Editorial
Menyingkap Kabut, Menatap Singgasana
Setiap
manusia terlahir ke bumi tanpa tahu siapa dirinya, dan siapa pula
bumi yang dihuninya, apalagi jagat raya mahaluas yang melingkupinya.
Jagat raya berisi sekitar 300 miliar galaksi. Salah satu dari galaksi
ini adalah Galaksi Bima Sakti, yang terdiri atas sekitar 250 miliar
bintang. Matahari kita hanyalah salah satu dari bermiliar bintang
ini. Begitulah, masih terdapat lebih banyak bintang di jagat raya
daripada butiran pasir di seluruh pantai di bumi, dan Matahari kita
hanyalah salah satu butiran pasir ini. Bumi tempat tinggal kita
tidaklah lebih besar dari sebutir pasir tersebut. Sedangkan manusia,
makhluk kecil penghuni bumi, ia bukanlah apa-apa di dalam jagat
raya mahaluas ini.
Dari segi ukurannya, manusia bak sebutir debu di padang
pasir nan luas, sesuatu yang tak berarti dalam alam semesta tak
bertepi. Dilihat dari kekuatannya, manusia pun makhluk yang teramat
lemah, jauh lebih lemah dari kekuatan alam ini. Dari virus tak kasat
mata yang mampu menjadikannya sakit tak berdaya; hingga hujan, gunung
dan gempa bumi yang dapat melenyapkannya dari muka bumi. Begitulah,
kehidupan manusia seolah tak berarti jika dilihat dari ukuran dan
kekuatannya, dibandingkan dengan ukuran alam semesta dan kedahsyatan
peristiwa alam. Namun, benarkah hidup manusia tanpa arti? Jika makna
hidup memang tiada, mengapa manusia perlu ada? Jika mata yang melihat
pemandangan, telinga yang mendengar suara, lidah yang mengecap rasa,
dan kulit yang meraba benda ini tidak memiliki makna apa pun, lalu
untuk apa semua ini ada? Mengapa manusia mesti hidup di muka bumi
jikalau pada akhirnya semua mereka kan pasti sirna, terhempaskan
oleh penyakit mematikan, usia senja, kecelakaan, gempa bumi, letusan
gunung, serta dahsyatnya kekuatan alam lainnya yang menerpa mereka?
Mengapa manusia mesti hadir di dunia, mengapa mereka mesti hidup,
menderita, tertawa, bahagia, dan akhirnya harus mati...??? Apakah
semua ini ada artinya ???

Dari segi ukurannya, manusia bak sebutir debu di padang pasir
nan luas, sesuatu yang tak berarti dalam alam semesta tak bertepi...
|
Benar, semua ini nyaris tanpa arti jika kita pahami
sebatas pada ukuran dan kekuatan manusia, sebab banyak makhluk atau
benda di alam ini yang jauh lebih berarti, jauh lebih besar dan
jauh lebih dahsyat dari manusia. Namun sesuatu telah memiliki arti
karena keberadaannya, sebab untuk apa menanyakan makna atau arti
sesuatu yang tidak pernah ada? Ketika arti keberadaan sesuatu telah
kita pahami, maka ukuran, kekuatan, kedahsyatan dan segala ciri
yang lain pun akan tampak bermakna di hadapan kita. Begitulah, keberadaan
manusia memunculkan makna keberadaan serta kehidupan manusia itu
sendiri. Sebagaimana keberadaan alam semesta beserta segala isi
dan kedahsyatannya yang pastilah mendorong kita juga bertanya akan
arti keberadaannya.
Yang pasti, kesempurnaan dan kehebatan seluruh makhluk
hidup dan tak hidup di alam ini mengatakan kepada akal dan hati
nurani manusia akan satu hal: semua mereka diciptakan dengan tujuan
yang pasti dan benar. Dan tujuan itu adalah agar manusia yang berakal
dan bernurani ini mampu menyibak misteri alam, termasuk dirinya
sendiri. Menguak kesempurnaan, keajaiban, kehebatan, kekuatan, dan
kedahsyatan fenomena alam hingga terpampang di pelupuk matanya suatu
kebenaran yang pasti, yakni bahwa semua ini ada karena diciptakan
dengan makna dan tujuan yang pasti; hingga tersingkaplah kabut kebodohan
dan kejumudan yang selama ini menutup mata hatinya, sehingga ia
dengan jelas mampu menatap keberadaan singgasana sang Pencipta.
Dialah Allah, Penguasa dan Pemilik Kekuatan di balik keajaiban dan
kedahsyatan fenomena alam ini, yang semuanya diciptakan-Nya agar
manusia mampu mengenal keberadaan dan sifat-sifat-Nya. Lebih dari
itu, alam ini dicipta agar manusia senantiasa mengingat akan keagungan
Pencipta-Nya dan kelemahan dirinya; agar menjadi sarana yang menjadikannya
hamba yang bertaqwa.
Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit
yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka
akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka
apakah kamu tidak bertakwa?” (QS. Al Mu’minuun, 23:84-87)
(cs)
Surat
Pembaca
AGAR LEBIH NYAMAN DIBACA
Isi terlalu sedikit untuk ukuran penerbitan sebulan sekali (isi
ditambah atau frekuensi penerbitan ditambah). Layout diperbaiki
agar lebih nyaman dibaca.
Sholeh
AL Azhar Syifa Budhi,
Kemang, Jakarta.
=========================
DAFTAR ISI
Melihat penampilan awal (di cover buletin) yang berwarna-warni,
tentunya akan berisi sesuatu yang menarik, ternyata benar. Alhamdulillah,
segala puji bagi Allah yang memberikan kesempatan terbitnya majalah
ini. Isi yang padat dan berkualitas dengan judul yang menarik menuntun
pembaca untuk menyelami lebih dalam isi dari judul tersebut. Topik-topik
kontemporer yang perlu diketahui pembaca masa kini semoga dapat
membuka dan menjadi sarana penambah keimanan bagi pembaca sekalian.
Selamat atas terbitnya bulletin ini, semoga semakin menarik dan
banyak pembacanya. Terima kasih kepada tim redaksi dan penerbit
semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik. Usulan: Ada daftar
isi di halaman kedua dari buletin ini.
Dr Santoso S
Staf pengajar program ekstensi Fisika,
FMIPA Universitas Indonesia,
Depok.
=========================
TEROBOSAN BARU
Sebuah terobosan baru dalam membantu pencerahan intelektual, khususnya
SDM Muslim. Sudah saatnya umat Islam membangun kembali kejayaannya,
sebagaimana pernah dilakukan pada masa lalu. Kata kuncinya dengan
menguatkan penguasaan “ayat kauliyah” dan “ayat
kauniyah” dan ini telah dilakukan oleh INSIGHT.
Sukses Selalu.
B.S. Wibowo, SKM. MARS,
Direktur LMT TRUSTCO,
Jakarta.
