak terjang sel kerucut

Sel-sel kerucut pada retina mata mengubah informasi tentang warna menjadi sinyal-sinyal syaraf melalui pigmen-pigmen yang dikandungnya. Kemudian, sel-sel syaraf yang terhubungkan ke sel-sel kerucut tersebut meneruskan sinyal-sinyal syaraf ke tempat tertentu di otak yang disebut pusat penglihatan. Di tempat inilah kita dapat merasakan keberadaan dunia beraneka-warna yang kita saksikan sepanjang hidup kita.

Marilah kita berpikir tentang mata dan otak kita sendiri. Mata manusia merupakan perangkat penglihatan yang sangat rumit yang terdiri dari banyak dan beragam bagian serta organ-organ kecil penyusunnya. Hanya dengan bekerjanya seluruh bagian ini secara bersamaan dan serasilah kita mampu melihat dan merasakan keberadaan warna. Mata, beserta jaringan dan bagian-bagian kecil penyusunnya seperti sel-sel kelenjar air mata, kornea, konjunktiva (selaput lendir yang melumasi mata), iris dan pupil, lensa, retina, koroid (selaput hitam mata), otot dan kelopak mata, merupakan seperangkat organ sempurna tanpa tara. Selain itu, dengan jaringan syaraf sempurna yang membentuk sambungan ke otak dan ke pusat penglihatan di dalam otak ini, mata secara keseluruhan memiliki rancang-bangun yang sangat istimewa. Keberadaan ini semua pastilah bukan melalui peristiwa alamiah belaka, melainkan penciptaan sengaja.

Setelah uraian singkat tentang mata, marilah kita amati bagaimana peristiwa melihat terjadi. Cahaya yang datang ke mata pertama-tama melewati kornea, lalu pupil dan lensa, dan akhirnya mencapai retina.

Pengenalan terhadap warna dimulai dari sel-sel kerucut pada retina. Terdapat tiga kelompok utama sel kerucut yang bereaksi kuat terhadap warna-warna cahaya, yaitu sel kerucut biru, hijau dan merah. Sel-sel kerucut bersifat peka, dan bereaksi terhadap warna merah, biru dan hijau; dan ketiganya adalah warna utama (warna primer) yang ada di alam. Rangsangan oleh ketiga warna ini dalam berbagai tingkatannya terhadap sel-sel kerucut inilah yang memunculkan penampakan jutaan aneka warna.

Bagian-bagian utama pembentuk lapisan retina mata.

Sel-sel kerucut pada retina lalu mengubah informasi tentang warna ini menjadi sinyal-sinyal syaraf melalui pigmen-pigmen yang dikandungnya. Kemudian, sel-sel syaraf yang terhubungkan ke sel-sel kerucut tersebut meneruskan sinyal-sinyal syaraf ke tempat tertentu di otak. Di tempat tertentu seluas beberapa sentimeter persegi inilah kita dapat merasakan keberadaan dunia beraneka-warna yang kita saksikan sepanjang hidup kita.

Pada gambar terlihat jalinan antara sel-sel saraf pada retina. Jalinan rumit antara lapisan-lapisan sel yang berbeda membantu sel-sel saraf bergerak bersama dan saling berhubungan. Gambar sebelah kanan adalah sel-sel kerucut yang diperbesar. Sel-sel kerucut membantu kita melihat dunia berwarna, sedangkan sel-sel batang membantu kita melihat aneka bentuk dan gerakan.
Pada retina mata, terdapat tiga kelompok sel kerucut, masing-masing bereaksi terhadap panjang gelombang cahaya yang berlainan. Kelompok sel pertama, kedua, dan ketiga ini masing-masing peka terhadap cahaya merah, biru, dan hijau. Tingkat rangsangan yang berbeda terhadap tiga kelompok sel ini menjadikan kita mampu melihat dunia penuh warna dengan jutaan ketajaman yang berbeda.

Dunia berwarna dalam otak gelap

Tahap terakhir pembentukan warna berlangsung dalam otak. Sel-sel syaraf mata membawa pemandangan yang ditangkap mata dalam bentuk sinyal-sinyal syaraf. Sinyal-sinyal ini dibawa menuju otak, dan segala yang kita lihat di dunia luar dirasakan dalam pusat penglihatan di otak. Di sini, kita berhadapan dengan kenyataan yang mengejutkan: otak adalah sekerat daging yang sama sekali gelap karena terbungkus rambut, kulit dan tempurung kepala (tengkorak). Sinyal-sinyal syaraf yang dibangkitkan oleh bayangan yang dibentuk oleh pemandangan benda pada retina diterjemahkan di dalam otak yang sama sekali gelap. Banyangan benda, beserta warna dan segala seluk beluknya, terbentuk sebagai penampakan di pusat penglihatan di otak ini. Bagaimana proses ini dapat terjadi dalam sekerat daging bernama otak ini?

Banyak pertanyaan seputar bagaimana warna dapat kita rasakan masih tak terjawab. Para pakar tentang warna masih tak mampu menjawab pertanyan-pertanyaan seperti bagaimana sinyal-sinyal syaraf diteruskan ke otak melalui syaraf mata, dan pengaruh kejiwaan apa yang ditimbulkannya di dalam otak.