=========================
TAMBAH JUMLAH HALAMAN
Alhamdulillah, telah terbit majalah ilmiah populer berbahasa Indonesia
di tengah sikon yang tidak menguntungkan saat ini, baik kondisi
perekonomian maupun politik yang amburadul. Semoga terbitan perdana
ini diikuti terbitan-terbitan selanjutnya.
Beberapa saran dari saya; perlu menambah jumlah halaman semoga isinya
tidak hanya terjemahan karya Harun Yahya tapi juga tulisan saintis
Indonesia.
Dr Mufti P Patria,
Jurusan Biologi FMIPA UI,
Depok.
=========================
PEMIKIRAN DARWIN
Assalamualaikum wr wb.
Semoga datangnya surat ini, Anda masih dalam perlindungan Allah
SWT ada satu hal yang ingin saya tanyakan, yaitu pada bahasan utama
edisi perdana lalu, Anda banyak menunjukkan kelemahan-kelemahan
dari pemikiran Darwin, tetapi mengapa pada bagian tentang sejarah
singkat hidup Darwin Anda sama sekali tidak menunjukkan timbulnya
pemikiran-pemikiran Darwin tentang evolusi dari petualangan dan
penelitian Darwin tersebut?
Terima kasih, semoga Allah masih memberikan kekuatan pada Anda untuk
tetap istiqomah dalam memperjuangkan kebenaran agama-Nya.
wassalamualakum wr. wb
Ahmad Fitrizal Romadhoni,
Jln. Sunan Giri 15a/1,
Gresik 61161, Jawa Timur
Redaksi: Terima kasih atas kritik dan sarannya. Semoga
di edisi mendatang usulan Anda dapat kami realisasikan.
Dari
Kami
PELAJARAN BERHARGA
Assalamu’alaikum
Wr. Wb.
Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas
segala nikmat-Nya kepada kita. Hadirnya buletin edisi April 2003
ini pun tak luput dari kehendak dan kuasa Allah semata, yang tanpa-Nya
tak mungkin kami dapat hadir di hadapan para pembaca budiman sekalian.
Pertama-tama, kami haturkan banyak terima kasih atas segala kritik,
saran, dan masukan dari para pembaca terhadap buletin edisi perdana
kami. Kami berdoa semoga amal baik para pembaca ini diberi balasan
yang lebih baik oleh Allah, dan kami pun dapat semakin memperbaiki
kualitas buletin ini sebaik-baiknya.
Pembaca budiman, termasuk nikmat Allah yang sungguh tak terkira
adalah kesehatan dan waktu luang, yang dengannya para pembaca kini
dapat kembali menikmati buletin ini. Kesibukan keseharian seringkali
menyita waktu kita, sehingga tak lagi menyisakan kesempatan untuk
merenung akan segala peristiwa dan fenomena di sekitar kita. Padahal,
kalau kita memikirkan secara mendalam dengan hati nurani yang terbuka,
akan kita dapati banyak pelajaran berharga dan pengetahuan (=insight)
dari sedikit fenomena alam atau peristiwa keseharian yang kita alami
dan saksikan. Di antara pelajaran berharga ini adalah pemahaman
akan kekuasaan dan kekuatan Allah, dan kelemahan diri manusia di
hadapan Sang Khaliq. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat
lagi Mahaperkasa.” (QS. Al Hajj, 22:74)
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Redaksi
Bahasan
Utama - 1
DI BALIK KOKOHNYA GUNUNG
Ketika
berbicara tentang gunung, banyak hal akan terlintas dalam benak
kita, di antaranya gunung api yang meletus dengan dahsyatnya. Kekuatan
letusan gunung berapi mampu menimbulkan gempa hebat, gelombang tsunami,
maupun muntahan lahar yang meluluhlantakkan apa pun yang diterpanya...
Namun, apakah ini berarti bahwa ketiadaan gunung akan menghilangkan
bencana alam yang kerap kali menelan korban jiwa ini, dan menjadikannya
lebih aman untuk dihuni? Fakta menunjukkan sebaliknya. Bumi yang
rata akibat ketiadaan gunung ternyata justru akan menghancurkan
segala yang ada.
Kerak bumi adalah lapisan permukaan tempat kita sehari-hari
berjalan dan membangun rumah dengan aman. Tetapi, kerak bumi ternyata
tidak diam alias bergerak di atas suatu lapisan lain yang dinamakan
mantle (jaket), yang lebih padat dari kerak bumi. Jika tidak ada
perangkat yang mengendalikan pergerakan kerak bumi ini, maka goncangan
dan gempa terus-menerus akan terjadi di bumi, yang tentu menjadikannya
tempat yang benar-benar tak dapat dihuni. Namun, keberadaan gunung-gunung
dan struktur perpanjangannya yang menghujam jauh ke dalam bumi berperan
besar mengurangi pergerakan lapisan di bawah permukaan tanah, sehingga
mencegah atau memperkecil goncangan yang diakibatkannya.

Proses pembentukan gunung akibat tumbukan lempengan-lempengan
kerak bumi. |
Gunung-gunung di bumi terbentuk akibat pergerakan dan
tubrukan antar-lempengan raksasa yang membentuk lapisan kerak bumi
(lihat gambar). Ketika dua lempengan saling bertubrukan, salah satunya
biasanya akan menerobos di bawah lempengan yang kedua. Lempengan
kedua yang berada bagian atas terdorong ke atas sehingga membentuk
punggung gunung. Pada saat bersamaan, lempengan yang berada di bawah
terus menembus, menghujam ke bawah, dan membentuk perpanjangan yang
jauh ke dalam bumi. Ini berarti gunung memiliki semacam akar berupa
perpanjangan yang menancap dan menghujam ke dalam bumi. Bagian ini
sama besarnya dengan punggung gunung yang tampak menjulang tinggi
di atas permukaan bumi. Dengan kata lain, gunung tertancap dan mengakar
kokoh pada bagian kerak bumi yang disebut mantle (jaket).
Jadi, gunung mencengkeram lempengan-lempengan bumi
dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi. Dengan demikian
gunung menembus dan menancap pada tempat bertemunya lempengan-lempengan
tersebut. Dengan cara ini, gunung mencegah kerak bumi bergerak atau
bergeser secara terus-menerus di atas lapisan magma atau di antara
lapisan-lapisannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung sebagaimana
paku atau pasak yang menancap dan mencengkeram lembaran-lembaran
papan kayu dengan erat dan kokoh. Kerak bumi yang bersifat mudah
bergerak ini diredam oleh gunung, sehingga mampu mencegah guncangan
hingga batas tertentu.
Gunung
yang tampak kokoh perkasa juga memiliki peran lain dalam menjaga
keseimbangan di bumi, terutama dalam penyebaran panas. Perbedaan
suhu antara khatulistiwa dan wilayah kutub bumi adalah sekitar 100oC.