Segala yang kita lihat di dunia luar dirasakan/ditampakkan dalam otak kita. Bunga, burung, langit, gunung, manusia, dan segala yang berwarna di dunia ini ditampakkan di hadapan kita di dalam otak kita. Padahal, otak adalah tempat yang sangat gelap. Siapakah yang menjadikan kita mampu melihat dunia berwarna di dalam otak kita yang gelap ini? Siapa lagi kalau bukan Allah, Pencipta seluruh alam, yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

Nyatanya, kebanyakan proses yang dilakukan otak masih belum dapat dijelaskan. Kalaupun ada, sebagian besar masih berdasarkan teori. Meskipun demikian, otak telah melakukan seluruh perannya dengan sempurna sejak saat manusia ada di dunia ini hingga sekarang. Manusia telah merasakan dunia tiga dimensi, beserta seluruh warna, rancangan, suara, aroma dan rasanya dalam sekerat daging bernama otak yang berbobot mendekati satu kilogram. Semua ini hanya mungkin karena penciptaan sempurna oleh Allah. Dialah Tuhan yang telah menciptakan aneka warna sedemikian indah dan sempurna untuk kenikmatan manusia. KepadaNyalah kita patut bersyukur dan menghamba.

Bahasan Utama - 4
Tetap Berwarna Meskipun Bening

Pembentukan warna sayap kupu-kupu sangatlah menarik. Cahaya dipantulkan melalui sisik-sisik pada permukaan sayap kupu-kupu yang kemudian memunculkan warna-warni yang “sebenarnya tidak ada”. Pesona warna ini memiliki keindahan dan keserasian yang luar biasa. Mungkin Anda bertanya-tanya mengapa warna-warni ini dikatakan sebagai sesuatu yang “sebenarnya tidak ada”?

Permukaan sebagian mobil masa kini dilapisi dengan bahan yang mampu mengatur pantulan cahaya, layaknya sisik sayap kupu-kupu. Karenanya, pigmen yang ada takkan memudar dengan berlalunya waktu

Bening tapi berwarna

Kupu-kupu memiliki sepasang sayap berupa lapisan selaput tipis yang ternyata bening tidak berwarna, atau transparan. Selaput bening ini tidak terlihat karena tertutupi oleh sisik-sisik dengan beragam ketebalan. Selain menjadikan sayap kupu-kupu dapat digunakan terbang dengan lebih baik, sisik-sisik ini juga memberi warna sayapnya. Sisik-sisik yang lembut, mudah berhamburan dan mudah jatuh dari tempatnya ketika disentuh ini memiliki ujung runcing-tajam yang menempel pada sayap kupu-kupu. Dengan cara ini, sisik tetap menempel tanpa terlepas.

Masing-masing dari sisik mungil ini, yang tampak seperti sirap yang saling bertumpang tindih pada atap, memunculkan warna melalui pigmen. Penelitian laboratorium menunjukkan bahwa warna yang berbeda bergantung pada zat-zat kimia yang berbeda pula. Zat pewarna yang dinamakan pteridin, misalnya, memunculkan warna merah muda, putih dan kuning yang seringkali tampak pada kupu-kupu. Melanin, zat pewarna paling sering dijumpai, terdapat pada titik-titik hitam sayap kupu-kupu.

Tatkala diperbesar, sisik-sisik mungil tembus pandang yang terletak pada permukaan sayap kupu-kupu tampak seperti sirap atau genting yang saling bertumpang tindih dan tersusun rapi pada atap rumah (gambar kiri dan tengah). Sisik-sisik ini mampu memantulkan dan membiaskan cahaya yang mengenainya, layaknya permukaan gelembung air sabun. Meski tak ada pigmen pada gelembung air sabun, namun warna-warni elok dapat dihasilkan. Ini dikarenakan sinar matahari yang dipantulkan dari kulit tipis gelembung tersebut mengandung spektrum cahaya berwarna (gambar kanan).

Menariknya, warna-warni sayap kupu-kupu tidaklah sebagaimana yang terlihat. Contohnya, sisik-sisik berwarna hijau ternyata adalah campuran antara sisik-sisik berwarna hitam dan kuning. Penelitian baru-baru ini memperlihatkan bahwa pigmen dibuat pada sisik-sisik tersebut, dan enzim-enzim yang diperlukan untuk pembuatannya terdapat pada selaput bagian atas dari sisik-sisik itu.

Berwarna tanpa pigmen

Zat-zat pewarna bukanlah satu-satunya penyebab warna-warni kupu-kupu yang sangat mudah menguap ini. Susunan dan penataan sisik-sisik pada permukaan sayapnya juga menyebabkan aneka tipuan cahaya, seperti pemantulan, pembiasan, dan akhirnya pembentukan aneka warna dengan keindahan memukau. Kupu-kupu Stilpnotio salicis, misalnya, memiliki sisik-sisik setengah tak-berwarna, yang mengandung gelembung-gelembung. Meski tanpa zat warna (pigmen), cahaya yang mengenai sisik-sisik ini memunculkan penampakan mengkilat bak sutra.

Warna biru cerah pada sayap kupu-kupu jenis tertentu, misalnya, adalah salah satu warna paling mencolok di dunia binatang. Namun tidak ada pigmen biru pada sayap kupu-kupu. Rahasianya terletak pada pemantulan sinar.

Sayap kupu-kupu ini dilapisi sisik-sisik tembus cahaya yang menipu mata yang memandangnya. Ilmuwan mengarahkan sinar laser pada satu sisik kupu-kupu jenis tertentu dengan sayap berwarna biru itu. Hasilnya sungguh mengejutkan. Warna biru muncul bersama pantulan sinar dari sisik-sisik tembus pandang tersebut. Ini sebagaimana yang terjadi pada warna gelembung air sabun. Tak ada pigmen pada gelembung air sabun, namun warna-warni elok muncul saat cahaya mengenainya. Ini dikarenakan sifat sinar matahari yang dipantulkan dari kulit tipis gelembung tersebut. Pancaran sinar dengan beragam panjang gelombang berpadu menjadi satu, sebagiannya menjadi lebih kuat, sedang yang lainnya menghilang, sehingga pemandangan indah cahaya berwarna pun dihasilkan. Setiap lembaran sisik kupu-kupu mengandung lapisan-lapisan selaput menyerupai daun. Selaput ini berfungsi seperti permukaan gelembung air sabun. Sinar menerpa lapisan-lapisan ini dengan cara tertentu. Inilah yang menyebabkan semua warna selain biru terhilangkan.

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih KepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. Al Hasyr, 59:24)

Pada sejumlah kupu-kupu, susunan dua baris sisik yang saling bertumpang tindih dapat pula memunculkan pantulan aneka warna. Di antaranya pemunculan warna biru pada sayap, dan bukan hitam atau coklat.

Perancang masa kini memanfaatkan ciri istimewa mengejutkan dari kupu-kupu ini. Contohnya, sebagian permukaan mobil kini telah dilapisi dengan bahan yang mengatur pantulan cahaya. Ini berarti bahwa pigmen yang ada padanya takkan memudar dengan berlalunya waktu.

Keragaman cahaya pada kupu-kupu ini menarik perhatian Lembaga Penelitian dan Pengujian Pertahanan Inggris, yang berpikir bahwa struktur kupu-kupu ini mungkin akan membuka era baru dalam penyamaran kendaraan tempur.

Di balik warna kupu-kupu

Ketika meneliti rancangan dan seluk-beluk sayap kupu-kupu, meskipun sebatas warnanya saja, kita dapati banyak ketakjuban. Tak diragukan lagi, keberadaan penampakan elok yang luar biasa tersebut merupakan bukti kekuasaan maha-agung dan kehebatan tak terhingga dari Allah, Pencipta semua ini.



Arkeologi
MISTERI GUNUNG KEMALANGAN

Gambar yang menampilkan sekelumit kemewahan dan kemakmuran kota Pompeii sebelum bencana besar terjadi. Pompeii, kota tempat berkumpulnya kemegahan dan keindahan, pada akhirnya dihancurkan bersama 20.000 penduduknya.

Gunung Vesuvius adalah lambang negeri Italia, khususnya kota Naples. Gunung berapi ini juga dikenal sebagai "Gunung Kemalangan". Ada alasan tepat mengapa dinamakan demikian. Sebuah kota yang dibangun di lerengnya bernasib serupa dengan kota Sodom (tempat kaum Nabi Luth bermukim). Kota yang dihancurkan karena pembangkangannya terhadap Allah dan perilaku menyimpang penduduknya ini bernama Pompeii.

Dahulunya, Pompeii dengan jalan-jalannya yang ramai merupakan kota tujuan wisata bagi masyarakat kelas atas Kekaisaran Romawi dan menjadi lambang kemakmuran. Gaya arsitektur rumah-rumahnya sungguh memukau. Penduduk Pompeii sangatlah makmur. Sayangnya, bukannya bersyukur kepada Allah atas kemakmuran itu, mereka malah menjadi bangsa berperilaku menyimpang yang berkubang dalam kemaksiatan, dan kota itu pun menjadi pusat kezaliman.

Pompeii sangat tersohor karena dua hal. Yang pertama adalah pertarungan gladiator di arena raksasa hanya untuk menghibur kaum kaya. Pertunjukan biadab ini hanya memiliki satu aturan: bertarung hingga mati. Arena bertarung terbesar kedua di Imperium Romawi setelah Coliseum di Roma adalah di Pompeii. Di tahun-tahun awal sejarah agama Kristen, arena itu menjadi saksi kematian manusia yang tak terhitung jumlahnya, hanya karena mereka beriman kepada Allah. Kekejaman yang sulit dipercaya ini menjadi hiburan terlaris bagi warga Pompeii yang hati nuraninya telah redup dan mati.

Ciri menonjol kedua Pompeii adalah penerapan sistem perbudakan paling tidak manusiawi, yang merajalela di seantero Kekaisaran Romawi. Budak yang membangkang perintah hanya akan bernasib satu: Mereka diperlakukan sebagai barang tak berharga, yang dapat dibeli dengan uang. Kezaliman sesungguhnya kaum bangsawan Pompeii terhadap budak adalah sesuatu yang lain: yakni memaksa mereka melacur! Perilaku laknat homoseksual di antara mereka sendiri berakhir pada pemerkosaan budak-budak di bawah umur.

Gelimpangan mayat-mayat yang terawetkan, ditemukan di bekas kota Pompeii. Pemandangan para korban mengisyaratkan betapa cepat dan mendadaknya bencana tersebut terjadi. Ini adalah peringatan berharga bagi orang-orang yang hidup setelahnya.

Singkatnya, kekayaan mereka malah merusak akhlaq warga Pompeii dan menggiring mereka ke lembah kenistaan dan kemaksiatan. Mereka tak pernah mengira apa yang bakal terjadi. Bencananya sungguh dahsyat hingga bekasnya dapat disaksikan sampai sekarang: bak mandi marmer besar di salah satu tempat pemandian yang ada di kota itu membentur sangat keras dinding di depannya, hingga menimbulkan bekas benturan yang besar dan dalam.

Meskipun letusan gunung Vesuvius sangat mengerikan, tak seorang pun berkesempatan untuk melarikan diri. Mereka membatu di tempat mereka berada.

Dalam sekejap, lahar gunung Vesuvius menghapus Pompeii dari muka bumi. Bencana itu terpendam dalam tanah hingga 2.000 tahun kemudian. Pada seperempat pertama abad ke-20, para arkeolog (ahli kepurbakalaan) mulai menggali sisa reruntuhannya dari bawah berton-ton batuan vulkanis. Apa yang mereka temukan adalah sejarah berusia 2.000 tahun yang benar-benar terawetkan. Bencana ini menimpa Pompeii sangat tiba-tiba hingga semuanya tetap dalam keadaan yang sama seperti 2.000 tahun yang lalu. Seolah perjalanan waktu telah terhenti.