Jika perbedaan suhu tersebut terjadi di permukaan bumi yang rata,
maka ini akan memunculkan aliran udara berupa badai angin sangat
kencang berkecepatan hingga 1000 km (621 mil) per jam yang akan
menghancurkan bumi. Namun, permukaan bumi yang tidak rata mampu
menahan aliran angin kencang yang dimunculkan oleh perbedaan suhu
ini. Jajaran pegunungan bermula dengan gunung Himalaya di Cina,
yang berlanjut dengan gunung Taurus di selatan Turki, dan kemudian
naik ke atas hingga jajaran pegunungan Alpina di Eropa. Jajaran
pegunungan Atlantik dan Samudera Pasifik juga memiliki fungsi yang
sama.
Sebagaimana seluk-beluk dan bagian bumi yang lain,
apa yang ada pada gunung merupakan bagian dari kekuatan, kehebatan
dan kesempurnaan ciptaan Allah. Allah telah menciptakan bumi beserta
seluruh seluk-beluknya dengan sempurna sebagai tempat hidup kita.
Setelah mengetahui sejumlah hal yang mengagumkan ini,
manusia sepatutnya sadar dan mengakui bahwa hal terpenting dalam
hidupnya adalah kewajiban untuk mengabdi kepada Allah, dan beramal
untuk tujuan yang satu ini. Sebab, manusia senantiasa bergantung
pada nikmat Allah yang tak terhingga, sedangkan Allah, Dia Mahakaya
dan tidak memerlukan sesuatu pun. Inilah kebenaran terpenting yang
hendaknya didapatkan dan dipahami oleh manusia di balik dahsyatnya
kekuatan alam, sebagaimana yang ada pada gunung.
Bahasan
Utama - 2
SISTEM YANG SEMPURNA: PEMBEKUAN DARAH

sel-sel darah merah |
Peradaban manusia telah berusia ribuan tahun, dan selama itu pula
pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi manusia berhasil menyingkap
rahasia alam semesta dan menghasilkan berbagai teknologi. Namun,
apa yang dihasilkan manusia ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan
kehebatan dan kesempurnaan teknologi di alam.
Kekuatan teknologi dan peradaban manusia – yang merupakan
simbol kekuatan, kecerdasan, kehebatan dan kedigdayaan mereka –
dengan mudah terhempaskan oleh kekuatan alam seperti bencana gunung
berapi, banjir, angin tornado, gempa bumi. Bahkan manusianya pun
mudah dibuat lunglai tak berdaya, bahkan tak bernyawa, akibat serangan
organisme yang tampaknya jauh lebih lemah dari dirinya, seperti
virus, bakteri, jamur, dan sebagainya.
Demikianlah, ini berarti keberadaan serta keberlangsungan alam
ini beserta seluruh isinya, termasuk tumbuhan, hewan dan manusia
itu sendiri, tercipta dengan kecerdasan, kekuatan dan kekuasaan
yang jauh lebih hebat dari manusia maupun makhluk lainnya. Inilah
kekuasaan dan kekuatan Pencipta dalam mencipta dan berkehendak atas
segala sesuatu, yang tak dapat dihadang oleh siapa pun, termasuk
manusia itu sendiri. Seluruh seluk-beluk isi alam ini, termasuk
tubuh manusia sendiri, telah dirancang dengan sengaja dan secara
sempurna. Satu bagian kecil saja dari keseluruhan sistem yang mengatur
tubuh manusia ini tidak berfungsi, maka ini akan membahayakan hidupnya.
Di antara ratusan, atau bahkan ribuan, sistem yang ada pada tubuh
manusia adalah sistem pembekuan darah.
| Darah manusia sekilas tampak
sederhana, cairan biasa berwarna merah. Seolah tak ada yang
istimewa dari darah, dan seseorang mungkin berpikir bawah darah
terbuat dari cairan biasa yang diberi pewarna merah. Namun fakta
bahwa manusia akan sakit, bahkan mati, ketika kekurangan darah
atau menderita kelainan darah menunjukkan bahwa darah bukanlah
cairan biasa. Keseluruhan darah manusia yang berwarna merah
terdiri atas bagian cair dan bagian padat yang terlarut atau
tercampur dengan bagian cair tersebut. Bagian yang padat ini
terdiri atas sel-sel darah merah, sel-sel darah putih, dan platelet.
Hemoglobin yang terdapat pada sel-sel darah merah yang melimpah
inilah yang memberikan warna merah pada darah. Bagian yang cair
merupakan larutan yang terdiri atas air, asam amino, protein,
karbohidrat, lemak, vitamin, hormon, elektrolit, dan sisa-sisa
metabolisme sel. Seluruh campuran yang ada pada darah ini harus
ada dalam keadaan seimbang, dalam jumlah yang sesuai keperluan
tubuh, dan seluruh bagiannya harus berfungsi secara sempurna,
termasuk sistem pembekuan darah. Ini semua telah diciptakan
secara sempurna oleh Allah agar manusia dapat hidup dengan baik.
|
Setiap orang mengetahui bahwa pendarahan pada akhirnya akan berhenti
ketika terjadi luka atau terdapat luka lama yang mengeluarkan darah
kembali. Saat pendarahan berlangsung, gumpalan darah beku akan segera
terbentuk dan mengeras, dan luka pun pulih seketika. Sebuah kejadian
yang mungkin tampak sederhana dan biasa saja di mata Anda, tapi
tidak bagi para ahli biokimia. Penelitian mereka menunjukkan, peristiwa
ini terjadi akibat bekerjanya sebuah sistem yang sangat rumit. Hilangnya
satu bagian saja yang membentuk sistem ini, atau kerusakan sekecil
apa pun padanya, akan menjadikan keseluruhan proses tidak berfungsi.
Darah harus membeku pada waktu dan tempat yang tepat, dan ketika
keadaannya telah pulih seperti sediakala, darah beku tersebut harus
lenyap. Sistem ini bekerja tanpa kesalahan sedikit pun hingga bagian-bagiannya
yang terkecil.
Jika terjadi pendarahan, pembekuan darah harus segera terjadi demi
mencegah kematian. Di samping itu, darah beku tersebut harus menutupi
keseluruhan luka, dan yang lebih penting lagi, harus terbentuk tepat
hanya pada lapisan paling atas yang menutupi luka. Jika pembekuan
darah tidak terjadi pada saat dan tempat yang tepat, maka keseluruhan
darah pada makhluk tersebut akan membeku dan berakibat pada kematian.
Keping darah atau trombosit, yang merupakan unsur berukuran paling
kecil penyusun sumsum tulang, sangat berperan dalam proses pembekuan
darah. Protein bernama faktor Von Willebrand terus-menerus mengalir
dan berlalu-lalang ke seluruh penjuru aliran darah. Protein ini
berpatroli, dengan kata lain bertugas memastikan bahwa tidak ada
luka yang terlewatkan oleh trombosit. Trombosit yang terjerat di
tempat terjadinya luka mengeluarkan suatu zat yang dapat mengumpulkan
trombosit-trombosit lain di tempat tersebut. Sel-sel trombosit ini
kemudian memperkuat luka yang terbuka tersebut. Trombosit lalu mati
setelah melakukan tugas menemukan tempat luka. Pengorbanannya hanyalah
satu bagian dari keseluruhan sistem pembekuan dalam darah.