Meskipun letusan gunung Vesuvius sangat mengerikan, tak seorang pun berkesempatan untuk melarikan diri. Mereka membatu di tempat mereka berada. Muka, bahkan gigi dari sejumlah tubuh ini masih utuh sama sekali. Hampir semua wajah mereka menampakkan mimik keterkejutan dan ketakutan. Terdapat sebuah keluarga yang sedang makan bersama membatu seketika itu juga. Bahkan makanan di atas meja ikut terawetkan. Yang paling luar biasa dari peristiwa ini adalah: Bagaimana ribuan orang menunggu ajal datang dan menjemput mereka, tanpa mereka menyaksikan dan mendengar apa pun?

Dahsyatnya malapetaka menunjukkan penghancuran Pompeii sangat menyerupai penghancuran yang dijelaskan Al Qur’an. Ketika peristiwa semacam ini dilukiskan Al Qur’an, dikisahkan bahwa orang-orang selalu ditimpa bencana dalam sekejap, di tempat mereka berada: Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. (QS. Yaasiin, 36:29) Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang. (QS. Al Qamar, 54:31)

Keruntuhan Teori Evolusi
LHO, TERNYATA MASIH HIDUP?

BERAKHIRNYA SEBUAH MITOS
Coelacanth ternyata masih hidup! Tim yang menangkap coelacanth hidup pertama di Samudra Hindia pada tanggal 22 Desember 1938 terlihat di sini bersama ikan tersebut.

Hingga 70 tahun yang lalu, evolusionis mempunyai fosil ikan yang mereka yakini sebagai "nenek moyang hewan-hewan darat". Namun, perkembangan ilmu pengetahuan meruntuhkan seluruh pernyataan evolusionis tentang ikan ini.

Ketiadaan fosil bentuk peralihan antara ikan dan amfibi adalah fakta yang juga diakui oleh para evolusionis hingga kini. Namun, sampai sekitar 70 tahun yang lalu, fosil ikan yang disebut coelacanth diterima sebagai bentuk peralihan antara ikan dan hewan darat. Evolusionis menyatakan bahwa coelacanth, yang diperkirakan berumur 410 juta tahun, adalah bentuk peralihan yang memiliki paru-paru primitif, otak yang telah berkembang, sistem pencernaan dan peredaran darah yang siap untuk berfungsi di darat, dan bahkan mekanisme berjalan yang primitif. Penafsiran evolusi ini diterima sebagai kebenaran yang tak perlu diperdebatkan lagi di dunia ilmiah hingga akhir tahun 1930-an.

Namun, pada tanggal 22 Desember 1938, penemuan yang sangat menarik terjadi di Samudra Hindia. Seekor ikan dari famili coelacanth, yang sebelumnya diajukan sebagai bentuk peralihan yang telah punah 70 juta tahun yang lalu, berhasil ditangkap hidup-hidup! Tak diragukan lagi, penemuan ikan coelacanth "hidup" ini memberikan pukulan hebat bagi para evolusionis. Ahli paleontologi evolusionis, J. L. B. Smith, mengatakan ia tidak akan terkejut lagi jika bertemu dengan seekor dinosaurus yang masih hidup. (Jean-Jacques Hublin, The Hamlyn Encyclopædia of Prehistoric Animals, New York: The Hamlyn Publishing Group Ltd., 1984, hal. 120) Pada tahun-tahun berikutnya, 200 ekor coelacanth berhasil ditangkap di berbagai tempat berbeda di seluruh dunia.

GAMBAR REKAAN DAN SEEKOR COELACANTH ASLI

Hingga diketemukannya spesimen hidup coelacanth, para evolusionis menampilkan ikan ini sebagai nenek moyang dari "semua hewan darat". Gambar sebagaimana di atas dikemukakan sebagai fakta dan ditampilkan pada buku-buku pelajaran. Ketika satu contoh yang masih hidup dari ikan tersebut tertangkap (gambar samping), seluruh pendapat para evolusionis terhempaskan.

Keberadaan coelacanth yang masih hidup mengungkapkan sejauh mana evolusionis dapat mengarang skenario khayalan mereka. Bertentangan dengan pernyataan mereka, coelacanth ternyata tidak memiliki paru-paru primitif dan tidak pula otak yang besar. Organ yang dianggap oleh peneliti evolusionis sebagai paru-paru primitif ternyata hanyalah kantung lemak. (Jacques Millot, "The Coelacanth", Scientific American, Vol 193, December 1955, hal. 39) Terlebih lagi, coelacanth, yang dikatakan sebagai "calon reptil yang sedang bersiap meninggalkan lautan untuk menuju daratan", pada kenyataannya adalah ikan yang hidup di dasar samudra dan tidak pernah mendekati rentang kedalaman 180 meter dari permukaan laut. (Bilim ve Teknik (Science and Technology), November 1998, No. 372, hal. 21)

Sebelum contoh hidup ikan Coelacanth tertangkap, para evolusionis meyakini bahwa ikan ini memiliki organ yang berbentuk separuh sirip dan separuh kaki yang memugkinkannya merangkak di daratan. Ketika coelacanth hidup ini diperiksa, maka diketahui bahwa siripnya tidak memiliki fungsi tambahan seperti itu. Evolusionis mengklaim bahwa ikan tersebut memiliki paru-paru primitif. Kenyataannya, organ yang dianggap sebagai paru-paru primitif ini adalah sebuah kantung lemak. Dinyatakan bahwa struktur otak Coelacanth juga menyerupai yang ada pada hewan darat. Namun, terungkap bahwa otaknya sama sekali tidak berbeda dengan ikan modern.

Teknologi Bahan
KENDARAAN TEMPUR ‘BERKULIT KERANG’

Berbagai macam bahan digunakan di alam. Bahan-bahan ini memiliki sifat yang amat istimewa. Selain tidak menimbulkan suara, bahan ini mempunyai penampilan menarik dan struktur kuat. Bahan ini juga mampu dikembalikan lagi ke bentuk awal. Masing-masing mempunyai sifat yang dapat digunakan dalam pengkajian teknologi.