Trombin adalah protein lain yang membantu pembekuan darah. Zat
ini dihasilkan hanya di tempat yang terluka, dan dalam jumlah yang
tidak boleh lebih atau kurang dari keperluan. Selain itu, produksi
trombin harus dimulai dan berakhir tepat pada saat yang diperlukan.
Dalam tubuh terdapat lebih dari dua puluh zat kimia yang disebut
enzim yang berperan dalam pembentukan trombin. Enzim ini dapat merangsang
ataupun bekerja sebaliknya, yakni menghambat pembentukan trombin.
Proses ini terjadi melalui pengawasan yang cukup ketat sehingga
trombin hanya terbentuk saat benar-benar terjadi luka pada jaringan
tubuh. Segera setelah enzim-enzim pembantu proses pembekuan darah
tersebut mencapai jumlah yang cukup, kumpulan protein yang disebut
fibrinogen terbentuk. Dalam waktu singkat, terbentuklah benang-benang
yang saling bertautan, saling beranyaman dan membentuk jaring pada
tempat keluarnya darah. Sementara itu, trombosit atau keping-keping
darah yang sedang berpatroli tanpa henti, terperangkap dalam jaring
dan mengumpul di tempat yang sama. Apa yang disebut dengan gumpalan
darah beku adalah penyumbat luka yang terbentuk akibat berkumpulnya
keping darah yang terperangkap ini. Ketika luka telah sembuh sama
sekali, gumpalan tersebut akan hilang.
 |
 |
MEKANISME PENUTUPAN LUKA:
Ketika luka pada tubuh mulai mengeluarkan darah, sebuah enzime
yang disebut tromboplastin yang dihasilkan sel-sel jaringan
yang terluka bereaksi dengan kalsium dan protrombin di dalam
darah. Akibat reaksi kimia, jalinan benang-benang yang dihasilkan
membentuk lapisan pelindung, yang kemudian mengeras. Lapisan
sel-sel paling atas akhirnya mati, dan mengalami penandukan
sehingga membentuk keropeng. Di bawah keropeng ini, atau lapisan
pelindung, sel-sel baru sedang dibentuk. Ketika sel-sel yang
rusak telah selesai diperbaharui, keropeng tersebut akan mengelupas
dan jatuh. |
Sistem yang memungkinkan pembentukan darah beku, yang mampu menentukan
sejauh mana proses pembekuan harus terjadi, dan yang dapat memperkuat
serta melarutkan gumpalan darah beku yang telah terbentuk, sudah
pasti memiliki kerumitan luar biasa yang tak mungkin dapat disederhanakan.
Sistem tersebut bekerja tanpa kesalahan sekecil apa pun bahkan hingga
pada bagian-bagiannya yang terkecil sekalipun.
Apa yang terjadi ketika terjadi sedikit gangguan pada sistem pembekuan
darah yang bekerja secara sempurna ini? Misalnya, jika terjadi pembekuan
dalam darah meskipun tidak terjadi luka, atau seandainya gumpalan
darah beku tersebut mudah terlepas dari luka, apa yang akan terjadi?
Hanya ada satu jawaban atas pertanyaan ini: dalam keadaan demikian,
aliran darah ke organ-organ tubuh yang paling penting dan peka terhadap
kerusakan, seperti jantung, otak dan paru-paru, akan tersumbat oleh
gumpalan darah beku, dan kematian pun tak terelakkan.
Ini adalah kenyataan yang menunjukkan kepada kita sekali lagi bahwa
tubuh manusia didesain dengan sempurna tanpa cacat. Sungguh mustahil
menjelaskan sistem pembekuan darah dengan menganggapnya sebagai
peristiwa kebetulan atau “perkembangan bertahap” sebagaimana
pernyataan teori evolusi. Sistem yang dirancang dan diperhitungkan
dengan hati-hati seperti ini adalah bukti kesempurnaan dalam penciptaan
yang tak perlu diperdebatkan lagi. Allah, yang telah menciptakan
dan menempatkan kita di bumi, telah menciptakan tubuh kita beserta
sistem pembekuan darah yang melindungi kita dari banyak peristiwa
luka yang kita alami sepanjang hidup.

Selembar jaringan otot khusus membungkus pembuluh darah. Ketika
otot mengerut, pembuluh darah menyempit dan meningkatkan tekanan
darah. Gambar di sebelah kanan adalah penampang pembuluh yang
menyempit. Inilah sebabnya bagian dalamnya bergelombang (kiri).
Di sekeliling pembuluh darah, terdapat sejumlah urat otot (merah)
dan saraf (biru). |
Selain mengatasi luka yang dapat terlihat, pembekuan darah juga
sangat diperlukan untuk memulihkan kerusakan pada pembuluh darah
kapiler dalam tubuh kita yang terjadi setiap saat. Meski tidak terlihat,
terdapat pendarahan kecil di dalam tubuh secara terus-menerus. Ketika
membenturkan lengan pada pintu atau duduk hingga kepayahan, ratusan
pembuluh darah kapiler pecah. Pendarahan yang kemudian terjadi segera
diatasi oleh sistem pembekuan darah, dan pembuluh kapiler dibentuk
kembali seperti sedia kala. Jika benturan lebih keras terjadi, maka
akan terjadi pendarahan yang lebih parah dalam tubuh dan menimbulkan
luka memar yang umumnya disebut “turning purple” atau
“berubah menjadi ungu”. Seseorang yang sistem pembekuan
darahnya tidak berfungsi dengan baik, misalnya pada penderita hemofilia,
harus menghindari benturan sekecil apa pun. Penderita dengan hemofilia
sangat parah tidak mampu hidup lama. Sebab, pendarahan kecil saja,
misalnya akibat terpeleset dan jatuh, sudah cukup untuk mengakhiri
hidupnya.
Kenyataan sederhana ini sudah sepatutnya mendorong
setiap orang merenungkan keajaiban penciptaan dalam dirinya sendiri
dan bersyukur kepada Allah, yang telah menciptakan tubuhnya dengan
sempurna tanpa kekurangan sedikit pun. Tubuh ini adalah kenikmatan
tersendiri yang Allah karuniakan kepada kita. Kita tidak mampu membuat
satu saja dari keseluruhan sel pembentuk tubuh tersebut. Allah berfirman
kepada manusia: Kami telah menciptakan kamu, maka mengapa kamu tidak
membenarkan (hari berbangkit)? (QS. Al Waaqi’ah, 56:57)
Keajaiban
di Alam
NYAMUK-NYAMUK ‘NAKAL’
Nyamuk, hewan kecil itu memang nakal karena selalu mengganggu manusia
yang terlelap tidur di malam hari. Namun adakah yang pernah berpikir
bahwa ternyata seekor makhluk kecil yang seringkali merepotkan manusia
itu merupakan suatu contoh akan kesempurnaan desain dalam penciptaan?