Ada apa dengan kerang laut?

Kerang laut (abalone)

Porselen adalah bahan yang sering dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahan ini digunakan di berbagai bidang, dari konstruksi hingga kelistrikan. Pembuatannya membutuhkan suhu 1.000 hingga 1.500 derajat celsius. Porselen alami juga ditemukan pada makhluk hidup. Satu contohnya adalah cangkang binatang laut. Selain itu, pembentukan cangkang ini hanya memerlukan suhu 4 derajat celsius.

Ilhan Aksay

Rancangan menakjubkan ini menarik perhatian ilmuwan Turki, Ilhan Aksay. Selama penelitiannya terhadap cangkang satwa laut, Aksay mulai menyadari struktur luar biasa dari kerang laut. Makhluk ini mempunyai cangkang yang amat kokoh. Cangkang ini amat kuat sehingga mencapai dua kali lipat kekuatan keramik buatan teknologi maju. Billy Goodman, penulis ilmu pengetahuan asal Amerika, mengulas bahan ini sebagai berikut:

Ketika diperbesar 300.000 kali dengan mikroskop elektron, cangkang tampak seperti tembok batu bata, dengan ‘batu bata’ kalsium karbonat berselingan dengan ‘adukan semen’ protein. Meski sifat alami kalsium karbonat yang mudah hancur, berkat susunan berlapisnya, cangkang ini sangatlah kuat dan lebih tahan-pecah daripada keramik buatan manusia. (http://www.princeton.edu)

Terilhami oleh contoh ini, Aksay membuat bahan sangat keras dan kuat; bentuk berlapis dari boron-karbida/alumunium. Bahan ini dipakai sebagai perisai pada kendaraan militer Amerika Serikat.

Benda-benda buatan manusia akhirnya akan retak dan hancur. Tidaklah mungkin menyusun kembali benda yang hancur ke keadaan aslinya. Dan hanya sebagiannya yang dapat diperbaiki. Sebaliknya, benda-benda di alam memiliki tata kerja luar biasa yang memungkinkannya memperbaharui secara mandiri. Ilmuwan yang mempelajari sifat ini telah membuat bahan yang mampu memperbaharui secara mandiri seperti polimer dan poli-siklat.

Kiri: Ketika diperbesar 300.000 kali dengan mikroskop elektron, cangkang tampak seperti tembok batu bata, dengan ‘batu bata’ kalsium karbonat berselingan dengan ‘adukan semen’ protein. Kanan: Terilhami cangkang kerang laut, dibuatlah bahan sangat keras dan kuat dengan bentuk berlapis dari boron-karbida/alumunium. Bahan ini dipakai sebagai perisai pada kendaraan militer Amerika Serikat.

Pesawat antariksa dari kulit buaya

Fibreglass atau serat kaca dipakai dalam pembuatan alat olah raga, mobil balap formula satu, perahu layar, dan bahkan bagian pesawat udara dan antariksa. Jaringan khusus pada kulit tebal buaya (paling kiri) mempunyai struktur yang menyerupai serat kaca.

Kebanyakan benda di alam tersusun atas berbagai jenis unsur pembentuk. Ini dikenal sebagai ‘komposit’. Fiberglass atau serat kaca yang kini dipakai di berbagai bidang, adalah komposit buatan. Bahan ini ringan, kuat dan lentur. Serat kaca dipakai dalam pembuatan: alat olah raga, mobil balap Formula satu, perahu layar, dan bahkan bagian pesawat udara dan antariksa. Ternyata bahan serupa juga ditemukan di sejumlah makhluk hidup, dan sudah ada sejak mereka muncul di dunia. Salah satunya adalah buaya.

Jaringan khusus pada kulit tebal buaya mempunyai struktur serupa serat kaca. Jaringan ini menjadi sangat kuat oleh serat yang dikandungnya. Penambahan serat ke dalam jaringan menjadikannya sungguh kuat. Komposit tiruan jauh lebih lemah dan kalah unggul dibandingkan ini.

Komposit alami, sebagaimana semua bahan di alam, adalah contoh kesempurnaan ciptaan Allah yang tiada tara. Allah mengisyaratkan dalam Al Qur’an bahwa terdapat contoh-contoh ini pada makhluk yang Dia ciptakan:

Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini, (QS. Al Jaatsiyah, 45:4)

Jembatan berteknologi tendon

Teknologi kabel baja yang digunakan pada jembatan gantung, dikembangkan dengan struktur menyamai tendon.

Satu lagi contoh komposit alami adalah jaringan penyambung otot dengan tulang; yakni tendon. Berkat serat yang menyusunnya, tendon sangatlah kuat dan kokoh. Inilah alasan mengapa rancangan tendon telah menjadi sumber ilham bagi industri konstruksi. Teknologi kabel baja yang digunakan pada jembatan gantung, dikembangkan dengan struktur menyamai tendon. Janine M. Benyus dari Rutgers University, menulis dalam bukunya Biomimicry:

Tendon pada lengan bawah Anda adalah seikat pilinan kabel, seperti kabel yang digunakan dalam jembatan gantung. Setiap utas kabel itu sendiri merupakan seikat pilinan kabel yang lebih tipis. Setiap kabel yang lebih tipis ini pun merupakan seikat pilinan molekul, yang tentu saja berupa bundelan terpilin dan berulir dari atom-atom. (Janin M. Benyus, Biomimicry, New York, 1998, hal. 99-100).