Sejak ia bertelur, nyamuk sudah menunjukkan kehebatannya. Dia dengan
sendirinya bertelur dalam jumlah ratusan butir yang kesemuanya menyatu
hingga menyerupai bentuk sampan. Sampan, karena memang telur tersebut
diletakkan di atas permukaan air dan harus dapat mengapung. Seandainya
ia bertelur satu persatu, tentunya telur itu akan tenggelam oleh
riak air yang kecil sekalipun.
Tentu kita semua tahu, sang nyamuk mengawali kehidupannya dengan
hidup di bawah permukaan air. Untuk bernapas ia menggunakan alat
menyerupai pipa “snorkel” (biasa digunakan penyelam)
yang berada di ujung tubuhnya. Dengan demikian ia dapat menghirup
udara di atas permukaan air dan terus melangsungkan siklus hidupnya.
Namun tantangan yang dihadapi belum berhenti. Untuk keluar dari
air lalu terbang, juga memerlukan usaha yang tidak mudah, karena
bila saja tubuhnya basah, maka ia tidak akan dapat terbang! Bayangkan,
ternyata di ujung kakinya terdapat suatu senyawa kimia yang mampu
meningkatkan tegangan permukaan air. Sehingga ketika keluar dari
kepompongnya dan berdiri di atas permukaan air dengan kaki-kakinya,
ia tidak terperosok dan tidak tenggelam.
Tidak sampai di situ. Agar nyamuk betina dapat menghisap darah,
ia harus mampu mengenali lokasi pembuluh darah manusia di kegelapan
malam. Untuk ini ia telah dilengkapi dengan sistem pengindraan inframerah
yang mampu menemukan lokasi pembuluh darah berdasarkan suhu tubuh.

BAGAIMANA NYAMUK MENGINDRA DUNIA LUAR?
Nyamuk dilengkapi alat pengindra panas teramat peka. Nyamuk
mampu mengindra benda-benda di sekelilingnya dalam berbagai
warna yang ditentukan oleh panas yang dipancarkan benda-benda,
sebagaimana tampak pada gambar. Karena penglihatannya tidak
bergantung pada adanya cahaya, nyamuk sangat mudah menemukan
pembuluh darah di kegelapan. Alat pengindra panasnya cukup peka
untuk mengenali perbedaan panas sekecil seperseribu derajat
Celcius. Sebagai pembanding, gambar di kiri bawah adalah penglihatan
manusia. |
Untuk bisa menembus kulit manusia sehingga mudah dalam menyedot
darahnya, ia juga memiliki organ khusus yang disiapkan oleh Penciptanya.
Organ itu berfungsi layaknya gergaji yang menggergaji kulit kita
sehingga sobek. Sebab kulit manusia bagaikan kulit kayu yang tebal
dan keras bagi nyamuk, hewan berukuran teramat kecil dibanding tubuh
manusia. Juga, agar darah yang keluar tidak membeku, maka nyamuk
juga telah menggunakan suatu enzim yang mencegah pembekuan darah.
Perhatikan, walau si kecil nyamuk tampak demikian jenius, namun
ia tetaplah seekor nyamuk yang tak dapat berpikir untuk memperbaiki
kualitas hidup. Ia tetaplah bukan profesor kimia maupun fisika atau
bahkan dokter spesialis tranfusi darah sebelum ia dapat melakukan
“tugasnya” keluar dari air untuk terbang dan menghisap
darah manusia. Ia tetaplah seekor makhluk kecil yang diciptakan
oleh Dzat Yang Maha Pencipta sebagai perumpamaan bagi kita agar
mau berpikir.
Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan
berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang
yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari
Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah
maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan
itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu
(pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang
disesatkan Allah kecuali orangorang yang fasik (QS. Al Baqarah,
2:26)
Berita Iptek
DINO-BIRD:
MIMPI TERBANG SEEKOR DINOSAURUS

DONGENG PARA EVOLUSIONIS
Dengan berdalih sebagai sesuatu yang ilmiah, evolusionis sering
mengatakan bahwa “dinosaurus kecil memperoleh sayap dan
kemudian menjadi burung.” Akan tetapi, penjelasan mereka
tentang bagaimana perubahan ini terjadi hanyalah sebatas dongeng
belaka. Seperti yang digambarkan oleh evolusionis ini, mereka
mengatakan bahwa dinosaurus yang mengepakkan kaki depannya untuk
berburu serangga secara perlahan dan bertahap “berubah
menjadi bentuk sayap.” Sebagai sebuah khayalan, skenario
ini memunculkan satu pertanyaan menarik: Lalu, bagaimanakah
serangga, yang selain sudah dapat terbang juga memperlihatkan
kehebatan aerodinamis dengan mengepakkan sayapnya 500 kali per
detik secara serempak, dapat memperoleh sayap? |
Beberapa waktu lalu media massa dunia memuat penemuan
baru-baru ini tentang sekumpulan fosil di Cina sebagai bukti yang
mendukung teori evolusi. Beijing’s Institute of Vertebrate
Paleontology and Paleoanthropology mengeluarkan pernyataan bahwa
satu dari keenam fosil dalam kelompok tersebut adalah milik seekor
“Dino-Bird (burung-dino) bersayap empat” (burung-dino
adalah nama makhluk rekaan berbentuk separuh burung separuh dinosaurus,
yang diduga sebagai nenek moyang burung). Lembaga ini juga menyatakan
bahwa makhluk punah ini dapat terbang, atau setidaknya, bergelantungan
di pepohonan. Media masa pendukung Darwinisme sekali lagi melakukan
propagandanya habis-habisan meskipun teori ini sama sekali dan telah
berulang kali dibuktikan keliru.
Nyatanya, sama sekali tidak terdapat bukti yang mendukung propaganda
mereka. Sebab, tidak ada “burung-dino bersayap empat”
(makhluk separuh burung separuh dinosaurus) atau data ilmiah apa
pun yang mendukung teori evolusi burung dari dinosaurus.
Fosil baru: 20 juta tahun lebih muda dari
Archaeopteryx
Archaeopteryx adalah seekor burung yang hidup sekitar 150
juta tahun lalu. Archaeopteryx sangatlah penting karena termasuk
burung tertua yang hingga kini pernah ditemukan. Tak seorang ilmuwan
pun pernah menemukan fosil burung yang berusia lebih tua dari Archaeopteryx
. (Meskipun sebagian kalangan telah mengklaim bahwa fosil Protoavis
berusia 225 juta tahun adalah “burung tertua”, namun
tesis ini tidak diterima secara luas.)
Selain itu, Archaeopteryx tergolong seekor burung sejati,
dengan semua ciri burung yang dimilikinya. Bulu-bulunya yang asimetris
sama dengan burung masa kini, termasuk bentuk sayapnya yang sempurna,
rangka yang ringan dan berongga, tulang dada yang menyangga otot
terbang, serta banyak ciri lainnya yang meyakinkan para ilmuwan
bahwa Archaeopteryx adalah seekor burung sejati yang mampu
terbang sempurna. (selengkapnya, baca karya Harun Yahya; Darwinism
Refuted: How The Theory of Evolution Breaks Down in the Light of
Modern Science, Goodword Books, 2003; www.darwinismrefuted.com,
www.darwinism-watch.com)

(1). BULU YANG ASIMETRIS: Bulu dari semua burung modern adalah
asimetris. Bentuk ini memberikan fungsi aerodinamis bagi burung.
Fakta bahwa bulu Archaeopteryx juga asimetris telah menggugurkan
pendapat evolusionis bahwa burung ini tidak dapat terbang. (2).
FOSIL CONFUCIUSORNIS DAN GAMBAR BURUNGNYA KETIKA MASIH HIDUP:
Confuciusornis, yang fosilnya terlihat di sini, hidup dalam
periode geologis yang sama dengan Archaeopteryx. Berbeda dengan
Archaeopteryx, paruh burung ini tidak bergigi. Penemuan ini
mengungkapkan bahwa Archaeopteryx bukanlah "burung primitif",
melainkan spesies burung yang sebenarnya. (3). CAKAR HOATZIN:
Sejumlah spesies burung yang hidup sekarang memiliki ciri fisik
yang serupa dengan Archaeopteryx. Sebagai contoh, burung hoatzin
juga memiliki struktur mirip cakar pada sayapnya.? |
Akan tetapi, dua ciri Archaeopteryx yang sangat membedakannya
dari burung modern adalah sayapnya yang memiliki cakar, dan gigi
pada paruhnya. Karena dua ciri inilah sejak abad ke-19 para evolusionis
berupaya menampilkan burung ini sebagai “semi reptilia”.
Namun ciri-ciri ini sesungguhnya bukanlah bukti yang menunjukkan
kaitan antara Archaeopteryx dan reptilia. Penelitian menunjukkan
bahwa Hoatzin, spesies burung yang hingga kini masih hidup, juga
memiliki cakar pada sayapnya ketika masih muda. Archaeopteryx
bukan pula satu-satunya “burung bergigi”, sebab spesies
burung lainnya di masa lalu yang ada dalam catatan fosil juga memiliki
gigi, misalnya, Liaoningornis berusia 130 juta tahun juga memiliki
gigi pada paruhnya (“Old Bird,” Discover magazine, March
21, 1997).
Jadi, penjelasan para evolusionis bahwa Archaeopteryx adalah
sejenis “burung primitif” sungguh keliru, dan para ilmuwan
telah menerima bahwa makhluk ini terlihat sangat menyerupai burung
masa kini. Profesor ahli burung terkemuka di dunia asal Kansas University,
Alan Feduccia, menyatakan, “Kebanyakan mereka yang baru-baru
ini mempelajari sifat-sifat anatomis Archaeopteryx, mendapati makhluk
tersebut lebih banyak menyerupai burung daripada yang pernah mereka
sangka sebelumnya,...”. Propaganda para pendukung Darwinisme
telah keliru, dan Feduccia dalam bukunya The Origin and Evolution
of Birds (Yale University Press, 1999, hlm. 81) juga telah menyatakan
bahwa, hingga baru-baru ini, “kemiripan Archaeopteryx
dengan dinosaurus theropoda terlalu dibesar-besarkan.”
Singkatnya, Archaeopteryx adalah burung tertua yang memiliki
ciri-ciri yang sama seperti pada burung-burung modern, termasuk
dalam hal kemampuan terbangnya. Selain itu, Archaeopteryx
berusia sekitar 150 juta tahun.
Permasalahan seputar usia fosil
Archaeopteryx memperlihatkan satu fakta kunci: Burung telah
ada sejak 150 juta tahun lalu. Mereka telah mampu terbang. Jika
para evolusionis ingin mengemukakan sejumlah “nenek moyang
burung,” maka makhluk-makhluk ini haruslah telah hidup sebelum
150 juta tahun lalu.
Satu fakta ini saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa pernyataan
tentang “burung-dino bersayap empat” yang disebarluaskan
ke seluruh dunia sangat tidak berdasar dan tidak benar. Sebab, fosil
yang diketemukan di Cina dan dinamakan Microraptor gui ini –
yang oleh para evolusionis dicoba-tampilkan sebagai “nenek
moyang burung-burung primitif” – hanyalah berusia 130
juta tahun, dengan kata lain 20 juta tahun lebih muda dari burung
yang diketahui paling tua. Jelas, sama sekali tidak masuk akal untuk
menampilkan seekor burung “sebagai nenek moyang burung-burung
primitif” ketika terdapat sejumlah burung yang telah terbang
20 juta tahun sebelum makhluk ini ada.
Microraptor gui
Jadi, apakah makhluk yang dinamakan ’Dinosaurus bersayap
empat’ (Microraptor gui) ini?

Gagasan "dinosaurus menumbuhkan sayap saat berusaha menangkap
serangga yang terbang" bukanlah suatu lelucon, melainkan
sebuah teori yang menurut kaum evolusionis amat ilmiah. Contoh
ini sudah cukup untuk menunjukkan seberapa serius kita harus
menanggapi kaum evolusionis |
Sama halnya, semua fosil “burung-dino” yang dikemukakan
sejak awal tahun 1990-an semuanya diragukan keabsahannya. Salah
satu dari “dinosaurus berbulu” tersebut, yakni Archaeoraptor,
adalah fosil yang dipalsukan. Pengkajian mendalam pada fosil-fosil
burung-dino lainnya menunjukkan bahwa “bulu-bulu” mereka
ternyata serat-serat yang mengandung kolagen di bawah kulit, demikian
dinyatakan dalam majalah Science edisi 14 November 1997. Dalam perkataan
Profesor Feduccia, “Banyak dinosaurus telah ditampilkan sebagai
makhluk yang tertutupi bulu-bulu yang berpola aerodinamis tanpa
disertai bukti apa pun yang mendukungnya.” Dalam bukunya yang
terbit tahun 1999, ia menulis, “Pada akhirnya, tak ada dinosaurus
berbulu yang pernah ditemukan, meskipun banyak bangkai dinosaurus
dengan kulit yang terawetkan dengan baik telah ditemukan di berbagai
tempat.”
Begitulah, ketika mencari jawaban sesungguhnya tentang apa itu
Microraptor gui, kita harus senantiasa ingat akan sikap para evolusionis
yang penuh prasangka dan suka mereka-reka. Makhluk ini mungkin saja
memiliki struktur anatomi yang sangat berbeda dengan gambar-gambar
“rekonstruksi” yang muncul di media masa.