Rancangan tiada banding pada tendon ini adalah salah satu bukti kehebatan ciptaan Allah. Dalam satu ayat Al Qur’an, Allah mewahyukan,

“Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka.” (QS. Al Insaan, 76:28)

Iptek Anak
Ladang Minyak dalam Tubuh Kita

Hanif sekarang berumur lima tahun. Lebaran sebulan yang lalu, Hanif, bersama Ayah dan Bunda berkunjung ke rumah Kakek di Bandung. Di sana Hanif bertemu dengan sepupu-sepupunya. Hanif senang sekali, bisa bermain bersama mereka. Ada Kak Fauzan yang sudah kelas enam SD, Teteh Atikah yang tiga tahun lebih tua dari Hanif, dan ada Dede Hafidz yang baru enam bulan umurnya.

Suatu hari, ketika mereka semua sedang bersantai di ruang keluarga, Bibi Nisa, ibu Kak Fauzan, berkata pada Hanif, “Hanif sekarang sudah besar ya? Berat badannya berapa?” Bunda menyahut, “Berat badan Hanif 15 kg. Kak Fauzan berapa?” ”Setelah puasa agak turun berat badannya, jadi 24 kg, “jawab Bibi Nisa. Mendengar percakapan mereka, Hanif jadi ingin tahu, dan bertanya kepada Bunda, “Bunda, mengapa berat badan Kak Fauzan lebih banyak dari Hanif?”

Bunda tersenyum, lalu mulailah beliau bercerita. Ketika baru lahir berat badan kita hanya sekitar 2-3 kilogram. Ketika berumur 10 tahun menjadi 30-35 kilogram. Pada waktu berumur 15 tahun berat badan kita menjadi 40-50 kilogram, dan pada usia 20-25 tahun akan menjadi 50-60 kilogram. Berat badan kita berubah karena seiring waktu sari-sari makanan yang kita makan bersatu dengan tubuh kita. Sari-sari makanan ini sebagian terpakai ketika bermain sepeda, belajar, dan berlari pagi. Sebagian lagi bersatu dengan tubuh dalam bentuk daging, dan tulang yang berkembang. Ada juga sari makanan yang tidak berguna, yang kemudian dibuang dari tubuh kita. Jadi semakin bertambah usia kita, berarti semakin banyak sari-sari makanan yang bersatu dengan tubuh kita, dan berat badan kita pun semakin bertambah.

Hanif masih penasaran, dan bertanya kembali, “Tapi, Bunda, daging dan tulang Hanif kan tidak sama bentuknya dengan ketupat opor yang tadi siang Hanif makan?” Yang hadir di situ tertawa. Lantas Bunda melanjutkan ceritanya. Apa yang terjadi dalam tubuh kita bisa diibaratkan dengan penambangan minyak. Di penambangan, minyak mentah diolah melalui sebuah proses sehingga berubah menjadi minyak yang dapat dipergunakan. Begitu juga yang terjadi dalam tubuh kita, makanan yang masuk ke dalam tubuh dicerna sehingga dapat dipakai oleh tubuh. Makanan dikunyah oleh gigi, dihancurkan di lambung dan di usus, kemudian diserap sari-sarinya oleh sel-sel tubuh kita dan melalui pembuluh darah sari-sari makanan tersebut bergerak ke bagian-bagian tubuh yang membutuhkannya.

Hanif mengangguk-angguk, berusaha membayangkan apa yang diceritakan Bunda. Sejurus kemudian, Hanif kembali bertanya, “Bunda, ketupat opor tadi siang nanti jadi apa? Jadi daging Hanif, begitukah? Lalu susu yang Hanif minum jadi darah? Benarkah, Bunda?

Bunda tersenyum bijak dan menjelaskan kembali. Seperti di penambangan, minyak mentah diolah sehingga menghasilkan produk yang bermacam-macam. Bensin yang dipakai mobil dan plastik yang dipakai untuk mainan, keduanya merupakan hasil olahan minyak mentah. Demikian halnya dengan makanan, setelah sampai ke dalam tubuh dicerna sesuai dengan kebutuhan tubuh, sehingga menghasilkan bermacam-macam zat, seperti lemak, gula, karbohidrat dan lainnya. Akan tetapi, setelah Hanif makan ketupat opor atau minum susu, peristiwa yang terjadi dalam perut, lebih rumit dibandingkan di penambangan minyak.

Selanjutnya, dengan bijak Bunda membelai kepala hanif, dan mengakhiri ceritanya, “Hanif, tubuh Bunda, Hanif, Ayah, Kakek, Bibi Nisa, Kak Fauzan, Teteh Atikah dan Dede Hafidz, dan semua orang di dunia ini sangat hebat. Karena tubuh manusia diciptakan oleh Allah Yang Mahacerdas, Mahapintar, dan Mahahebat. Maka, Hanif rajin belajar, dan berdoa, ya, supaya Hanif diberi kecerdasan oleh Allah.”

Teknologi Informasi
Mengacaukan Jadwal Penerbangan

Sejumlah virus yang menyerang dan menyebabkan sakit pada manusia. Sistem kekebalan tubuh manusia mampu membuat zat antibodi yang mampu mengenali sebagian atau keseluruhan badan virus (= disebut sebagai marker atau tanda pengenal). Tanda pengenal pada virus inilah yang digunakan sistem kekebalan tubuh untuk melumpuhkan serangan virus serupa di masa mendatang. Teknologi anti-virus komputer meniru cara kerja sistem kekebalan tubuh manusia ini.

“Virus terkenal Slammer worm (cacing perusak) mematikan penyedia pelayanan internet di Korea Selatan, serta mengacaukan jadwal-jadwal penerbangan...”