Hal ini juga telah ditengarai oleh Profesor Alan Feduccia. Dalam
sebuah korespondensi baru-baru ini, ia menulis:
“Saya belum yakin bahwa makhluk tersebut bersayap empat;
mungkin saja yang nampak oleh kita adalah bulu-bulu burung yang
sebenarnya tidak pernah ada, dan ini sungguh sulit untuk ditafsirkan.
Ciri-ciri yang menghubungkan hewan ini dengan dromaeosaurus juga
sangat meragukan. Yang pasti, ekornya sangat berbeda dengan dromaeosaurus
yang pernah diketahui, dan cakarnya tidak berbentuk melengkung,
tapi hanya sedikit besar. Juga, bagian pubisnya lebih menyerupai
burung. Mungkin kita tidak sedang menyaksikan dromaeosaurus yang
dapat terbang, akan tetapi sisa-sisa dari unggas di masa awal…
sekitar 20-30 juta tahun jauh sebelum Archaeopteryx.”

Majalah National Geographic menampilkan gambar "burung-dino"
seperti ini di tahun 1999, dan menyajikannya ke seluruh dunia
sebagai bukti evolusi. Dua tahun kemudian diketahui, bahwa sumber
yang mengilhami gambar ini, Archaeoraptor, adalah kebohongan
ilmiah. Situs BBC News juga melaporkan kebohongan ini dalam
artikelnya yang berjudul ‘Piltdown’ bird fake explained
(Pemalsuan burung ‘Piltdown’ terungkap) |
Dan bahkan jika penafsiran tentang Microraptor gui terbukti benar,
teori evolusi takkan mendapat pengukuhan apa pun dari hal ini. Sepanjang
sejarah, puluhan juta spesies telah hidup dalam rentang spektrum
biologis yang sangat lebar, dan banyak dari spesies ini telah punah
seiring perjalanan masa. Sebagaimana mamalia terbang yang ada saat
ini, seperti kelelawar, di zaman dahulu pun terdapat reptil-reptil
bersayap (pterosaurus). Banyak beragam kelompok reptil laut (misalnya
ichthyosaurus) hidup di masa lalu dan kemudian punah. Namun yang
sungguh mengejutkan tentang spektrum yang lebar ini adalah hewan-hewan
dengan ciri dan struktur anatomis berbeda muncul seketika dan dalam
bentuk mereka yang telah lengkap sempurna, dan bukan sebagai turunan
dari bentuk-bentuk nenek moyang yang lebih primitif. Misalnya, kita
saksikan seluruh struktur kompleks burung muncul menjadi ada secara
tiba-tiba pada Archaeopteryx. Tidak terdapat “burung-burung
primitif” bersayap. Tidak ada “penerbangan primitif.”
Keyakinan tentang adanya paru-paru burung primitif juga sungguh
tidak mungkin, sebab paru-paru unggas – yang sangat berbeda
secara struktural dari paru-paru reptilia dan mamalia – memiliki
struktur rumit yang tak tersederhanakan.
Singkatnya, catatan fosil terus saja memperlihatkan kesimpulan
bahwa seluruh makhluk hidup muncul di bumi melalui penciptaan, dan
bukan evolusi akibat pengaruh alamiah. Pernyataan terakhir tentang
burung-dino ini takkan mampu merubah fakta yang ada.
Kisah Al Qur’an
‘Aad, Profil Kaum yang Dikutuk
(Bagian 2 - habis)

Banyak karya bernilai seni dan tugu-tugu yang mengisyaratkan
sebuah peradaban tinggi pernah dibangun di Ubar, seperti yang
dikisahkan dalam Al Qur’an. Kini, yang masih tertisa hanyalah
reruntuhan sebagaimana tampak pada gambar. |
Dalam bukunya, peneliti Inggris, Thomas
menyatakan ia telah menemukan jejak-jejak salah satu kaum “beruntung”
tersebut. Ini adalah kota yang dikenal suku Badui sebagai “Ubar.”
Dalam salah satu perjalanannya menuju daerah tersebut, orang-orang
Badui menunjukkan padanya sebuah jalur perjalanan kuno, yang menurut
mereka mengarah ke kota sangat tua bernama Ubar. Thomas sangat tertarik
dengan hal ini, tapi ia meninggal sebelum menyelesaikan penelitiannya.
Nicholas Clapp mempelajari tulisan Thomas,
dan menjadi percaya pada keberadaan kota hilang yang disebut dalam
buku tersebut. Tanpa membuang waktu, ia memulai penelitiannya sendiri,
dan meminta NASA untuk memotret wilayah tersebut dengan satelit.
Gambar yang diambil dari ruang angkasa menampakkan sejumlah jalur
yang tak terlihat oleh mata ketika di daratan.
Clapp lalu membandingkan gambar-gambar
ini dengan peta kuno, dan memperoleh hasil seperti yang ia harapkan.
Jalur perjalanan pada peta kuno itu sama dengan pada gambar yang
diambil dari ruang angkasa. Titik bertemunya jalur-jalur ini adalah
daerah luas yang diketahui sebagai pemukiman kuno. Nicholas Clapp
pun memulai perjalanannya yang cukup panjang dan penuh petualangan.
Akhirnya, Clapp dan timnya tiba di reruntuhan
bersejarah yang ia harap sebagai kota Ubar. Sejak saat reruntuhannya
ditemukan, diketahui bahwa ini adalah peninggalan Kaum ‘Aad
sebagaimana dikisahkan Al Qur’an, berikut kota Iram yang mereka
bangun.
Clapp juga menggunakan Al Qur’an
selama penyelidikannya. Al Qur’an melukiskan bahwa kota Iram
memiliki tiang-tiang tinggi. Tapi kata “tiang” dalam
bahasa Arab juga berarti “menara.” Dengan kata lain,
ciri yang dilukiskan Al Qur’an adalah kota ini memiliki menara-menara
tinggi.
Sisa-sisa menara tinggi ini terkuak
begitu saja selama penggalian. Berkat bantuan teknologi grafis tiga
dimensi, para ilmuwan mampu merekonstruksinya. Dr. Zarins, anggota
tim yang melaksanakan penggalian, mengatakan menara-menara inilah
yang membedakan kota ini dari temuan arkeologi lain, dan membenarkan
situs tersebut sebagai kota Iram milik Kaum ‘Aad sebagaimana
disebutkan Al Qur’an:
Apakah kamu tidak memperhatikan
bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad? (yaitu) penduduk
Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah
dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, (QS. Al
Fajr, 89:6-8)
Kaum ‘Aad pun telah mendustakan
(pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.
Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat
kencang pada hari nahas yang terus menerus, yang menggelimpangkan
manusia seakan-akan mereka pokok kurma yang tumbang. (QS. Al Qamar,
54:18-20)
Kaum ‘Aad yang jejaknya ditemukan
para arkeolog di kota Ubar, adalah penentang Nabi Hud yang diutus
kepada mereka; akibatnya mereka dibinasakan Allah.

Kiri: letak kota ‘Aad ditemukan melalui foto yang
diambil dari pesawat ruang angkasa. Pada foto tersebut,
tempat bertemunya jejak jalur-jalur kafilah ditandai dengan
panah, dan mengarah ke Ubar. Tengah: kota Ubar, yang hanya
mungkin dilihat melalui ruang angkasa sebelum penggalian
dilakukan (1); sebuah kota yang terpendam dalam pasir berketebalan
12 meter ditemukan setelah penggalian. Kanan: penggalian
situs yang dilakukan di Ubar.
|
Maka tatkala mereka melihat azab itu
berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka:
“Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”.
(Bukan)! bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan
segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih. (QS. Al Ahqaaf,
46:24)

Kini, wilayah yang dulunya didiami kaum ‘Aad, dipenuhi
dengan bukit-bukit pasir. |
Dikisahkan dalam ayat tersebut bagaimana
Kaum ‘Aad melihat awan yang akan mengazab mereka, namun mereka
tak menyadarinya, malah meyakininya sebagai awan hujan. Ini adalah
isyarat penting bentuk penderitaan yang akan segera ditimpakan kepada
mereka: yakni Badai gurun.
Angin puyuh yang bergerak dan menerbangkan
pasir gurun tampak dari kejauhan menyerupai awan hujan. Mungkin
Kaum ‘Aad tertipu oleh penampakan ini sehingga tidak menyadari
bahayanya. Nyatanya, Ubar, sang “Atlantis Gurun Pasir”,
ditemukan di bawah lapisan pasir berketebalan beberapa meter. Sebagaimana
diungkap Al Qur’an, badai tersebut terjadi “tujuh hari
delapan malam,” menimbun kota dengan berton-ton pasir dan
mengubur warganya hidup-hidup. Bukti terpenting yang menunjukkan
Kaum ‘Aad terkubur oleh badai gurun adalah kata “Ahqaaf”
yang digunakan Al Qur’an untuk menggambarkan tempat tinggal
Kaum ‘Aad.
Dan ingatlah (Hud) saudara Kaum ‘Aad
yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf
dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan
sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): “Janganlah
kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan
ditimpa azab hari yang besar”. (QS. Al Ahqaaf, 46:21)

Pekerjaan penggalian yang dilakukan di Ubar, tempat ditemukannya
sisa reruntuhan sebuah kota yang terpendam karena tertimbun
bermeter-meter lapisan pasir. Di wilayah ini, badai pasir ganas
mampu menerbangkan dan mengumpulkan sejumlah besar pasir dalam
waktu singkat. Peristiwa ini dapat berlangsung secara tiba-tiba
dan tanpa diduga. |
“Ahqaaf” dalam bahasa Arab
berarti bukit-bukit pasir. Ini menunjukan Kaum ‘Aad tinggal
di wilayah yang dipenuhi perbukitan pasir, jadi sangat alamiah bila
kota tersebut terkubur oleh badai pasir. Bencana yang menghempaskan
Kaum ‘Aad berupa badai yang “menjadikan manusia mati
bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang
telah kosong (lapuk)” pastilah telah membinasakan seluruh
penduduknya dalam waktu sekejap. Seluruh kota beserta isinya terkubur
hidup-hidup dalam timbunan pasir. Lambat laun gurun pasir merata
setelah penghancuran Kaum ‘Aad, tanpa menyisakan jejak mereka.
Dalam Al Qur’an, Allah memberitakan
Kaum ‘Aad berpaling dari jalan yang lurus karena kesombongannya.
Semua kaum yang baru saja kita kaji melakukan kesalahan yang sama:
Mereka semua mendurhakai Allah. Mereka menyembah Tuhan selain-Nya.
Mereka berjalan di muka bumi dengan sombong tanpa alasan yang benar.
Dan melakukan penyimpangan seksual dan kemaksiatan. Lalu Allah membinasakan
mereka.
Sepanjang sejarah telah banyak kaum
yang dihancurkan karena alasan serupa, dan tidak terbatas pada sedikit
contoh yang kita saksikan di sini. Allah memberitakan kisah nyata
ini dalam Al Qur’an, dan mengajak kita memikirkannya dengan
sungguh-sungguh. Kewajiban kita adalah mengambil pelajaran dari
kehancuran kaum-kaum ini dan menjadikannya sebagai peringatan. Sebuah
ayat Al Qur’an menyatakan:
Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan
diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah
yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka
itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah
lebih besar kekuatan- Nya dari mereka? Dan adalah mereka mengingkari
tanda-tanda (kekuatan) Kami. (QS. Fushshilat, 41:15)
Tafakur
ASY SYAAFI, MAHA MENYEMBUHKAN
"dan apabila aku sakit, Dia-lah
Yang menyembuhkan aku,"
(QS. Asy Syu’araa’, 26:80)
Salah satu
ketidakberdayaan manusia tampak paling jelas di saat ia sakit. Agar
manusia merasakan hal ini, Allah telah menciptakan ratusan jenis
penyakit yang beragam. Setiap penyakit menimpakan penderitaan yang
berbeda pada tubuh dan pikiran seseorang. Namun semuanya itu dirancang
untuk suatu tujuan.
Kecilnya ukuran virus yang tak terlihat mata telanjang menjadikan
seseorang tidak menyadari keberadaannya, dan saat berada dalam tubuh
manusia virus tidak selalu dapat dikenali, ini adalah bukti nyata
kekuasaan Allah. Adanya percobaan dan penelitian oleh para ilmuwan
untuk membasmi satu virus saja membuktikan kehebatan ciptaan Allah
yang tiada tara.
Karena Allah-lah yang menimpakan penyakit ini, maka seseorang dapat
sembuh hanya dengan kehendak-Nya. Bila Allah menghendaki, Dia mampu
menghilangkan penyakit karena Dia-lah Yang Maha Menyembuhkan.
Sebaliknya, bila tidak, tak satu dokter pun di dunia ini dengan
perangkat teknologi tercanggih dan obat terbaru yang mampu menyembuhkan
penyakit seseorang. Semua obat hanyalah sarana untuk membantu kesembuhan
seseorang. Jika Allah mengehendaki, Dia akan menjadikan pengobatan
tersebut sebagai jalan tercapainya kesembuhan. Sebaliknya, penyakit
yang tampaknya tak berbahaya dapat saja menyebabkan kematian, kecuali
Allah berkehendak lain.
Oleh sebab itu, manusia hendaknya membandingkan kelemahannya ini
dengan Keperkasaan Allah dan meminta pertolongan-Nya di saat mengalami
kesulitan. Jangan lupa bahwa kita tidak memiliki penolong dan pelindung
selain Allah.
|