Menurut situs Computing Services, the University of Edinburgh, virus komputer adalah sebuah program komputer yang masuk ke dalam komputer Anda tanpa sepengetahuan Anda. Virus memiliki tujuan menimpakan sejumlah kerusakan pada sistem komputer. Dampak dari virus-virus komputer sungguh beragam, dari kerusakan kecil pada data hingga menghapus seluruh isi piranti keras penyimpan informasi atau hard disk komputer. Virus mewujud dalam aneka bentuk. Ada virus yang memainkan suara musik, menampilkan pesan tertentu, bahkan merubah atau menghapus file. Virus komputer dibuat secara sengaja oleh manusia, dan mampu berkembang biak dengan sendirinya. Ketika program virus bekerja, virus menggandakan dirinya sendiri dan memasuki program komputer yang lainnya. Setiap kali program yang telah terserang virus dijalankan, virus tersebut juga ikut terjalankan, dan dengan cara ini, virus pun menyebar luas. Jika sistem komputer Anda terserang sebuah virus komputer, Anda dengan mudah dan tanpa sadar menyebarkan virus tersebut ke komputer lain lewat pemakaian disket ataupun lampiran pada email.

Kantor berita Reuters tanggal 16 Januari 2004 melaporkan berita tentang kerugian akibat serangan virus komputer. Laporan itu mengatakan, perusahaan piranti lunak anti-virus terbesar ketiga di dunia, Trend Micro Inc, menyatakan serangan virus komputer telah menyebabkan kerugian bernilai sangat besar. Kerugian ini diperkirakan mencapai 55 miliar dolar Amerika, atau sekitar 550 triliun rupiah (jika US $ 1,- = Rp. 10,000,-), terhadap bisnis dunia di tahun 2003. Jika uang ini dirupiahkan semuanya menjadi pecahan Rp. 100,000,- dan ditumpuk dari permukaan tanah ke atas, maka tinggi tumpukan uang ini akan melebihi gedung pencakar langit tertinggi di dunia: menara Petronas di Malaysia (berketinggian 452 m).

Menurut perkiraan sejumlah kalangan industri, akibat serangan virus komputer, berbagai perusahaan merugi kurang lebih antara 20-30 miliar dolar Amerika di tahun 2002, dan sekitar 13 miliar dolar Amerika di tahun 2001. Menurut Lionel Phang, seorang direktur di Trend Micro, kerugian ini diperkirakan terus meningkat di tahun 2004.

Di tahun lalu, hampir terdapat satu serangan besar virus komputer setiap bulannya, termasuk virus terkenal Slammer worm (cacing perusak) yang mematikan penyedia pelayanan internet di Korea Selatan, serta mengacaukan jadwal-jadwal penerbangan. Antara Januari hingga Juni 2003 saja, jumlah serangan virus komputer melebihi 70,000. Ini dua kali lipat angka pada tahun 2002 dalam rentang waktu yang sama.

Virus terkenal Slammer worm (cacing perusak) mematikan penyedia pelayanan internet di Korea Selatan, serta mengacaukan jadwal-jadwal penerbangan.

Kini jelas bahwa virus merupakan ancaman berbahaya terhadap sistem komputer. Karenanya, banyak perusahaan meyakini perlunya mengembangkan ‘sistem kekebalan’ sebagai pertahanan melawan virus komputer ini. Salah satu pengkajian di bidang ini telah dilakukan di laboratorium karantina virus, Pusat Penelitian Watson milik IBM. Ilham di balik ini adalah sistem kekebalan pada tubuh manusia. Steve White, salah satu pejabat penting perusahaan itu, menyatakan:

Hanya keberadaan sebuah sistem kekebalanlah yang menyebabkan ras manusia tetap ada. Hanya sebuah sistem kekebalan di dunia maya yang akan membuatnya tetap ada. (Kurt Kleiner, “The Internet Strikes Back,” New Scientist, 24 Mei 1997)

Virus komputer mempunyai masa hidup semu. Sebagaimana virus-hidup di alam, virus komputer memanfaatkan sistem di tempat mereka berada untuk memperbanyak diri. Berdasarkan hal ini, para peneliti mulai mempelajari bagaimana sistem kekebalan tubuh manusia melindungi tubuh: Ketika tubuh mengenali keberadaan organisme asing, tubuh segera membentuk zat kekebalan atau antibodi untuk mengenali dan melumpuhkan sang penyusup. Dengan cara ini, tubuh melumpuhkan serangan virus awal. Untuk dapat betindak lebih cepat terhadap kejadian serupa di masa mendatang, tubuh menyimpan sebagian antibodi ini untuk berjaga-jaga.

Virus komputer juga mempunyai penanda yang memungkinkan pemrogramnya dapat dikenali. Setiap kali bertemu penanda semacam ini, program pelacak virus pada komputer mengirimkan peringatan bahwa ada virus dalam komputer. Dengan kata lain, program anti-virus mempunyai antibodi yang mengenali bagian penanda virus, jikalau bukan keseluruhan virusnya.

Lagi-lagi, contoh ini menunjukkan bahwa pemecahan atas masalah yang tak dapat diselesaikan manusia di bidang teknologi, ternyata ditemukan di alam, bahkan di dalam tubuh kita sendiri. Ini karena Allah, yang telah menciptakan manusia dan seluruh alam, memiliki pengetahuan dan hikmah yang tak terbatas.

Sejarah
PERANG YANG MENGGEMBIRAKAN
(Ada Apa dengan Perang Dunia? – bagian ke-4)

Korban perang yang sia-sia

Sebelum Perang Dunia, banyak orang berpikir bahwa perang seperti ini akan sangat bermanfaat, dan bahkan diperlukan. Banyak orang yang menyambut perang dan sangat gembira ketika perang diumumkan. Para pemimpin dengan bangga mengirimkan serdadu mereka ke medan peperangan. Penyebab utama kesalahan besar ini adalah keyakinan mereka akan sebuah gagasan, yaitu ajaran Darwin (Darwinisme). Ahli sejarah Amerika, Thomas Knapp dari Loyola University menjelaskan hal ini sebagai berikut:

Perang itu sendiri bukanlah hal yang mengejutkan. Perang sebenarnya sudah diperkirakan oleh kalangan Eropa secara luas sekitar sepuluh tahun sebelum 1914. Bahkan ada cukup bukti untuk menunjukkan bahwa sejumlah orang Eropa dari berbagai pihak menyambut datangnya perang. Perang dianggap menyucikan, menggairahkan, membuat muda kembali. Sistem pendidikan di sebagian besar negara Eropa telah dirasuki oleh semacam sikap mental bersaing dari paham Darwinisme Sosial, di mana perang dilihat sebagai hal yang menyemangati dan memuliakan.

Darwinisme Sosial adalah penerapan teori evolusi Darwin dalam masyarakat manusia. Dalam teorinya, yang kemudian terbukti keliru, Darwin menyatakan bahwa semua makhluk di alam terlibat dalam pertarungan untuk bertahan hidup. Dia menyatakan bahwa manusia adalah bentuk lanjutan dari hewan yang memenangkan pertikaian. Teori keliru ini, yang tampak seolah kenyataan ilmiah bagi banyak orang, mengingat rendahnya tingkat teknologi di kala itu, menjadi dasar bagi Perang Dunia I serta bagi sejumlah bencana kemanusiaan lainnya.

Catatan harian dan surat-menyurat pribadi para pemimpin Eropa masa itu menunjukkan bahwa mereka terpengaruh oleh Darwinisme Sosial. Para pemimpin ini mengingkari jalan akhlak yang didasarkan pada kasih sayang dan cinta yang Allah wahyukan kepada manusia, dan lebih memilih Darwinisme Sosial. Sebagai contoh, Jenderal von Hoetzendorff, kepala staf Austria-Hungaria menulis dalam kenangan setelah perangnya:

Agama, ajaran akhlak dan pandangan filsafat yang penuh kasih, terkadang mampu melemahkan perjuangan manusia untuk bertahan hidup dalam bentuknya yang paling kasar, namun takkan pernah berhasil menghilangkannya sebagai sumber penggerak dunia… Sesuai dengan prinsip besar inilah bencana perang dunia terjadi sebagai akibat kekuatan penggerak dalam kehidupan negara dan masyarakat, bagaikan badai yang secara alamiah harus melepaskan energinya sendiri. (James Joll, Europe Since 1870: An International History, Penguin Books, Middlesex, 1990, hal. 164)

Dengan teorinya yang memberikan pembenaran ilmiah terhadap perang, pertikaian dan perjuangan demi bertahan hidup, Charles Darwin meletakkan dasar berpijak bagi perang dunia.

Friedrich von Bernhardi, jenderal Perang Dunia I lainnya, juga menarik garis penghubung antara perang dengan apa yang disebut sebagai hukum alam evolusi:

Perang adalah kebutuhan makhluk hidup. Perang sama pentingnya dengan pertarungan unsur-unsur alam; perang memberikan keputusan yang menurut ilmu kehidupan adalah adil, karena keputusannya berpijak pada sifat paling mendasar dari segala sesuatu. (M. F. Ashley-Montagu, Man in Process, World. Pub. Co., New York, 1961, hal. 76, 77)

Kesimpulannya, Perang Dunia I disebabkan oleh para penguasa Eropa yang percaya bahwa peperangan, pertumpahan darah, penderitaan, dan membuat orang lain menderita, semuanya adalah bagian dari “hukum alam.” Teori evolusi Darwin-lah yang telah mendorong seluruh generasi ke dalam keyakinan yang keliru ini. Gambaran sosok Darwin yang gelap bersembunyi di balik tirai peperangan. Namun, berlawanan dengan pernyataan Darwin, manusia bukanlah hewan yang bertahan hidup dengan tujuan berperang satu sama lain. Di dalam Al Quran, Allah menyatakan hal berikut tentang orang yang memulai perang:

…Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya. Dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. (QS. Al Maa-idah, 5:64)
Allah menciptakan manusia, memberi mereka ruh yang khas dibanding makhluk hidup lainnya, dan memerintahkan mereka untuk menjalani hidup berakhlak. Jalan hidup seperti ini membutuhkan cinta, rasa persaudaraan, belas-kasih, dan perdamaian. Hanya jika manusia mematuhi perintah inilah, dunia dapat menjadi tempat yang damai. Perintah ilahi yang akan membawa kedamaian dan keselamatan kepada seluruh umat manusia dinyatakan di dalam Al Quran sebagai berikut:

… dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al-Qashash: 77) (bersambung)

Tafakur
AL QUDDUUS, MAHASUCI

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. Al Jumu’ah, 62:1)

Allah-lah satu-satunya pencipta segala yang ada di bumi, di langit, di segenap penjuru ruang angkasa dan di dalam tanah. Keteraturan, hukum, dan keselarasan yang dapat kita saksikan hanya dengan melihat sekeliling kita, semuanya adalah kepunyaan-Nya. Dunia yang tidak mampu kita lihat atau rasakan juga ada dalam genggaman-Nya. Sebagaimana dinyatakan Al Qur’an:

"Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun". (QS. Faathir, 35 :41)

Dia-lah Tuhan kita yang menciptakan dan memelihara segala sesuatu. Manusia, sebagai hamba Allah, sungguh lemah. Ia berbuat kesalahan, lupa, terperdaya dan terlena. Secara jiwa dan raga, manusia adalah makhluk lemah. Sepanjang hidup, ia harus merawat tubuh dan terus menerus menjaganya dengan sungguh-sungguh. Bila ia mempekerjakan tubuhnya sedikit terlalu berat, beberapa hari tanpa tidur, atau tidak minum seharian, tubuhnya akan menjadi sangat lemah.

Semua ini diciptakan agar manusia berpikir dan mengambil pelajaran darinya. Allah, Pencipta segala sesuatu dan "Pemilik nama-nama yang paling indah", terjaga dari semua ketidaksempurnaan ini. Mahasuci Allah Tuhan yang tiada sekutu bagi-Nya.